Sosok Yohanes Sason Helan Di Mata Mama Petronela Roni Raya, :”Suami, Bapak dan Pekerja Keras Yang Fokus, Rajin Dan Berkomitmen Kuat”

Figur

** Mama Petronela Roni Raya, ibu 3 orang, isteri tercinta Mantan GM Kopdit Swastisari,  Yohanes Sason Helan punya pandangan yang sangat positif tentang sosok yang jadi panutan keluarganya itu.

“Bapak Jhon itu, sebagai pemimpin di Kopdit Swastisari dan di depan keluarga adalah figur yang sangat sederhana dan apa adanya. Prinsipnya dalam segala hal jika sudah katakan  a ya a, tidak bisa berbelok. Ia orang yang menjunjung tinggi janji. Kadang kita sebagai isterinya mau begini tapi tidak bisa sama bapak. Tapi selama ini apa yang bapak tetapkan terbukti baik semua hasilnya.” Ujar Guru SMPN 5 Kupang ini tersenyum.

Yohanes Sason Helan, menurut guru ASN ini, hanya kelihatannya saja keras, tapi sebenarnya punya hati yang sangat lembut dan penyayang.

“Terhadap keluarga dan orang lain, bapa selalu berusaha sesibuk apapun ia selalu mendengar keluhan kita. Jika hal yang diusulkan itu baik ia  akan turuti. Bagi saya Bapa Jhon adalah suami yang bertanggungjawab. Bisa kita lihat saja selama 30 tahun bekerja, waktunya banyak untuk pekerjaan, tapi dalam memenuhi kebutuhan kita sebagai keluarga, bapa selalu berusaha memenuhi. Bayangkan selama 30 tahun sibuk sekali. Jujur dengan pensiunnya bapa Jhon ia akan punya banyak waktu untuk kami yang kami sangat syukuri.” Tandas Mama Petronela bersyukur.

Mama Petronela mengisahkan bahwa Bapak Jhon berkarir di Swastisari sejak tahun 1998 saat kantor koperasi masih menyatu dengan Yayasan Swastisari, sebelumnya Yohanes Sason Helan bekerja sebagai tenaga TKSD di Rote selama 3 tahun dan juga melakukan pekerjaan serabutan lainnya.

“Bapa Jhon sebelum masuk ke Swastisari itu pernah bekerja sebagai tenaga TKSD di Rote selama 3 tahun dan kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan membiayai kuliah kami. Bapa Jhon rela mengerjakan segala sesuatu yang halal untuk mendapatkan penghasilan. Saat menikah kami masih kuliah dan kami berdua merangkak dari nol, memulai karir dari nol.”kisah Mama Petronela mengingat masa lalu mereka.

Namun menurut Mama Petronela pengalaman itulah yang menjadikan bapa Jhon ini punya pribadi yang sangat sederhana,

“Karena bapak benar-benar merangkak dari bawah, rela bekerja apa saja untuk membiayai kuliahnya, karena waktu itu bapaknya sudah lumpuh bapa menjadi pribadi yang sederhana dan apa adanya, rajin, disiplin dan sangat kuat berusaha. Tahun 1998 saat bapa Jhon mulai awali karir di Swastisari sikap itu menjadi modalnya mengelola koperasi swastisari. Yang paling mengharukan adalah  saat ia menerima sk bapanya meninggal. Makanya Bapa Jhon selalu bilang pekerjaan ini aaah hadiah dari orang mati.” Kisahnya. Nampak dari setiap rangkaian kalimat dan mimik wajahnya yang tersenyum sumringah setiap mengisahkan perjalanan karir dan sosok suaminya, Mama Petronela bukan hanya sangat mencintai suaminya bahkan sangat mengaguminya.

