Sosialisasikan Hasil Kajian Patung Perunggu Sumba Barat, Ini Harapan Kepala UPTD Museum NTT

  • Bagikan

NTT, TOPNewsNTT|| UPTD Museum NTT selenggarakan Sosialisasi Hasil Kajian Patung Perunggu Sumba Barat yang sudah dicetak menjadi sebuah buku, dan ia berharap agar buku ini bisa menjadi bahan  pendamping sebagai  sumber informasi benda koleksi Patung Perunggu Sumba Barat yang ada di UPTD Museum NTT serta menjadikan museum tempat belajar bersama dan bersama-sama belajar tentang nilai historis dan budaya dalam patung perunggu secara lebih mendalam.

Hal ini diungkapkan Aplinuksi Asamani, Kepala UPTD Museum NTT saat membaca sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT dalam pembukaan  Sosialisasi Hasil Kajian Patung Perunggu yang digelar bagi pemerhati budaya, mahasiswa jurusan sejarah beberapa univeraitas di Kota Kupang, dan komunitas budaya di Kupang (Selasa, 22/11).

Buku Hasil Kajian Patung Sumba

Selain itu, lanjut Aplinuksi menjelaskan latar belakang dilakukannya kajian, seminar hasil kajian dan sosialisasi hasil kajian Patung Perunggu didasari tujuan demi meningkatkan peran museum sebagai pusat informasi Budaya.

Dengan kegiatan ini, Museum ingin menggugah setiap pemerhati dan aparatur yang bergerak di bidang permesueman untuk selaku mencari terobosan untuk mempopularitas peran museum melalui berbagai kegiatan termasuk melakukan sosialisasi hasil kajian terhadap benda-benda koleksi museum yang ada di Museum NTT.

Diingatkannya pentingnya sosialisasi hasil kajian benda-benda koleksi museum dikarenakan sebagai dasar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang nilai historis dan nilai budaya di balik benda koleksi museum.

“Sosialisasi hasilkajian secara historis dan budaya terkait benda koleksi museum sangat berguna untuk proses pembelajaran bagi generasi muda ataupun masyarakat luas untuk paham koleksi museum.” Tegasnya.

Ia berharap museum,  ke depannya akan menjadi pusat informasi dan tempat belajar bersama dan sama-sama belajar tentang peradaban manusia, yang berhubungan dengan tata nilai maupun hasil karya budaya manusia yang terukir dalam sejarah kehidupan manusia.

Museum harus menjadi tempat pembentukan karakter yang berbasis budaya daerah..

Sebagai benda koleksi Museum NTT, menurut Aplinuksi, Patung Perunggu harus digali dan dikaji nilai informasi secara histori dan budaya  bagi masyarakat Sumba Barat.

“Pengetahuan ini penting agar pemerhati budaya memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap benda-benda koleksi Museum, sehingga sosialisasi hasil kajian Patung Perunggu ini juga penting.” Ujarnya.

Hasil kajian terhadap seluruh benda koleksi museum termasuk Patung Perunggu akan disebarkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman publik tentang nilai-nilai yang terkandung didalam patung Perunggu.

“Dengannya juga museum sebagai pusat peradaban melalukan pelesetarian dan perawatan terhadap seluruh benda koleksi museum agar menjadi sumber ilmu pengetahuan dan pendidikan budaya serta pengenalan jati diri bangsa untuk menunjukkan bahwa NTT adalah provinsi yang punya kekayaan budaya yang jadi potensi besar dalam pembangunan manusia yang berkarakter dan berbudaya.” Ungkapnya.

Ia berharap seluruh tatanan budaya dapat menjadikan museum sebagai pusat informasi dan publikasi yang menjadi daya tarik bagi generasi muda bangsa Indonesia.

Sementara laporan panitia dibacakan oleh ketua panitia pelaksana Sosialisasi Andre da Silva.

Maksud Sosialisasi hasil kajian Patung perunggu Sumba Barat Daya yakni memberikan informasi terkait hasil kajian Patung Perunggu.

Dengan tujuan memberikan pemahaman apa itu patung perunggu, budaya yang terkandung dalam patung perunggu di Sumba Barat dan  informasi terkait koleksi benda sejarah di Museum, upaya pelsetarian dan perawatan benda koleksi budaya NTT.

Peserta berasal dari Dispar NTT, Disperindag NTT,  Dekranasada NTT, HAMIDAH NTT, pemerhati budaya, pecinta budaya, Himpunan Mahasiswa se kota Kupang dan media.

Nara sumber : Drs. Mateus Tanda Kawi dan Dra.
Ros Idam (peneliti Budaya pada UPTD Museum NTT).

Dra.Ros Idam.dalam pembahasan hasil kajian Patung Perunggu menjelaskan patung perunggu di Sumba Barat bukan merupakan benda asli berasal dari Sumba Barat, tapi benda yang didatangkan dari luar tapi merupakan benda Cagar Budaya berusia diatas 50 tahun, merupakan peninggalan zaman Perundagian (zaman logam) di NTT.

