UPTD Museum Provinsi NTT Gelar Pameran Museum Temporer “Budaya Maritim Di NTT” Pamerkan 60 Koleksi

Birokrasi Museum Regional Seni Budaya

NTT, TOPNewsNTT||UPTD Museum Daerah Provinsi NTT menggelar Pameran Museum Temporer Budaya Maritim Provinsi NTT (Rabu-Sabtu,  8–11/11).

Pameran berlangsung di Halaman UPTD Museum Daerah Provinsi NTT dengan dihadiri oleh kepala Dinas Perikanan Dan Kelautan Provinsi NTT Sulastri Rasyid dan pemerhati budaya, budayawan dan pelaku budaya, pelajar, mahasiswa dan undangan lainnya.

Kepala UPTD Museum Provinsi NTT Aplinuksi Asamani selaku ketua panitia penyelenggara kegiatan Pameran Museum Temporer  Budaya Maritim di NTT tahun 2003 melaporkan,

“Latar belakang digelarnya Pameran Museum Temporer Budaya Maritim Provinsi NTT ini adalah karena Indonesia merupakan bangsa yang majemuk terdiri dari berbagai suku dan etnis dengan latar belakang kebudayaan yang beraneka ragam, sehingga dibutuhkan suatu upaya untuk menyelamatkan, melestarikan dan informasikannya melalui cara dan disiplin ilmu tertentu. Dengan demikian nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam benda-benda koleksi museum dapat dipertahankan dan disebarluaskan kepada generasi berikutnya.” Jelas Aplinuksi.

Upaya penyelamatan dan pelestarian budaya bangsa ini diatur dalam undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya di mana dalam pasal 18 ayat 2 menyatakan posisi museum sebagai lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan koleksi berupa benda bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya atau bukan cagar budaya dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat.

Sejak awal berdirinya museum daerah provinsi Nusa Tenggara Timur, sudah banyak mengumpulkan benda-benda budaya yang pada masa lampau dipatok oleh leluhur kita atau yang menjadi peninggalan penjajahan bangsa kita di masa lampau dengan bekal pengetahuan yang dimiliki para pengelola  museum setelah berusaha menyelamatkan budaya bangsa agar para penerus bangsa di masa sekarang dan masa yang akan datang dapat menyaksikan budaya nenek moyang kita.

“Pameran Museum Temporer Budaya Maritim Provinsi NTT merupakan cara museum berkomunikasi dengan masyarakat kondisi-koleksi yang telah dikumpulkan dari masyarakat yang dirawat dan dikaji yang pada giliran  mendapat kesempatan untuk diperlihatkan kepada masyarakat seperti yang kita laksanakan pada malam hari ini oleh museum sesuai dengan potensi yang dimiliki dan diselenggarakan dalam batas waktu tertentu sehingga dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.” Jelas Aplinuksi.

“Lewat pameran ini, hendak menggugah kita semua agar bangga dengan tradisi budaya melaut yang dilakukan nenek moyang kita dan hendaklah nilai budaya maritim ini terus tertanam dalam praktek kehidupan kita masyarakat Nusa Tenggara Timur.” Harapnya.

Pada pemeran kali ini UPTD Museum Daerah provinsi Nusa Tenggara Timur akan mengkolaborasikan benda-benda koleksi museum dengan benda budaya yang bernuansa maritim.

“Benda-benda koleksi maritim seperti Body kapal nelayan, pukat, bubukan, Paledang, tempuling dan cerita sejarah budaya seperti penangkapannya lebih semua perayaan hole di Sabu, penangkapan secara teratur Paus di Lamahera yang dipamerkan pada Ruang pameran budaya yang perlu disampaikan pada para siswa,  pelajaran, mahasiswa dan masyarakat luas agar menumbuhkan rasa bangga dan cinta akan budaya bangsa,  dan dapat diwariskan pada generasi mendatang.” Harapnya.

Tujuan diselenggarakannya Pameran Museum Temporer ini adalah pertama untuk penyebarluasan informasi mengenai tradisi budaya maritim sebagai warisan secara budaya nenek moyang serta nilai-nilai leluhur yang terkandung dalamnya kepada para siswa, pelajar, mahasiswa dan masyarakat luas.  Kedua Perwujudan peran museum sebagai lembaga pelestari warisan budaya, tempat belajar dan rekreasi yang mendidik serta menanamkan rasa memiliki, cinta dan bangga terhadap kebudayaan sendiri yaitu kebudayaan Nusa Tenggara Timur.” Jelas Aplinuksi.

Pameran yang akan berlangsung empat hari ini akan melibatkan siswa, pelajar, mahasiswa dan masyarakat luas secara aktif.

Sasaran kegiatan pameran museum temporer ini bersifat umum dan terbuka bagi semua kalangan, meliputi para siswa, pelajar, mahasiswa, guru,  masyarakat umum dan wisatawan.

“Karena itu kami mengharapkan kehadiran  kita semua agar dapat menyebarluaskan informasi untuk mengenalkan berbagai budaya kita untuk pengembangan karakter masyarakat dan generasi muda dari nilai budaya ini. Kurator dalam pameran ini adalah ibu Ros.  Dalam pameran ssbanyak  60 koleksi museum akan dipamerkan.” Sebut Aplinuksi.

