Penduduk Miskin Di NTT Maret 2019 Sebesar 21,09% Naik 0,06% Dibandingkan September 2018 Sebesar 21,03%

0

NTT,TOP NEWS NTT.,■■ “Sebelum kita mengerti  presentase angka penduduk miskin di NTT, kita mengerti dulu Metodologi Kemiskinan menurut penghitungan BPS. Bahwa untuk mengukur tingkat kemiskinan, BPS sudah menggunakan sejak tahun 1998 supaya hasil konsisten dan terbanding dari waktu ke waktu (apple to apple), dengan menggunakan Konsep Kebutuhan Dasar (Basic Needs Approach).  Dengan pendekatan ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan (makanan dan bukan makananl. Garis Kemiskinan Makanan (Nilai pengeluaran kebutuhan minimun makanan (setara 2100 kalori per kapita per hari), Garis Kemiskinan Bukan Makanan (Nilai minimum pengeluaran untuk kebutuhan lain non makanan), dan penduduk Miskin ( penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah garis kemiskinan).” Jelas Kepala BPS Provinsi NTT Maritje Pattiwaelappia kepada insan media pada Press Confress Profil Kemiskinan di NTT Maret 2019, pada  Senin, 15 Juli 2019.

Potret presentase penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 21,09 persen naik  sebesar 0,06 persen point jika dibandingkan angka kemiskinan pada September 2018  yang sebesar 21,03%.

Namun jika dibanding data Maret 2018 yang sebesar 21,35%, maka angka kemiskinan di NTT turun 0,26%  poin terhadap Maret  2019 yang sebesar 21,09%.

Tercatat menurut hasil suervei BPS Provinsi NTT, jumlah penduduk miskin di NTT  pada Maret 2019 sebesar yaitu 1.146,32 ribu orang meningkat 12,21 ribu orang terhadap September 2018 dan meningkat 4,15 ribu orang terhadap Maret 2018.

Sedangkan Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 9,09 persen, turun menjadi 8,84 persen pada Maret 2019.

Namun persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018 sebesar 24,65 persen, naik menjadi sebesar 24,91 persen pada Maret 2019.

Jika dibandingkan dengan September 2018, jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 di daerah perkotaan naik sebanyak 60 orang (dari 114,06 ribu orang pada September 2018 menjadi 114,12 ribu orang pada Maret 2019).

Sementara itu daerah perdesaan naik sebanyak 12,15 ribu orang (dari 1.020,05 ribu orang pada September 2018 menjadi 1.032,20 ribu orang pada Maret 2019).

Garis kemiskinan pada Maret 2019 tercatat sebesar Rp373.922,-/kapita/bulan dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp292.305,-/kapita/bulan (78,17 persen) dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp81.617,-/kapita/bulan (21,83 persen).

Secara rata-rata, rumah tangga miskin di Provinsi NTT pada Maret 2019 memiliki 5,84 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya garis kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp.2.183.704,-/rumah tangga miskin/bulan.

Kondisi kenaikan angka kemiskinan 0,06% point pada  Maret 2019 yang sebesar 21,09% dibanding September 2018 yang sebesar 21,03%, menurut Maritje akibat kenaikan gejolak pengeluaran besar karena ada hari raya Natal dan Tahun Baru pada akhir tahun 2018, sedangkan ledakan angkatan kerja dari desa ke Kota.

Diaparitas antar kota dan desa tinggi. Dikota hanya 8, 84% dan dikota 24,91% karena banyak penduduk desa ada di kota.

Penyebab naiknya angka kemiskinan pada Maret 2018 adalah karena ada kenaikan pada harga konsumsi petani meningkat namun pendapatan menurun, dan ini sebabkan inflasi di desa.  Dari gambaran NTP Maret 2019 turun sebesar 1,60% dibanding September 2018.

“Namun pada dasarnya setiap akhir tahun akan alami inflasi akibat adanya kenaikan harga indeks konsumen karena hari raya natal dan tahun baru, lonjakan angkatan kerja. Ada kontraksi kenaikan harga indeks harga konsumen karena adanya ledakan pengangguran dan peningkatan kebutuhan masyarakat diawal tahun. Rata-rata pengeluaran masyarakat miskin meningkat namun tidak seimbang dengan pendapatan yang tetap sehingga sebabkan peningkatan angka kemiskinan di NTT.” Ujar Maritje menjelaskan.

Di Maret NTT ada peningkatan pengeluaran peroang dari Rp. 360.069 rupiah menjadi Rp.373.922 akibat kondisi ini. Karena konsumi pangan orang NTT masih tergantung pada makanan utama. Jika kebutuhan makanan sudah bisa ditekan maka angka keniskinan masih akan tinggi.

Pengeluaran kedua tertinggi adalah rokok, gula, telur ayam ras, kopi bubuk dan kopi instan, dll. Sedangkan di desa dan kota sama ikan kembung dan ikan tuna.

Angka ini berbanding terbalik dengan kondisi pendapatan per kapita Rp.2 183.704. Dan secara nasional Rp1.980 170.■■ Juli BR

Sumber Data :  BPS Provinsi NTT Maret 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *