Ketua Dekranasda Dan TP PKK Malaka Jadi Pembicara Di Seminar Kajian Kain Tenun Malaka

Museum Regional

NTT, TOPNewsNTT|| Dr.Maria Martina Nahak (Ketua TPK PKK/Dekranasda Kabupaten Malaka) menjadi pembicara di Seminar Kajian Kain Tenun Malaka yang diselenggarakan oleh UPTD Museum Daerah Provinsi NTT, seminar mengangkat thema “Tenun Malaka, Mengungkap Makna Di Balik Motif” (Selasa, 5/9).

dr.Maria Martina Nahak memaparkan apa saja yamg sudah dilakukannya sebagai ketua Dekranasda dan Ketua TP PKK Kabupaten Malaka bagi upaya Pemberdayaan Perempuan Penenun Malaka dalam Pelestarian Tenun Malaka.

dr.Maria membagi materinya dalam empat topik yakni Penenun Malak, Motif, Karateristik dan Filosofi Tenun Malaka, Pemberdayaan Perempuan Malaka dan Pelestarian Tenun Malaka.

Tentang Penenun Malaka, dr.Maria menyebut Penenun Di Malaka tersebar di tiga wilayah besar di Kabupaten Malaka yakni di Fehan (Dataran Rendah), Foho (Dataran Tinggi) dan Dawan R (Pegunungan).

Tenun Malaka terbagi dalam 5 jenis tenunan  yakni tenunan Bereneke atau neo Lalek, Tilumutik, Fafoit, Knun Rua, Futus dan Selendang.

“Penenun Malaka adalah sebagian besar perempuan, wanita penenun biasanya ibu muda, wanita paruh baya dan lanjut usia. Kebanyakan penenun adalah ibu rumah tangga, dalam perkembangannya kini menenun menjadi mata pencaharian untuk meningkaykan ekonomi keluarga, sedangkan dulu kala menenun hanyalah sebagai pengisi waktu luang dan menyalurkan hobi seni.” Jelas dr.Maria.

Sebagai Kerua RP PKK Kabupaten Malaka, dr.Maria punya motto yaitu menjadikan menenun sebagai profesi untuk meningkatkan ekonomi dan mencegah stunting.

“Motif tenun ikat Malaka sangat bervariasi sesuai daerahnya antara lain Motif Fehan sebanyak 14 motif (Lafaek (buaya), Tekiraik (cecak), Surik Ulun, Kakait, Kikut (elang, Bereliku Knuk (Sarang burung Murai), We Nain, Ikan Lumba-Lumba, Bria Fuan (Buah Pare), Ro Hai (Peswat Terbang), Be Liku, Be Dahu dan Mata Angin. Motif Fehan Malaka sudah diajukan ke Dirjen Kekayaan Intelektual untuk memperoleh HAKI sebagai kekayaan intelektual dengan karateristik geografis Budaya Malaka. Sementara Motif Foho belum terdata dan motif Dawan sebanyak 13 data (Kakait, Maun, Maun Kabas, Iki, Atoin, Lenuk, Kimno, Sarmat, Be’i, Bolas dan Oebikus.” Sebut dr.Maria yang seorang dokter gigi ini.

Karaterisktik dan Filosofi Tenun Ikat Fehan Malaka terdiri dari Mata Mutik dan Silu Kesak. Mata Mutik yakni bagian putih dari bola mata sedangkan silu kesak berbentuk lidi yang dipatah-patahkan.

Karateristik dan filosofi tenun ikat Dawan R terdiri dari Fuana Nam Toan (artinya bulan sabit) dan Kaes Ana artinya keanekaragaman.

Pemberdayaan perempuan bidang tenun di Malaka yakni upaya membangun kemampuan masyarakat penenun dengan memotivsi, membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki dan berupaya untuk mengembangkan potensi tersebut menjadi tindakan nyata.

Tujuan pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan dan kemandirian penenun agar lebih sejahtera dan pelestarian tenun Malaka.