Patung terbuat dari logam perunggu dengan teknik cetak tuang dan sudah didaftarkan sebagai benda cagar budaya dengan mengacu pada UU RI no.11/2010 tentang Cagar Budaya.

Di museum NTT ada 2 patung perunggu yang ditahan oleh Bea Cukai pasa 12/09/2017

Di Museum NTT terdapat 2 buah patung perunggu hasil penahanan sementara Bea Cukai yang hendak dikirim dari Waikabubak pada 12/09/2017 dengan rujuan Singapura karena dicurigai sebagai benda koleksi cagar budaya.

Dari hasil penelusuran tim pengkaji Patung Perunggu ke Waikabubak, Sumba Barat patung perunggu sebagai benda budaya yang memiliki arti penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan agama dan kebudayaan.

Beda Patung Perunggu dengan Patung Sumba pada umumnya adalah dari bahan, yakni patung Sumba dibuat dengan dipahat dari bahan kayu dan batu, sedang patung perunggu dari bahan logam dan dicetak tuang.

Patung Perunggu tidak dibuat di daerah Sumba tapi berasal dari wilayah luar Indonesia yakni Indo Cina dan masuk ke Sumba lewat jalur perdagangan sekitar abad ke 6.

Walaupun tidak dibuat di Sumba Barat, namun secara umum patung ini disimpan senagai benda pusaka yang sakral lambang leluhur dan terdapat di wilayah Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya di Kodi.

Patung Perunggu Pria (Ama) ini terbuat dari bahan logam. Teknik pembuatan dengan cetak tuang. Berwujud manusia bertanduk dan bertelinga lebar. di atas kepala terdapat patung manusia dalam posisi jongkok, kedua tangan menyilang di atas lutut, juga terdapat seekor tokek kecil, dan motif melingkar atau spiral. Memakai anting-anting bentuk manusia dalam posisi duduk jongkok dengan kedua telapak tangan bertumpu pada kedua lutut, Bagian leher dan dada memakai perhiasan dan pada bahu kiri terdapat seekor kadal/ biawak. Pada tangan kiri dan kanan masing-masing terdapat 4 (empat) ekor tokek kecil dan kedua lengan dan pergelangan tangan memakai perhiasan. Patung ini bertelanjang dada dan hanya menggunakan kain atau sarung kebesaran pada tubuh bagian bawah. Pada kedua kaki kiri dan kanan bagian atas terdapat masing-masing seekor ular. Patung ini berdiri tegak di atas padmasana bersudut 8 (delapan) dan disekeliling padmasana terdapat 8 (delapan) Patung Prajurit dalam posisi berdiri tegap. Patung ini merupakan figur seorang Raja yang memiliki kekuatan supranatural dan berkuasa pada masanya.

Sedangkan Patung perunggu wamita (Ina),  terbuat dari bahan logam. Teknik pembuatan cetak tuang. Pada bagian kepala terdapat 2 buah patung manusia kembar dalam posisi jongkok saling membelakangi. Masing-masing kedua tangan melipat di atas lutut, juga terdapat motif garis melingkar atau spiral. Pada bagian telinga kiri dan kanan memakai anting-anting bentuk manusia dalam posisi jongkok dengan kedua telapak tangan bertumpu pada kedua lutut. Bagian leher memakai perhiasan dan pada bagian bahu kiri terdapat seekor kadal/biawak. Pada kedua tangan kiri dan kanan masing-masing terdapat 3 (tiga) ekor tokek kecil dan kedua lengan dan pergelangan tangan memakai perhiasan. Patung ini bertelanjang dada dan hanya menggunakan kain atau sarung kebesaran pada tubuh bagian bawah. Patung ini dalam posisi berdiri sambil menggendong kedua anak (anak yang satu digendong pada bagian dada sebelah kanan yang satunya tengah berusaha untuk memanjat kaki sang ibu dan berjuang untuk mendapat perlakuan yang sama. Pada kedua kaki kiri dan kanan bagian atas terdapat masing-masing seekor ular. Patung figur Permaisuri berdiri tegak di atas padmasana bersudut 8 (delapan) dan disekeliling padmasana terdapat 8 (delapan) Patung Prajurit (tugas pengamanan) dengan Ukuran : Tinggi = 91,5 cm.

Dra.Ros Idam menjelaskan secara singkat bahwa patung perunggu diperlakukan oleh orang Sumba sebagai benda suci lambang leluhur atau Merapu dan disimpan di tempat suxi yang terletak didalam rumah adat dan sekali setahun dikeluarkan untuk disucikan.

Namun di Sumba terdapat patung yang menjadi benda sakral budaya asli yang berasal dan dibuat di Sumba dengan teknik dipahat, terbuat dari batu san kayu. Dan dipakai sebagai media penyembahan terhadap leluhur dalam upacara keagamaan Merapu, yang memiliki nilai budaya dan historis .

Dalam penutupan kegiatan sosialisasi hasl kajian Patung Perunggu di Sumba Barat yang mengangkat thema “Patung Sumba, Tradisi Leluhur Yang Tak Lekang Ditelan Waktu” dan sudah dicetak berupa buku ini dapat memberikan manfaat bagi semua kalangan.  || juli br

 

  • Bagikan