Festival Kelurahan Fatufeto Angkat Budaya NTT, 7 Stand UMKM Mewakili 7 RW pamerkan Berbagai Kuliner Lokal dan Tenun Ikat

Kupang, TopNewsNTT.Com|| Festival Kelurahan Fatufeto, Kecamatan Alak patut dicontoh, karena benar-benar menampilkan aspek budaya NTT. Aspek Budaya sudah nampak dimulai dari rangakian acara, Boot atau tenda UMKM yang bukan saja memamerkan produk kuliner asli NTT, juga setiap stand dipamerkan produk tenun ikat asli NTT,  produk busana dan griya.

Festival Budaya Kelurahan Fatufeto tahun 2026 angkat thema “Merajut Kebersamaan dalam Keberagaman Etnis Budaya” dan sub thema “Ale Rasa Beta Rasa” pada Selasa, 22 September 2026 di Lapangan Pitoby kelurahan Fatufeto.

Dalam festival budaya kali ini kelurahan Fatufeto patut diacungi jempol lantaran ketujuh stand secara spesifik menampilkan produk hasil UMKM dari berbagai daerah mewakili 7 RW yang ada di Kelurahan Fatufeto, misalnya ada stand yang menjual pangan lokal asli dari Sabu Raijua, Ambon, Alor, dll. Selain itu unsur produk budaya seperti tenun ikat juga dipamerkan disetiap stand.

Unsur budaya benar-benar nampak mulai dari isi stand, pakaian para panitia, RT, RW dan masyarakat yang mengisi acara seni, budaya, dan parade.

Salah satu ketua RW 7 Yohanes Yengkalong menjelaskan bahwa keterlibatan seluruh warga benar-benar dikerahkan.

“Kali ini kami benar-benar dlibatkan mengisi stand dengan produk berunsur budaya NTT mulai dari tenun ikat, pangan atau kuliner, tarian dengan mengutamakan budaya berbagai etnis NTT yang ada di kelurahan ini.” Jelas Yohanes.

Menurutnya program Pemkot.Kupang dalam rangka pembudayaan budaya, pelestarian dan promosi budaya lewat festival budaya sudah bagus, tapi jika boleh ditambah lagi jangan setahun sekali tapi juga digelat dalam event-event perayaan hari negara lainnya.

Selain itu Yohanes, meminta peningkatan anggaran agar pelibatan masyarakat baik dalam pentas budaya dan UMKM lebih ditingkatkan.

“Banyak warga ingin terlibat, tapi masalah anggaran dalam penyiapan berbagai acara sehingga kami batasi dan kami sesuaikan saja dengan keuangan yang ada.” Ungkap Yohanes.

Sebagai pensiunan ASN pada Pemerintahan Kota Kupang, Yohanes menilai upaya pemerintah dalam pelestarian dan pengembangan budaya makin baik setiap tahun,  dengan bukti Festival budaya sudah pada tahun ketiga.

“Dampaknya luar biasa dari pelaksanaan Festival setiap tahun, karena peserta makin meningkat, pelaku seni, budaya dan UMKM makin meningkat. Sehingga masyarakat makin mencintai budaya terutama generasi muda. Ekonomi masyarakat tentu akan meningkat setiap festival. Masyarakat akan tahu bahwa di setiap kelurahan ada UMKM dengan produk berkualitas, dan pelaku seni dan budaya yang memiliki kualitas tinggi. Di Festival akan terbuka peluang usaha selanjutnya.” Ujarnya mengungkapkan dampak positif festival budaya.

Kegiatan festival akan berlangsung selama 3 hari 22-24 September 2026 dan akan berisi pawai budaya, lomba tarian kreasi baru, lomba fashion show, lomba stand, tarian massal.|| jbr