Produk pengembangan tenun malaka saat ini yakni lewat sarung, selimut, selendang dan berbagai produk ikutan seperti tas, pakaian, aksesoris dll.

Tenun Malaka menjadi kebanggaan masyarakat Malaka, hingga kini terus dilestarikan melalui berbagai cara diantaranya adalah melalui pemberdayaan perempuah yang adalah penenun “Tais” Malaka.

“Saya tertantang serius mengurus Penenun dan Tenun Malaka ketika tulisan tentang tenun Malaka untuk mendapatkan HAKI Ke Dirjen Kekayaan Intelektual dikembalikan karena dinayatakan masih kurang pembahasannya secara detil terkait karaterikstik motifnya. Dan saya berusaha mempelajari tenun Malaka untuk diajukan lagi ke Dirjen Kekayaan Intelektual. Kami memberdayakan penenun sebagai pelaku UMKM Tenun Malaka dengan mengajak semua perempuan Malaka memberdayakan tenunan sebagai sumber mata pencaharian. Kami juga menggelar expo, pameran untuk mempromosikan tenunan dan produk ikutannya serta meningkatkan ekonomi pelaku UMKM Tenun.” Sebut dr.Maria.

Dalam mempromosikan tenun ikat Malaka, dr.Maria menyebutkan ia menyiapkam Gerai Dekrnasda yang juga dapat dikunjungi secara online.

Kepala UPTD Museum Daerah NTT Aplinuksi Asamani,S.Sos,.M.si melaporkan bahwa tujuan Seminar Kajian adalah untuk lebih memperkenalkan kain tenun Malaka kepada masyarakat luas dan generasi muda agar mencintai, mempromosikan, melestarikan tenun ikat Malaka dan menggunakan tenunan Malaka sebagai pakaian sehari-hari sebagai kekayaan budaya NTT.

Dengan mengungkap makna dibalik kain tenun Malaka, maka kain tenun Malaka akan makin dicintai.

Peserta adalah para pejabat instansi terkait, akademisi dari beberapa PT di Kota Kupang, pelaku budaya, pemerhati budaya, pelaku wisata, ketua dan perwakilan etnis Malaka dan Belu, Mahasiswa/i dari beberapa PT dengan total peserta 200 orang.

Latar belakang digelarnya seminar kajian kain tenun Malaka berdasarkan UU No 11/2010 tentang Cagar Budaya dan Permen RI No 66/2015 tentang Museum. Museum sebagai tempat melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan koleksi dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat maka seminar ini digelar untuk memperoleh masukan, saran dalam melengkapi dan memperkaya informasi koleksi.

Seminar Kajian rutin dilaksanakan setiap tahun di UPTD Museum provinsi NTT dan dalam kajian Tenunan Malaka kali ini dengan thema mengungkap makna dibalik motif tenun Malaka ini agar pengelola museum dan masyarakat lebih mengetahui lebih luas tentang tenunan Malaka yakni tentang sejarah, nilai, fungsi, dan arti atau makna benda tersebut dalam masyarakat pemilik tenun ikat.

Tujuan Seminar yakni memberikan informasi dan pemahaman bagi semua lapisan masyarakat dan menjadikan museum sebagai pusat studi budaya untuk melestarikan warisan budaya, menambah wawasan tentang kain Tenun Malaka, khususnya dari sisi sejarah, fungsi, dan motif ragam hiasnya dan menjadi wadah untuk bertukar pikiran bagi peneliti, akademisi, maupuhln publik yang ingin belajar tentang koleksi tenunan Malaka.

Dengan nara sumber yang kompeten yakni dr.Maria Martina Nahak (Ketua TPK PKK/Dekranasda Kabupaten Malaka), Drs.Leonardus Nahak dan Dr.Petrus Ana Andung,S.Sos.,M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi, FISIK Undana).

Hadir membuka seminar hasil kajian tenun Malaka ada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provins NTT Linus Lusi yang mengatakan ini merupakan moment yang sangat berharga karena Museum menggelar kegiatan membedah kain tenun Malaka. Membedah simbol-simbol di balik kain tenun Malaka. Ia berharap dengannya masyarakat makin mengenal, mencintai dan menjadikan tenun Malaka sebagai pakian sehari-hari, dan sumber pendapatan secara ekonomi.

