Penyempurnaan Hasil Kajian Kain Tenun Manggarai, UPTD Museum Daerah NTT gelar Seminar

  • Bagikan

NTT, TOPNewsNTT|| Dalam rangka penyempurnaan hasil kajian Kain Tenun Manggarai, UPTD Museum Daerah Provinsi NTT gelar Seminar.

Kepala UPTD Aplinuksi M.A.Asamani,S.Sos, M.Si saat sampaikan sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT mengatakan bahwa seminar hasil kajian kain tenun Manggarai Provinsn NTT yang dilatar belakangi oleh adanya benda koleksi museum terkait dengan kain tenun Manggarai

Tujuan seminar adalah untuk memperoleh informasi yang lebih luas tentang artikulsi yang terkandung dalam kain tenun Manggarai, dan museum hadir untuk lakukan kajian sekaligus sebagai bentuk edukasi dan penyebaran informasi tentang kain tenun Manggarai sebagai salah satu benda koleksi di Museum.

“Seminar adalah nerupakan terobosan UPTD Museum NTT dalam rangka mempopularitaskan peran museum sebagai sebuah peradaban.” Ujarnya

Seminar kajian dilaksanakan dengan maksud untuk  memperoleh informasi dari berbagai pihak sebagai dasar dalam penyempurnaan hasil kajian yang sudah dilakukan oleh museum.

“Dari seminar ini diharapkan akan memperoleh informasu nilai historis dan budaya dibalik kain tenun Manggarai, lakukan penyempurnaan hasil kajian sebagai dasar meningkatkan pengetahuan nilai hiatoris dan budaya kain tenun Manggarai, mengenal lebih jauh benda-benda koleksi dan artikulasi dibalik benda-benda koleksi kain Tenun Manggarai, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam merawat benda-benda peninggalan leluhur sebagai bukti sejarah peradaban masa lampau, sadarkan masyarakat memelihara kebudayaan daerah.” Sebutnya.

Sasaran kegiatan yakni kepada personal yakni baik masyarakat luas, akademisi, pemerhati budaya dan komunitas.

Sedangkan ssaran substansi agar tercapainya penyempurnaan hasil kajian kain tenun Manggarai sebagai bagian dari benda koleksi museum.

Sasaran pelayanan untuk meningkatkan layanan informasi akan benda koleksi museum melalui seminar hasil.kajian museum..

Hasil yang diharapkan tercapainya penyempuenaan hasil kajian koleksi museum khususnya kain tenun Manggarai,

Meningkatkan kualitas informasi tentang koleksi museum khususnya informasi terkait kain tenun Manggarai,

Masyarakat lebih mencintai nilai-nilai budaya lewat karya budaya khususnya kain tenun Manggarai di NTT.

Pemateri Ros Idam Tenaga Ahli Budaya  UPTD Museum NTT mengatakan dalam pemaparan materi Kain Manggarai (Koleksi Museum NTT) 2013.

Ia mengatakan bahwa kain Tenun Manggarai pada masa Purba djkenal dengan nama Nuca Lale (Ular coklat).

Jenis motif tenunan kain tenun yang berada di wilayah Manggarai, seperti Lipa Toda yang bercorak garis-gariw geometris dengan warna dasar yang cerah kemungkinan besar dipengaruhi corak tenunan Sulawesi.

Kerajinan tangan unggulan ke-3 kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur sebagai penghasil Kain Tenun, sedangkan  Manggarai Barat punya tikar yang terkenal.

Tenunan Manggarai dikenal dengan mama Songke Cibal, Songke Ruis dan Lipa Todo, sedangkan Manggarai Timur dikenal dengan nama Songke Lamba Leda, Punca Titi dan Songke Rembong.

Namun dalam perkembangan belakangan akibat mobilisasi terutama kawin-mawin dan perpindahan penduduk, kabupaten Manggarai Barat juga menekuni pembuatan kain tenun terutama jenis kain Songket.

Namun dalam pengkajian yang dilakukan hanya meliputi kain tenun yang terdapat di wilayah kabupaten Manggarai yang telah menjadi koleksi Museum.

Tenun Manggarai memanfaatkan bahan kulit pohon lembut, alang-alang, rumput-rumput yang punya serat lembut dan mudah lentur yakni kulit pohon Lale (kayu hutan yang menyerupai pohon sukun).

Orang Manggarai sudah punya pengetahuan seputar alam, baik Flora dna Fauna dengan seluruh ekosistemnya. Kedekatan masyarakat Manggarai dengan alam tersebutlah yang digambarkan dalam bentuk kain tenun.

Bahan dasar kain tenun Manggarai makin lama makin berkembang dengan menggunakan kapas yang hingga kini prosesnya dilakukan secara manual (memintal) dengan pewarnaan menggunakan  bahan alam seperti Mengkudu, Daun Tarum, Kunyit, Daun Loba dll.

Kain tenun Manggarai juga menggunalan teknik ikat, tapi untuk Tenun songket dibuat dengan teknik bervariasi seperti sesuai arti kata Songket (Sungkit dalam bahasa Melayu) yang berarti mengait atau mencungkil. Teknik songket yakni sejumput kain tenun diselipkan dengan  seuntai benang warna pada bidang vertical sebagai hiasan tenunan.

Fungsi kain tenun Manggarai adalah sebagai simbol status sosial untuk bedakan antara status bangsawan dan masyarakat jelata.

Kain tenun juga dipakai sebagai mas kawin, simbol penghargaan teehadap orang mati, sebagai pakaian dalam upacara adat dan simbol perlindungan perlindungan pada seorang anak.

Dan itu akan terlihat pada penggunaan motif dan warna tertentu pada bagian penting kain tenun Manggarai.

Walau dalam perkembangan zaman fashion dan nilai kain tenun sudah berubah karena hampir setiap orang asal punya duit bisa menggunakannya. Namun di masyarakat adat Manggarai masih dipertahankan dalam kelompok kecil maupun besar masyarakat Manggarai pada umumnya untuk moment-moment seperti diatas.

Motif bentuk kain tenun Manggarai dibuat sama bagi semua jenis kelamin.

Sementara Pemateri Drs Zakarias Angkasa,M.Sc membawakan materi “Kain Tenun Dalam Peradaban Masyarakat Manggarai.”

Aplinuksi berharap lewat seminar diperoleh input positif yang akan memperkaya dan menyempurnakan hasil kajian kain Tenun Manggarai yang nantinya akan dicetak dalam bentuk buku.

Dengan hasil kajian kain tenun yang sudah diseminarkan,  kain tenun Manggarai merupakan kain tenun ke-11 yang dikaji dan diseminarkan, 5 sudah dicetak dalam bentuk buku   || juli br

 

 

  • Bagikan