Perkenalkan Wuli (Perlengkapan Ritual Orang Ngada), UPTD Museum Daerah Gelar Sosialisasi

Birokrasi Museum Regional

NTT, TOPNewsNTT|| Perkenalkan dan gali makna Perhiasan Wuli sebagai sebuah perhiasan dan benda koleksi kekayaan budaya asli Orang Ngada dan makna dibalik Perhiasan Wuli sebagai sebuah perlengkapan ritual Orang Ngada UPTD Museum daerah menggelar Sosialisasi. (Selasa, 19/12).

Ketua Panitia dalam laporannya mengungkapkan tujuan sosialisasi pertama menyebarkan informasi kepada berbagai pihak dalam meningkatkan pemahaman publik tentang perhiasan Wuli sebagai hasil karya budaya masyarakat.

Juga meningkatkan pemahaman perhiasan Wuli sebagai sebagai salah satu tradisi budaya masyarakat di kabupaten Ngada, tingkatkan pemahaman budaya bagi generasi muda agar memahami sejarah peradaban masyarakat di NTT khususnya kabupaten Ngada, untuk mengenal lebih jauh makna dibalik beda koleksi perhiasan Wuli, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk merawat benda-benda peninggalan leluhur dan sejarah peradaban masa lampau, untuk menyadarkan masyarakat untuk memelihara kebudayaan daerah.

Peserta Dinas Parefkop.NTT dan Kota Kupang, Dinas Perinduatrian &  Perdagangan, Dinas P&K, Deskranasda, Pelaku Budaya, Pemerhati Budaya Se-NTT, mahasiswa, dan pelajar se-kota Kupang. Nara sumber dalam seminar adalah 2  pemerhati budaya.

Sementara Linus Lusi, Kadis Pendidikan & Kebudayaan NTT bahwa 5/09/2023 kita sudah nendengar kajian dari penulis buku dan timnya, Drs Leonardus Nahak mengundang bara sumber forum dan nara sumber pembanding dan hasil catatan kritis baik dari  forum maupun catatan-catatan lain sebagai pembanding, hari ini dilanjutkan lagi dengan sosialialisasi dari tulisan mereka yang mengikuti metodologi. Untuk setiap budaya ada metodologi yang harus diikuti sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, karena ketika jadi buku, diakses oleh masyarakat dunia yang senang jalan-jalan dan mencintai aksesoris berbasis budaya dan aspek lainnya.

Karena ini bersifat sosialisasi maka tentu tidak boleh menghilangkan sikap-sikap kekritisan supaya supaya ada ruang untuk kajian oleh lembaga manapun sebagai pembanding untuk kajian dan penelitian oleh lembaga manapun sebagai pembanding.

“Wakil kasek,guru dan mahasiswa sejarah dan Antroplogi marilah kita jadikan pertemuan ini sebagai momentum ilmiah. Tanpa pertemuan-pertemuan ini, maka kita terjebak kedalam ssbuah mitos, tidak boleh terjadi. Jika kita urus pendidikan dan kebudayaan mampu mempertanggungjawabkan secara ilmiah. Kita pakai perhiasan wuli nanti kita akan menjadikan soal lain, tapi tahapan-tahapan metodologi ini mudah dilakukan.” Ajak Linus.

Linus berharap semoga dengan tahapan-tahapan pemabahasan yang sudah dilakukan Wuli dapat dipasarkan di galeri-galeri perhiasan tidak sejajar dengan berbagai perhiasan lainnya, bukan hanya di museum-museum saja tidak cukup. Jadi harus mendunia dan itu butuh biaya besar oleh masyarakat pendukung tentu para pengemban harus dilatih keterampilan dulu. Seperti masyarakat Rote Ndao dengan kerajinan perhiasan emas dan peraknya yang menjelajahi hampir seluruh kabupaten kota era 60an dna 70an sehingga ada kemiripan-kemiripan dan khas. Dan ada gerai-gerai dan beda dengan gading emas yang diproduksi sejak kedatangan Portugis. Mahasiswa pernah menulis tapi lembaga belum pernah mengkaji karena ciri khas gading Flores, Sumba dan Maumere maka harus dikaji karena punya keunikan yang berbeda. Dan itu sengaja ditampilkan agar memberikan pembanding dengan perhiasan Wuli sehingga memberikan prototipe yang berbeda oleh penulis.

“Masih banyak Wuli yang lain yang belum tersentuh dan dikaji oleh Museum masih belasan dan saya berharap bisa dikaji kedepan lewat forum seperti ini.” Ujarnya akhiri sambutan membuka sosialisasi.||jbr