Tolak Kelulusan Manja Instan, Rektor Undana Kukuhkan 621 Lulusan Sesi II dan Bedah Riset Genomik Malaka
Kupang, TopNewsNTT Com||Universitas Nusa Cendana (Undana) sukses menuntaskan rangkaian Upacara Wisuda Doktor, Magister, dan Sarjana Periode II Juni 2026 dengan menggelar sesi kedua di Grha Cendana, Kupang, pada Selasa (30/6/2026). Dalam prosesi lanjutan yang berlangsung khidmat tersebut, otoritas kampus resmi mengukuhkan sebanyak 621 lulusan baru yang siap dilepas ke masyarakat.
Sesi kedua ini didominasi oleh lulusan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sebanyak 213 orang, disusul Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan 102 lulusan. Selanjutnya, Fakultas Sains dan Teknik (FST) meluluskan 71 orang, Fakultas Hukum (FH) 56 orang, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) 44 orang, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Fakultas Pertanian (Faperta) masing-masing 34 orang. Sementara itu, Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) menyumbang 32 lulusan, Sekolah Pascasarjana 19 lulusan, dan Program Profesi Dokter sebanyak 6 lulusan.
Dari ratusan wisudawan tersebut, empat lulusan meraih predikat terbaik tingkat dekanat, yakni Nadia Ridwan, S.KM. (FKM), Ketrin Fioleti Kukun, S.M. (FEB), Graciela N. Silu Nenobahan, S.T. (FST), dan Jonathan Aziz Husein Geong, S.Ked. (FKKH).
Patahkan Dogma Medis Afrika Melalui Orasi Genomik Lokal
Prosesi wisuda sesi kedua ini berbobot akademis tinggi berkat pemaparan orasi ilmiah mutakhir yang dibawakan oleh Dr. dr. Debora Shinta Liana, Sp.A., Subsp.H.Onk. Dalam orasinya yang bertajuk “Paradoks Besi dan Jejak Genomik di Malaka”, Dr. Debora membedah temuan klinis mengenai tingginya angka anemia pada remaja laki-laki di daerah endemik malaria di Kabupaten Malaka, NTT.
Melalui analisis DNA, riset molekuler ini membuktikan secara ilmiah bahwa populasi asli NTT memiliki variasi genetik unik yang berbeda dari populasi Afrika. Penemuan ini sukses mematahkan dogma medis global “one size fits all” (satu standar untuk semua), sekaligus membuka gerbang paradigma kedokteran presisi yang berbasis pada peta genetik riil masyarakat lokal dalam menentukan strategi kebijakan kesehatan daerah.
Trilogi Bidak Pion Melawan Dominasi “Akal Imitasi”
Di hadapan ratusan wisudawan, Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., kembali menggemakan pesan penutup dari “Trilogi Catur” yang menjadi landasan filosofis kepemimpinannya. Setelah sebelumnya membedah simbol raja dan kuda, Prof. Jefri kini mengajak para lulusan berkaca pada karakteristik bidak catur terkecil, yaitu pion.
Rektor secara tajam membenturkan filosofi pion yang tangguh dengan realitas ketergantungan generasi muda terhadap teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang ia sebut sebagai akal imitasi.
“Belajarlah dari pion. Harus berani berangkat dari bawah, siap menghadapi benturan, dan tidak berjalan secara instan yang manja. Gunakan akal imitasi (AI) itu hanya sebatas alat bantu. Jangan sampai teknologi tersebut menggeser akal sehat, karakter, integritas, serta ketangguhan jiwa yang menjadi penggerak utama saudara,” tegas Prof. Jefri Bale.
Suasana Grha Cendana berubah haru ketika Rektor meminta para wisudawan membalikkan badan dan merenungkan pengorbanan orang tua atau wali yang duduk di barisan belakang. Ia mengingatkan bahwa di balik selembar ijazah yang dirayakan hari ini, ada lutut yang tertekuk, tangan yang terlipat dalam doa, serta keringat pengorbanan yang tak terhitung agar anak-anak mereka mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Memutus Rantai Ketergantungan Formula Impor dan Mentalitas Instan
Kombinasi antara kritik keras Rektor terhadap ketergantungan AI dan pemaparan riset genomik lokal dalam wisuda sesi kedua ini membawa dampak perubahan paradigma yang sangat masif bagi masa depan pembangunan SDM di NTT. Selama ini, banyak sarjana baru di daerah terjebak dalam arus simplifikasi digital; mereka menggunakan AI untuk meniru solusi-solusi generik dari luar tanpa memahami akar masalah di tanah kelahiran mereka sendiri.
Di sisi lain, kebijakan pembangunan di NTT—termasuk sektor kesehatan dan penanganan stunting atau anemia—sering kali gagal karena menduplikasi mentah-mentah formula nasional atau internasional yang tidak cocok dengan karakteristik biologi dan sosiologi lokal.
Melalui momentum kelulusan ini, Undana menegaskan perannya sebagai pencetak pemikir tangguh berkarakter pion. Penemuan variasi genetik unik di Malaka oleh Dr. Debora menjadi bukti nyata bahwa masalah NTT hanya bisa diselesaikan oleh riset presisi berbasis data lokal, bukan oleh “akal imitasi” global.
Dampaknya, 621 lulusan baru ini tidak dilepas sebagai penonton pasif, melainkan sebagai agen perubahan yang mandiri dan adaptif. Mereka didorong untuk turun ke desa-desa di NTT guna menciptakan inovasi yang membumi, memutus rantai ketergantungan pada formula impor, serta membangun daerah menggunakan akal sehat dan ketahanan mental yang tidak dapat diduplikasi oleh mesin.(**)
sp.hms.undana
(Audc)