Mewakili  pejabat Gubernur Nusa Tenggara Timur Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Nusa Tenggara Timur Sulastri Rasyid menyampaikan apreasiasi kepada Museum yang sudah memggelar pameran Museum tempores Budaya Maritim hari ini.

“Ini merupakan  angin segar bagi lembaga-lembaga museum untuk lebih terpacu dalam memposisikan perannya sebagai lembaga pewarisan nilai-nilai budaya. Dinamika masyarakat yang ada memberikan wacana baru bagi penyelenggara museum untuk merubah pandangan dari orientasi koleksi kepada orientasi masyarakat atau publik. Gagasan ini menempatkan museum sebagai alat pendidikan dalam pelayanan pembangunan sosial bahwa museum mencapai arti sosial serta memberikan kontribusi yang konkrit pada masyarakat dalam kehidupan sehari-hari” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa  pameran merupakan sebuah media komunikasi yang utama bagi lembaga museum.

“Pameran museum menekankan pada aspek kreativitas untuk menciptakan proses komunikasi yang berlangsung menjadi dinamis, terjadi interaktif komunikatif antara pameran dan pengunjung koleksi yang dipamerkan dan ditampilkan dalam bentuk konteks yang lebih luas dan tidak terbatas hanya pada informasi tentang koleksi itu sendiri. Dengan demikian pendirian sebuah museum memiliki tujuan utama yaitu melestarikan warisan budaya bangsa meliputi aspek perlindungan pengembangan dan pemanfaatan benda-benda koleksinya untuk masyarakat. Museum mengemaskan konsep pameran untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat tentang informasi dan pengetahuan.” Ujar Sulastri Rasyid.

Ia juga mengingatkan fakta bahwa Negara Indonesia sejak dulu telah dikenal sebagai negara maritim di mana kegiatan pelayaran dan perdagangan dilakukan di laut atau bergerak di sektor perairan.

“Indonesia memiliki 1.192 pulau yang mana 3.432 pulau sudah bernama dan 42 pulau yang belum.  Dengan panjang garis pantai kurang lebih 5.700 km2. Nah dengan panjang garis pantai sebesar itu,  kita berharap bahwa kita sebagai penduduk NTT yang mana merupakan miniatur dari Indonesia karena 2/3 wilayah NTT adalah laut, maka kami sebagai Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Nusa Tenggara Timur ingin mengajak kita semua harus melihat ke laut, jangan berpaling dari laut atau menghilangkan laut. ” Ajak Sulastri.

Ia mengingatkan, untuk kehidupan sehari-hari sebenarnya dari potensi atau dari segi kelautan dan perikanan sangat-sangat menjanjikan. “Mengapa demikian? karena Tuhan sudah memberikan dunia laut, tetapi kita tinggal mengambil,tetapi dengan konsekuensi bahwa kita harus menjaga supaya itu yang ada di dalam atau sumber daya yang ada di dalam tempat lestari.  Dan suatu saat anak kita tidak hanya mengenang bahwa nenek moyangku orang pelaut, tetapi dia juga seorang tahu bahwa ini jenis udang ini, jenis ikan apa yang apa misalnya ikan hiu,  ikan pari atau ikan tongkol dan mereka tidak hanya melihat bahwa suatu saat mereka tahu bahwa nenek moyang pelau.” Sebutnya.

Sebagai Kadis Kelautan dan Perikanan, Sulastri kembali mengajak semua pihak bersikap ; Pertama : hidup untuk menghadap ke laut tetapi jangan membelakangi laut.”

Kedua dari segi lautan dan perikanan serta untuk potensi perikanan adalah merupakan salah satu potensi yang menghasilkan produk untuk meningkatkan nilai gizi masyarakat,  terutama pada anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui atau para wanita atau remaja. Tujuannya agar kita akan menghasilkan generasi unggul.

Potensi laut dan maritim NTT menurutnya sangat kaya dan beragam dan apalagi dengan iklim daerah tropis.

“Sebagai contoh dengan pertanian rumput laut dengan memanfaatkan musim panas, rumput laut dapat berkembang di mana-mana dan dapat meningkatkan potensi ekonomi rumah  tangga. Potensi garam NTT akan meningkatkan ekonoki para nelayan dan petani garam yang semuanya memanfaatkan waktu waktu panas ini menjemur garam, melaut atau bekerja di laut. Musim hujan kita yang hanya 4 bulan saat nelayan kembali ke darat dia dapat  bertani dan berkebun. Itulah hebatnya NTT yang kaya akan potensi laut dan maritim ini.” Ujarnya.

Akhiri sambutan Sulastri Rasyid mengajak seluruh masyarakat NTT untuk mengunjungi museum NTT sebagai pusat peradaban masyarakat NTT yang memberikan nilai budaya spiritual, ekonomi dan warisan daerah serta keberlangsungan kebudayaan.

“Kami daari Dinas Kelautan dan Perikanan sangat bangga karena  pameran ini mengangkat tentang  budaya maritim yang akan  mengangkat derajat seorang nelayan. Apalagi Indonesia punya semboyan “nenek moyangku orang pelaut”.  Sekali lagi saya ajak agar kita menghadap ke laut dan jangan membelakangi laut.” Tutupnya.

Sebagai tanda dibukanya pameran dilakukan pemukulan gong oleh Kadis Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT, Sulastri Rasyid dan peninjauan ke aula tempat dilangsungkannya pameran benda koleksi museum budaya kotemporer maritim NTT || jbr