Besarnya Dampak Positf Festival Budaya, Wiljundaita Bunga, Lurah Fatufeto Usulkan Digelar Tingkat Kecamatan

Kupang, TopNewsNTT.Com|| “Melihat besarnya manfaat Festival Budaya bagi generasi muda dan masyarakat, maka saya berpikir bagaimana jika dilaksanakan juga di tingkat kecamatan? Bayangkan di Kecamatan Alak ada 12 Krlurahan akan tampilkan kekayaan kearifan lokal masing-masing, produk tenun ikat, pangan lokal, tarian, permainan alat musik tradisional dll. Betapa meriah dan beraneka rupa isi festival budaya tingkat kecamatan.” Cetus Wiljundaita Bunga, Lurah Fatufeto, usai pembukaan Festival Budaya Kelurahan Fatufeto (Selasa, 22/9/2026).

Festival Budaya Kelurahan Fatufeto tahun 2026 dengan thema “Merajut Kebersamaan dalam Perbedaan Etnis Budaya” sub thema “Ale Rasa,  Beta Rasa”, digelar dalam rangka  mengangkat kekayaan budaya NTT dan kearifan lokal serta memberdayakan UMKM yang ada di kelurahan Fatufeto tahun 2026 dibuka oleh Camat Alak Amramsius Yolah, S.Sos.

Kepada media ini, Lurah Fatufeto Wiljundaita Bunga mengatakan bahwa program pemerintah Kota Kupang ini sangat bagus dan harus didukung penuh oleh semua pihak karena memberi manfaat yang luar biasa bagi pengembangan, pelestrian dan promosi seni  budaya dan tradisi lokal di setiap wilayah kelurahan.

“Lewat Festival Budaya kearifan lokal yang ada di masyarakat baik itu seni, budaya dan tradisi, dan produk-produk pamgan lokal, produk tenun ikat NTT akan muncul dipamerkan dan dikenal publik. Gagasan, tujuan dan sasaran akan tercapai jika semua pihak di Kelurahan mulai dari perangkat kelurahan, rw, rt, sanggar seni, panitia, dunia usaha dan masyarakat ikut berpartisipasi. Program ada, anggaran ada tinggal bagaimna kita mengeksekusi di lapangan.” Ulasnya.

Perlu diketahui, pada pelaksanaan festival budaya tahun 2026 kelurahan Fatufeto mengangkat thema “Merajut Kebersamaan, di Tengah Keberagaman Etnis Budaya. Ale Rasa, Beta Rasa” konsep festival patut diacungi jempol.

“Pada festival kali ini panitia menyiapkan 7 Tenda Pelaku UMKM  yang mewakili 7 RW yang ada di Kelurahan Fatufeto dan didalam tenda terpajang kain tenun ikat dari berbagai daerah di NTT, juga pangan lokal khas berbagai daerah di NTT. Misalnya ada tenda yang khusus pangan lokal asal Sabu Raijua, pangan lokal Alor, Ambon, dan pangan olahan home made pelaku UMKM, ada juga tenda karya griya, muebel kursi dan meja dari ban bekas yang indah yang akan dipajang selama tiga hari (22-24 September 2026).” Jelas Yunda.

Yunda menambahkan bahwa Panitia bekrrja serius dan maksimal melibatkan selutuh ketua RW dan RT serta warga dan pelaku UMKM. “Konsep fetsival kami benar-benar menampilkan unsur budaya mulai dari 7 tenda Pameran UMKM, Parade Budaya perwakilan warga dari 7 RW dengan busana berbagai etnis, tarian penyambutan dari Alor, tarian massal Bosan Halla, dan khusus di tenda RW 6 menyediapkan pangan lokal Ambon berbahan sagu. Dan paling spesial adalah sajian papeda ikan kuah kuning bagi tamu undangan.” Tambahnya.

Selain itu, menurutnya, festival budaya merupakan  saran strategis untuk melestarikan tradisi dan memperkuat erat silaturahmi diantara masyrakat yang berbeda suku dan budaya. Festival budaya juga memberikan dampak bagi masyarakat untuk saling mengenal dan mengesampingkan perbedaan apapun.

Dampak lain  festival budaya, tambah Yunda, dapat menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku UMKM yang ada di tengah masyarakat kelurahan.

“Jadi semua pihak memperoleh manfaat seperti thema “Ale Rasa, Beta Rasa.” Cetusnya.

Diakhir wawancara, Yunda menegaskan bahwa tujuan dan sasaran festival budaya yang sudah dicanangkan Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pariwisata akan tercapai dalam hal pelestarian budaya lewat Festival Budaya di setiap kelurahan.

“Lewat festival budaya  anak-anak milenial atau generasi muda jaman ini bisa tahu juga apa saja jenis dan bentuk seni, budaya, tradisi dan pangan lokal dan kekayaan budaya lainnya. Menghadapi arus perkembangan jaman penting sekali dilakukan pengembangan bakat generasi muda lewat budaya, sekaligus mempromosikan seni, budaya dan tradisi.” Ungkapnya.|| jbr