Dorong Pengarusutamaan Isu Difabel, GARAMIN NTT Gelar Diskusi Bersama Awak Media Di Kota Kupang

Jurnalistik Organisasi Warta Kota

NTT, TOPNewsNTT||Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi (GARAMIN) NTT menggelar Diskusi bersama sejumlah Awak Media di Kota Kupang dalam rangka mendorong pengarusutamaan isu GEDSI sebagai implementasi Program SOLIDER dari SIGAB.

Berti Malingara Wakil Direktur GARAMIN NTT Program Manager NTT SOLDIER  memaparkan bahwa GARAMIN merupakan salah satu organisasi difabel di NTT yang berdiri sejak 14 Februri 2020 didukung oleh organisasi SIGAB Indonesia dan INKLUSI.

“Program GARAMIN yakni GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion) yang didukung program SOLIDER (Strengthening Social Inclusion for Difability Equity and Raights) atau Memperkuat Inklusi Sosial untuk Kesetaraan dan Hak-Hak Difabel merupakan program SIGAB (Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel) Indonesia. Kami juga didukung oleh Program INKLUSI (AIPTIS/ Australia Indonesia Partnership Towards an Inclusive Society).” Jelas Berti.

Ia berharap melalui program SOLIDER dari SIGAB Indonesia yang didukung oleh Program INKLUSI, GARAMIN NTT ingin memberikan ruang bagi media untuk bisa mendukung upaya pengarusutamaan GEDSI dalam implementasi program SOLIDER.

“GARAMIN NTT berfokus pada isu perencanaan penganggaran dalam mengawal Rencana Aksi Daerah Penyandang Disabilitas (RAD PD) Provinsi NTT bersama Bappelitbangda, Organisasi Penyandang disabilitas di NTT dan Tim Koordinaw RAD PD NTT.” Tambahnya.

Ia menyebutkan komitmen NTT melalui Perda NTT Nomor 6 Tahun 2022 tentang Pemberdayaan dan Pemenuhan Hak Penyandang disabilitas menjadi ruang untuk upaya pengarusutaaman di berbagai sektor.

Selain itu, ada 3 fokus utama program SOLIDER antara lain Desa Inklusi, Kelompok Difabel Desa dan Unit Layanan Disabilitas (ULD).

Saat ini GARAMIN NTT memiliki 12 desa mitra yang tersebar di 2 kabupaten Kupang dan Rote Ndao.

Enam diantaranya di Kabupaten Kupang (Desa Oeletsala, Kuaklalo dan Baumata Timur di Kecamatan Nekamese dan Desa Oelomin, Desa Bemarak dan Desa Oben di Kecamatan Nekamese).

Di Rote Ndao, enam desa yang menjadi mitra GARAMIN NTT antara lain (Desa Modosinal, Ingguinak, Oetutulu di Kecamatan Rote Barat Laut dan Desa Oelua, Tolama, dan Lidor di Kecamatan Loaholu).

Penyandang disabilitas paling banyak tinggal di desa dan banyak mengalami diskriminasi di desa dan banyak yang masih belum mendapatkan hak sebagai warga negara yang sama dengan warga non difabel lainnya.

Tingginya stigma Masyarakat yang mengganggap difabel tidak mampu sehingga tidak dilibatkan dalam perencanaan Pembangunan dan kegiatan sosial kemasyarakatan di desa.

Lahirnya Kelompok Difabel Desa (KDD) memberikan warna baru dimana difabel mulai mengambil peran di desa untuk mendorong pemerintah untuk melahirkan kebijakan berupa peraturan desa, layanan Kesehatan bagi difabel dan pelibatan di lingkup social dan kemasyarakatan.

Perubahan paradigma difabel sebagai obyek pelan-pelan terkikis menjadi difabel sebagai subyek Pembangunan.

Dukungan pemerintah desa melalui kebijakan berupa Perdes penyelenggaraan desa inklusi telah disahkan di desa Oeletsala dan Desa Oben di Kabupaten Kupang.

Upaya ini juga didukung Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, membuka harapan baru untuk terwujudnya kemandirian desa.

Difabel adalah bagian dari warga desa yang perlu mendapatkan hak yang sama untuk bisa menikmati Pembangunan di desa.

Upaya ini kami harapkan bisa direplikasi di desa-desa di Kabupaten Kupang, Kabupaten Rote Ndao dan Seluruh kabupaten Kupang.

Namun, masih butuh waktu dan dorongan yang besar melalui berbagai pihak termasuk media dalam mendukung pengarusutamaan GEDSI di Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi NTT.

“Oleh karena itu, GARAMIN NTT akan mengundang Bapak Ibu untuk bisa hadir dan bisa saling menguatkan untuk bisa mendukung upaya pemenuhan hak difabel di NTT.” Ujar

Tujuan Kegiatan
Kegiatan Peran media dalam pengarusutamaan isu GEDSI di NTT bertujuan untuk:
1. Sebagai bentuk upaya penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas
2. Memberikan kepastian jaminan pemenuhan hak bagi difabel dan kelompok rentan lainnya dalam perencanaan dan Pembangunan desa
3. Mengarusutamakan isu inklusif disabilitas ke berbagai stakeholder di NTT
4. Memberikan kesempatan kepada difabel desa dan kaum marginal untuk diakui dan dapat berpartisipasi aktif dalam penyusunan rancangan
5. Menjadi Ruang berjejaring difabel dan media sebagai sahabat difabel dalam advokasi pemenuhan hak difabel di NTT

Hasil yang diharapkan :
1. Terpenuhinya upaya penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak-hak penyandang Isabilitas
2. Tersedianya kepastian jaminan pemenuhan hak bagi difabel dan kelompok rentan lainnya dalam perencanaan dan Pembangunan desa
3. Tersampaikannya upaya pengarusutamaan isu inklusif disabilitas ke berbagai stakeholder di NTT
4. Tersedinya kesempatan kepada difabel desa dan kaum marginal untuk diakui dan dapat berpartisipasi aktif dalam penyusunan rancangan
5. Tersedianya Ruang berjejaring difabel dan media sebagai sahabat difabel dalam advokasi pemenuhan hak difabel di NTT.

