Dukung Program 3 Juta Rumah, Mahasiswa Undana Jadi Pilar Teknis Hunian Layak di NTT

Kupang, TopNewsNTT Com||  – Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) didorong untuk mengambil peran strategis sebagai mitra teknis Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) dalam menyukseskan Program 3 Juta Rumah. Dalam skema nasional tersebut, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diproyeksikan menerima alokasi 1.000 hingga 2.000 unit perumahan bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Keterlibatan mahasiswa Undana mengemuka dalam Sosialisasi Pembangunan Program 3 Juta Rumah melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang digelar secara hibrida, Kamis (9/4/2026). Kegiatan ini menjadi wadah sinergi antara pemerintah pusat, dinas perumahan daerah, pengembang, pelaku UMKM, serta unsur akademisi.

Klinik PKP: Ruang Pengabdian Mahasiswa Teknik

Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian PKP, Iryanto Sirait, S.T., M.Si., menjelaskan bahwa mahasiswa dan dosen Undana memiliki potensi besar dalam percepatan penyediaan hunian layak melalui implementasi Klinik Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

Mahasiswa dari program studi Teknik Sipil dan Arsitektur dapat berkontribusi langsung melalui skema magang, kerja praktik, Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Secara nasional, kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan puluhan ribu layanan teknis tahunan, mencakup pembenahan sanitasi, penyediaan air bersih, hingga peningkatan kualitas struktur bangunan.

“Potensi perguruan tinggi sangat besar. Undana dan institusi pendidikan lainnya diperkirakan mampu menyumbang ribuan layanan teknis setiap tahun melalui integrasi kegiatan akademik dan pengabdian masyarakat,” ujar Iryanto.

Legalitas Lahan dan Ekosistem Pembiayaan

Di sisi operasional, Direktur Pembangunan Perumahan Perdesaan, Teddy Paul H. Siagian, S.T., M.T., menegaskan bahwa efektivitas program ini sangat bergantung pada aspek legalitas lahan. Kesesuaian tata ruang wilayah dan terpenuhinya aspek spasial menjadi syarat mutlak sebelum konstruksi dimulai. Kolaborasi lintas sektor dianggap sebagai kunci agar pembangunan rumah tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran secara regulasi.

Sementara itu, Direktur Pembiayaan Perumahan Perkotaan, Buhari Sirait, memaparkan rincian dukungan finansial pemerintah. Pada tahun 2026, target penyaluran dana mencapai Rp29,541 triliun. Angka tersebut ditargetkan mampu menyentuh 6.213 debitur di sisi penyedia (pengembang) dan 60.122 debitur di sisi permintaan (pembeli/individu).

Peluang bagi UMKM dan Sektor Jasa

Program ini juga menurut Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (P3KP) Nusa Tenggara II Soemin Kase, S.T., M.Si. didesain untuk menghidupkan ekosistem ekonomi lokal. Pemanfaatan dana tidak hanya terbatas pada pembelian rumah, tetapi juga renovasi hunian yang mendukung kegiatan usaha produktif. Sektor pengembang, penyedia jasa konstruksi, hingga pedagang bahan bangunan lokal di NTT diharapkan dapat menangkap peluang dari besarnya anggaran penyediaan tanah dan material.

Sosialisasi yang ditutup dengan diskusi skema KUR bersama BRI dan Bank BTN ini mempertegas posisi Undana sebagai laboratorium hidup. Program 3 Juta Rumah diharapkan menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa Undana untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan sekaligus memberikan solusi konkret atas persoalan hunian di Nusa Tenggara Timur. (**)

pr.hms.undana

(Ref)