Dalam merintis karirnya dengan sain bekal  pendidikannya Ahli Madya Koperasi, juga sikapnya yang pekerja keras, disiplin, rajin, punya komitmen yang tinggi dan kuat Yohanes Sason Helan berhasil membawa Kopdit Swastisari menjadi Kopdit dengan kantor cabang terbanyak di kelas Kopdit di NTT.  “Walaupun awal bekerja gaji kecil jaman itu, transportasi sulit Bapa Jhon rela berjalan kaki pulang pergi dari kediamannya dari Kelurahan Oeba ke Kantor, demi menghemat uang dan karena transportasi yang sulit, pagi-pagi jam 5 bapa sudah jalan kaki pp. Setiap hari. Gaji hanya Rp3000 rupiah tapi bapa orangnya fokus dan tidak suka mengeluh. Prinsip bapa intimya kita masih bisa makan. Saya waktu itu masih kuliah.” Kisahnya terharu dengan mata berkaca.

Tapi ada hal yang patut dipuji dari Bapak Yohanes Sason Helan, kisah Mama Petronela yakni justeru saat berjalan kaki ke kantor karena menghemat uang, walau harus berkeringat, kerah baju sampai kuning, tapi dipergunakan Bapa Jhon untuk memperkenalkan koperasi swastisari dan mengajak orang untuk masuk koperasi.

Saat Yohanes Sason Helan menjadi staf,  Koperasi Swastisari masih dibawah Yayasan Swastisari bahkan kantornya masih didalam yayasan dan modal masih kecil, anggota masih sedikit dan sebagai Staf ia mempromosikan Koperasi ini dengan masiv.

Di mata Mama Petronela, Yohanes Sason Helan  sangat serius bekerja sebagai rasa terima kasih sudah dibolehkan tinggal di kantor Yayasan walau ada begitu banyak pertanyaan keheranan orang terhadapnya, “mengapa mau bekerja di koperasi kecil dengan gaji seadanya, namun ia tidak menghiraukannya. Bahkan makin giat mengembangkan koperasi dengan semua kemampuan yang dimilikinya.” Kisah Mama Petronela bangga.

Mama Petronel menyatakan mungkin sudah jodohnya Yohanes Sason Helan bekerja di Swastisari ia mampu mengembannya dengah serius, setia, bekerja keras dengan disiplin tinggi dan sangat mencintai pekerjaannya di swasrisari.

Dalam perjalanan karir sejak awal, banyak tantangan sebenarnya yang seharusnya bisa saja menyurutkan langkahnya melanjutkan pekerjaan di Swastisari, misalnya gaji yang kecil, koperasi yang masih belum berkembang dibandingkan dengan kebutuhan rumah tangga dan biaya kuliah keduanya.

“Prinsip Bapak Jhon sangat ingin mengembangkan Koperasi dari yang masih kecil ibarat pohon yang ditanam dan dirawat dari kecil dan baru  menjadi besar, menikmari hasilnya sambil menjaga dan merawatnya agar makin besar dan bertumbuh. Makanya sering bapa dalam setiap sambutan berpesan “ini kebun kita, kita yang tanam, kita harus jaga dan rawat” itu datang  dari pengalaman membangun koperasi hingga sebesar ini dengan banyak staf, kantor cabang, kantor kas dan aset anggota yang ratusan ribu ini, bapa dan pak Daniel dan staf-staf yang sejak awal masuk memulai benar-benar dari nol. Itulah alasan mengapa Bapak sangat mencintai koperasi Swastisari seperti dirinya sendiri, seperti isterinya. Koperasi ini seperti isteri pertama, saya isteri kedua. Untuk kepentingan koperasi dan anggotanya Bapak akan dahulukan koperasi. Kami harus mengalah. Prinsip bapak adalah lebih baik memulai yang kecil agar menikmati yang sudah besar. ” Sebutbya tertawa.

Dalam perjalanan rumah tangga dan karir topangan kedua orangtuapun diakui Mama Petronela sangat besar bagi keduanya.