“Lewat diskusi hari ini GARAMIN NTT berharap ada sharing informasi lewat awak media, kominfo dan kelompok difabel sehingga akan saling mendukung rencana aksi GARAMIN NTT ke depan.” Imbuhnya.

Terkait dukungan media, Nara Sumber dari AJI yang merupakan Jurnalis NTT senior Ana Djukana, menyampaikan bahwa media di NTT sudah sangat mendukung lewat pemberitaan yang ramah terhadap kelompok Difabel.

“Saat ini pemberitaan tentang difabel sudah masiv dan msngangkat isue disabilitas sebagai berita untuk memberi kontribusi positif bagi pemenuhan hak kelompok difabel. Karena jurnalis NTT yang saat ini sudah mengikuti berbagai pelatihan bagaimana menulis berita terkait masalah difabel. Saya yakin berita yang saat ini diberitakan teman-teman media terkait isue difabel sudah melalui proses konfirmasi dan sesuai kaidah jurnalistik dan UU Pers. Walau masih diakui ada jurnalis yang belum memenuhi syarat inklusi. Dan harus diakui banyak kebutuhan kelompok difabel dan hak mereka lewat regulasi dll banyak terdongkrak karena  peran media yang masiv memberitakan terkait difabel. Kerja difabel tidak terintegrasi dengan terbuka ke publik. 10 Tahun terakhir banyak isue difabel karena peran media. Pemberitaan media sekarang ramah terhadap anak dan perempuan serta kelompok disabel. Sebuah perspektif tidak akan turun dari langit kalau media tidak dilibatkan. Isue apapun seksi di mata media. Dan tidak ada media menganggap isue difabel dianggap tidak seksi dan tidak ada nilai jual. Itu karena publik belum terliteriasi terlait isue difabel secara meluas. Saat ini isue kekerasan terhadap perempuan, anak dan difabel akan mendapat atensi publik.” Jelas Kak Anna Tegas.

Kak Anna juga mengatakan bahwa media merupakan sebuah industri yang menghasilkan unsur ekonomi karena ada proses produksi produk jurnalis yang dibiayai dan tenaga kerja yang dibiayai.

“Tapi sejauh ini  dari pengamatan saya, media di NTT sudah sangat berkontribusi terhadap isue difabel. Dan disini kita harus bergandeng tangan semua pihak untuk mengangkat dan memperjuangkan pemenuhan hak yang inklusi. Di Indonesia jumlah masyarakat sangat besar tapi jumlah jurnalis sangat sedikit. Dan menjadi seorang jurnalis bukan kerjaan yang mudah butuh insigth dan syarat yang khusus dan tinggi. ” Tegas Kak Anna.

Kak Anna menegaskan agar semua jurnalis bisa memperoleh penguatan pengetahuan dan kapsitas wartawan terkait isu difabel agar makin cerdas mengangkat isue diabikilas.

“Nanti rekomendasi RTL harus ada dorongan untuk peningkatan kapasitas dalam hal keterampilan, insigth dan perspektif jurnalis terkait berbagai isue. Dan tidak bisa turun dari langit, tapi harus dilengkapi dan diasah. Nah tugas pemerintah dan berbagai pihak adalah memberikan keterampilan itu.” Tegas Kak Anna.

Rammy A. Kadiwano, S.Sos.,M.Si/ Pejabat Fungsional Pranata Humas Ahli Muda mewakili kadis Kominfo NTT memaparkan terkait peran  Kominfo NTT agar kelompok Disabilitas di NTT dapat mengakses informasi dengan mudah atau aksesbilitas dalam pemenuhan hak-haknya.

“Terkait media di Kominfo Provinsi NTT ada websitedan media sosial. Memang idealnya website harus ramah disabilitas. Memang ada beberapa contoh website yang aksesbilitas bagi difabel tapi di kominfo NTT masih terkendala. Media sosial semua kami pakai youtube, fb dan instagram dll. Dan website kami kontennya aksesbilitas bagi kelompok difabel.” Jelasnya.

Anna menyebut Kominfo menyediakan layanan informasi sesuai UU Keterbukaan Informasi Publik yang jsdi tusi Kominfo.

“Kami punya ruang pelayanan masyarakat bisa datang ke dinas Kominfo NTT dan sudah aksesbilitas untuk kelompok difabel. Ada monitor dengan running teks di ruang pelayanan informasi dan bisa lewat website 3 yaitu :  website nnt prof.go.id, dinaskominfo.go.id dan tpid.utama.go.id yang ada di pemprov.NTT dan dinas Kominfo NTT.” Jelasnya.

Di akhir kegiatan dilakukan penandatanganan Komitmen Bersama  Jurnalis Peduli Difabel NTT oleh semua jurnalis yang hadir. || jbr