Bahas AI sebagai “Akal Imitasi”, Rektor Undana Lepas 800 Wisudawan Sesi I Berfilosofi Pion Catur
Kupang, TopNewsNTT.Com||Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi mengukuhkan 800 wisudawan Doktor, Magister, dan Sarjana pada sesi pertama Wisuda Periode II Tahun 2026 di Auditorium Undana, Kupang, pada Selasa (30/6/2026). Upacara khidmat ini dihadiri langsung oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., serta jajaran lengkap senat dan kabinet baru wakil rektor Undana yang baru dilantik sehari sebelumnya.
Dalam pidato ilmiahnya, Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., melontarkan pandangan kritis terhadap masifnya penetrasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di dunia kerja global. Di hadapan ratusan lulusan, ia secara sarkas mengistilahkan AI sebagai “akal imitasi” yang tidak boleh sampai menggerus esensi kemanusiaan, logika sehat, serta integritas moral para alumni dalam memecahkan problem sosial.
Filosofi Pion Catur dan Penghargaan Internasional PSM Bella Cantare
Sebagai penutup rangkaian filosofi “Trilogi Catur” kepemimpinannya—setelah sebelumnya membahas simbol raja dan kuda—Prof. Jefri Bale kali ini memilih figur “pion” sebagai refleksi jalan hidup para lulusan baru. Rektor menguraikan tiga karakter dasar pion yang wajib diadopsi: pantang mundur, memaknai setiap langkah kecil dengan kejujuran, serta berani berkorban demi maslahat publik yang lebih besar. Menurutnya, pion yang konsisten melangkah maju pada akhirnya akan mencapai ujung papan dan bertransformasi menjadi bidak yang jauh lebih kuat.
Rapat senat terbuka ini juga diwarnai dengan pemberian apresiasi tinggi atas capaian internasional Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Bella Cantare Undana yang sukses memenangi gelar Winner kategori Mixed Voice serta medali emas kategori Musica Sacra dan Folklore pada ajang Sarawak International Choir Festival and Symposium 2026 di Malaysia.
Namun, atmosfer kebahagiaan tersebut sempat bergeser haru saat Rektor mengajak ribuan hadirin mengheningkan cipta dan mengirimkan doa bersama untuk almarhumah dr. Eliza Priscilla Utami, dokter muda alumnus Kedokteran Undana yang wafat pasca-kasus dugaan intimidasi beberapa waktu lalu, serta dua calon wisudawan lain yang meninggal dunia menjelang hari kelulusan.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, ikut menyuntikkan motivasi dengan mendesak para lulusan agar tidak ragu terhadap kompetensi lokal mereka. Melki menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT bersama sektor perbankan telah menyiapkan program inkubasi wirausaha muda khusus bagi lulusan Undana untuk mengolah potensi pertanian, peternakan, dan ekonomi kreatif di daerah.
“Masa depan kemajuan ekonomi tidak selalu berada di kota besar. Kembalilah ke kampung halaman, bangun desa, dan jadilah agen perubahan yang menggunakan ilmu sebagai terang serta karakter sebagai fondasi,” tegas Gubernur Melki.
Membentengi Angkatan Kerja Daerah dari Ketergantungan Generative AI (So What?)
Wejangan keras Rektor Undana yang melabeli AI sebagai “akal imitasi” di tengah prosesi kelulusan 1.421 total wisudawan periode ini membawa dampak perubahan paradigma yang sangat penting bagi masa depan angkatan kerja di NTT. Saat ini, dunia pendidikan tinggi sedang menghadapi ancaman instan berupa ketergantungan akut mahasiswa terhadap Generative AI untuk menyelesaikan tugas akhir, karya ilmiah, hingga draf pekerjaan.
Jika pola pikir ini terus dibawa hingga lulus, NTT akan menghasilkan surplus sarjana bermentalitas instan yang rapuh, miskin daya analisis kritis, dan tidak adaptif ketika dihadapkan pada realitas lapangan kerja nyata yang memerlukan empati serta penyelesaian konflik interpersonal.
Melalui doktrin filosofi pion dan kritik akal imitasi ini, Undana sedang memasang benteng proteksi kultural agar alumninya tidak tergilas oleh arus otomatisasi digital.
Dampaknya, lulusan Undana dipersiapkan untuk menjadi pemikir independen yang memosisikan AI murni sebagai alat bantu teknis, bukan pengganti otak. Ketika ketangguhan jiwa pion dan akal sehat ini berjalan beriringan, para alumni yang kembali ke desa-desa di NTT akan mampu melahirkan inovasi sosiologis, memperbaiki birokrasi daerah yang koruptif, serta menciptakan lapangan kerja mandiri berbasis kearifan lokal yang tidak akan bisa digantikan oleh algoritma robot secanggih apa pun. (**)
sp.hms.undana.
(Alk)