Mama Nela mengisahkan ia juga berusaha menunjang kehidupan ekonomi rumah tangga agar jangan sampai meminjam uang ke koperasi dan ke tempat lain dengan menjual kue-kue di sekolah dimana ia bekerja sebagai guru honor.

“Karena bapak sangat pantang meminjam uang kantor untuk keperluan pribadi. Bapak sangat menjaga hal itu untuk mencegah korupsi. Lebih baik menggunakan yang kecil hasil keringat sendiri daripada menggunakan yang bukan hak kita. Bapak selalu berprinsip malu menggunakan uang kantor selain gaji karena uang koperasi adalah uang dari orang-orang susah, orang kecil jadi harus malu menggunakannya diluar gaji.” Ungkap mama Petronela bangga.

Bukti kerja keras dan serius Bapak Yohanes Sason Helan dalam mengurus koperasi Swastisari menurur Mama Nela seperti pengandaian “Jika tidak ada malam,  maka bapa akan kerja terus. Untung ada malam dan masih bisa tidur.” Kalau tidak bapak akan kerja 24 jam non stop. Bayangkan saja, bahkan hari minggu atau hari libur lainnya saja yang seharusnya libur dan waktu untuk keluarga, tapi bapa setelah dari gereja, bapa akan keluar kerja. Pergi tandatangan surat, pergi ke anggota dll. Bayangkan kalau ada hajatan saya harus berperan jadi ibu sekaligus bapa. Mau urus urusan belakang atau mau sambut tamu. Tapi keluarga kaum kerabat sangat mengerti hal itu sehingga tidak jadi soal. Sering karena mendahulukan pekerjaan dan tidak ingin menunda pekerjaan, bapa kalau ada acara di rumah tamu sudah datang bapa masih pergi selesaikan urusan pekerjaan apalagi mengenai anggota. Masih tanda tangan surat, dan bapa datang ke acara masih mengenakan seragam kantor. Tapi untung semua pihak sudah mengerti kondisi bapa.” Ujarnya tertawa.

Tapi menurut Mama Petronela Bapa Yohanes itu, suami dan ayah yang sangat menyayangi keluarganya dan selalu menomorsatukan keluarga. Sebisa mungkin apa yang jadi kebutuhan keluarga akan dipenuhinya walau prinsip hidupnya pekerjaan yang utama, dan keluarga sisanya. Walau demikian, keluarga sangat mengerti prinsip tersebut karena sadar kami dibesarkan juga oleh koperasi Swastisari.

“Bagi kami keluarga, Bapak itu sempurna. Walau sedikit waktunya untuk kami, tapi ia akan manfaatkan dengan sangat baik saat bersama keluraga. Apa yang kita minta selalu diupayakan dipenuhi. Walau Bapa selalu disiplin dan serius dalam bekerja, bapa juga orang yang selalu penuhi janji. Ia orang yang tidak bisa ingkar janji. Sekecil apapun janjinya akan ia penuhi, sesibuk apapun. Ia pandai mengatur semua jadwal dengan baik, walau keluarga akan selalu mengalah demi pelayanan ke orang banyak. Itulah hidup bapa Jhon. Terkadang melihat kesibukan bapa saya berharap sesibuk-sibuknya harus ada waktu untuk keluarga. Bapa tidak punya waktu banyak untuk keluarga tapi saya juga tidak ingin bapa gagal. Namun selalu saya berpikir intinya bapak melakukan hal yang positif dan kepercayaan dan komunikasi adalah kunci keharmonisan rumah tangga kami.” Cetus Mama Nela.

Mama Petronela juga punya cara tersendiri menudukung dan menjaga nama baik serta kestabilan pekerjaan suaminya di Koperasi yakni pertama dengan pengertian dan mengalah, jika untuk kepentingan banyak orang di koperasi ia rela kehilangan waktu bersama suami tercinta ditinggal tugas turun kampung berminggu-minggu.

Keinginan terbesar Mama Petronela bagi Bapa Jhon sebagai suaminya yakni ia ingin Bapa Jhon meninggalkan kopdit swastisari dengan nama yang bersih.

Hal lain yang dikaguminya dari suaminya yakni kemampuan memanagemen pekerjaan dan memisahkan dari urusan rumah tangga. Prinsipnya pekerjaan kantor dan masalah-masalahnya harus diselesaikan di kantor,tidak pernah dibawa ke rumah.

“Bapak juga sangat menjaga masalah kantor tidak pernah dibawa ke rumah, ia sangat menjaga kerahasiaan kantor. Ia bukan orang yang gampang bercerita sekalipun kepada kami keluarga. Memang ada beberapa masalah yang berat yang bapa berbincang dengan saya tapi selebihnya, selama masalah bisa ditanganinya maka bapa akan selesaikan.” Ujarnya bangga.

Hal lain yang patut diacungi jempol dari Yohanes Sason Helan yang dikisahkab Mama Petronela adalah  sikapnya sebagai pemimpin  yang  sangat melindungi karyawan didepan pengurus dan pengawas.

“Walau dimata karyawan bapa mungkin orangnya keras tapi sebenarnya bapa sangatlah melindungi karyawan. Walau kesalahan seberat apapun, bapak akan usahakan memberikan pembinaan dan kesempatan. Kecuali memang  sudah tidak bisa ditolerir maka bapak akan sangat tegas. Dikeluarkan adalah sanksi terakhir yang diberikan jika masalah sudah sangat berat. Tapi selama bapa masih bisa berjuang mempertahankan dan membina akan  bapak lakukan. Bapak rela berdebat dengan pengurus dan pengawas demi karyawan.” Ungkapnya.

Hal yang patut juga dipuji dari sikap dan sifat bapa Jon adalah tidak menajamkan ras dan agama dalam memagemen koperasi sebesar swastisari, mulai dari menerima karyawan dan dan mempromosi karyawan, dll ia selalu mengesampingkan ras, tapi mengutamakan  prestasi.

“Bapak itu anti KKN, dalam bentuk apapun. Mulai dari penerimaan karyawan dan kebijakan apapun. Lulus tes masuk sebagai karyawan bapak mengutamakan syarat kemampuan intelektual dan syarat psikologis lainya. Pantang menerima pemberian demi sebuah keputusan. Prinsip bapa lebih baik makan keringat sendiri, jangan makan keringat orang. Maka bapak selalu tekankan ke karyawan jujur..jujur..takut akan Tuhan. Bapa selalu mengingatkan uang yang disimpan di kopdit adalah uang orang susah. Itu yang menjadikan bapa selalu mawas diri dalam mengelola keuangan kopdit.” Ujarnya.

Keseriusan bapa Jhn mengurus dan memajukan koperasi sangat tinggi. “Bayangkan bapa baru pulang dari satu wilayah, datang ganti pakian dan ambil pakian bersih lalu pergi lagi. Kadang saya pikir orang di bandara ni heran dengan kita karena selalu dibandara. Bapa paling senang pergi kunjungi ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi.” Sebutnya tertawa.

Ia berkisah, mengapa bapa Jhon ingin pensiun karena ada arus dukungan yang kuat dari pendukung yang murni keinginan mereka sendiri baik keluarga, anggota swastisari dan juga staf yang tersebar di 22 kabupaten kota.

“Itulah dorongan yang menjadi modal dasar Bapak mau maju pileg. Bukan keinginan diri sendiri, dukungan dari luar menjadi pendorong yang kuat untuk bapak. Dan akhirnya bapak berkomitmen menerima dukungan itu dan ingin membangun  NTT dari Senayan. Membangun dari aspek ekonomi, UMKM dan koperasi tentunya. Semoga Bapak bisa memenuhi keinginan masyarakat NTT yang mendukung secara murni.” Harapnya.|| jbr