Drs.Leonardus Nahak dalam pemaparan materinya menjelaskan sejarah, ragam motif dan makna kain tenun ikat bagi masyarakat Malaka.

“Bagi masyarakat NTT secara umum menenun merupakan nafas hidup penenun sebagai pengabdian dan perwujudan kecintaan akan budaya. Tapi  ada kelemahan dari museum yang memberi nama tanpa mau mencari tahu makna dibalik kain tenun sesuai jenis tenunan dna motif. Di Museum ada koleksi, ada originalitas, represntatif, kebanggaan, repatriasi dan alasan mengapa dikaji. Tenunan menjadi hal yang snagat seksi di India dan tenunan menjadi primadona.” Kata Dr.Leonardus Nahak.

Selanjutnya ia menjelaskan tentang sejarah keberadaan tenun sejak dulu yang dibuat dimulai dari serat tumbuhan pisang, kapas dll.

Motif Tenun Malaka yakni futu (ikat), Fafoit (motif dibentuk dengan cara diikat).

Ciri tenun Malaka : Lotuk (lembut), mon (jernih) dan ktetuk (penempatan gambar pada frame dengan tepat). Jenis motif tenun Malaka antara kain : Taia Maho Naran/titemisme. Motif tenun Malaka  Lafaek (buaya) yang dibuat salam berbagai bentuk yakni tunggal dan ganda, Bereleku Knuk, Silu Kesak, Futus Kukit, Surik Ulun, Fafoit Laho, Manlea, Sasui, enintais.mutin, mutin kodi kanai loro liurai  atau tenunan kain putih yang biasa dipakai dalam ritual adat kematian, Tais Nai Nurak, Ri Hitus, Futus Baria Fuan, Marobo Waiwiku, Ai Funan.

Dr.Petrus Ana Andang menjelaskan tentang antara kearifan lokal dan komunikasi simbolik tenun Malaka.

Ia menjelaskan secara historis tenunan merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat yang diwariskan dari  generasi ke generasi berikutnya.

Karena merupakan kearifan lokal, maka tenun Malaka memiliki fungsi sebagai Penanda sebuah komunitas, Elemen Perekat (aspek kohesif) dalam masyarakat, Unsur Kultural yang ada dan hidup dalam masyarakat, warna kebersamaan sebuah komunitas.

Tenun ikat juga menjadi jalan komunikasi simbolik. Komunikasi simbolik melalui tenunan maksudnya menjadi tanda yang dapat mewakili makna suatu fenomena atau peristiwa dalam kehidupan sekitarnya yang dilambangkan dalam motif dalam tenunan Malaka. Simbol Fisik dalam tenun Malaka dapat dilihat dari motif dan corak yang melekat pada kain Tenun Malaka yang biasa dipakai dalam event atau ritual tertentu misalnya perwakinan secara adat, kematian dan tata cara budayaainnya dalam masyarakat Malaka.

Simbol verbal pemaknaan dan nilai-nilai yang melekat pada tenunan Malaka swcara umum ataupun makna-makna filosofis yang terkandung di dalam motif dan corak Tenunan Malaka yang disebut budaya simbolik yang tak berwujud berupa nilai dan norma filofofis (Ritzer, 2016)  budaya simbolik yang tidak berwujud ini berupa kumpulan keyakinan atau kepercayaan, nilai, norma dan bahasa.

Tenunan Malaka merupakan salah satu karya busaya yang mengandung pesan-pesan komunikasi simbolik. Karya tenun dalam berbagai bentuk dan corak mengkomunikasikan berbagai nilai dan pesan-pesan filosofis, religius, social dan bahkan tidak sedikit memuat pesan-pesan magis. Tenun Malaka dipandang sebagai salah satu instrumen komunikasi simbolik dalam masyarakat Malaka.

Seminar ditutup dengan diskusi antara peserta dan pemateri.|| jbr