Daub Naffi, “Festival Budaya Kelurahan Bakunase II Bukan Sekedar Perayaan Budaya, Tapi Ekspresi Persatuan Dalam Keberagaman
Kupang, TopNewsNTT.Com|| Daud Naffi, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan membuka Festival Budaya Kelurahan Bakunase II menyebut bahwa Festival Budaya Multi Etnia Kelurahan Bakunase II bukan sekedar perayaan budaya, tapi ekspresi persatuan di tengah keberagaman.
Hal ini yang mengusung tema “Seni dan Budaya Menjadi Perekat Kehidupan Berkeluarga, Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara” dengan subtema “Berbeda dalam Seni dan Budaya, Bersatu Membina Kerukunan Hidup Bersaudara di Kelurahan Bakunase II” di lapangan SDN Oetona, kelurahan Bakunase II pada Rabu, 2 September 2026.
Festival Budaya multi etnis ini berisi Lomba Tarian Adat, Lomba Fashion Show dan Lomba Stand Etnis akan berlangsung selama tiga hari (Rabu-Jumat, 2-4 September 2026).
Daud Naffi sampaikan sambutan Wali Kota Kupang mengingatkan bahwa festival budaya multi ernis Kelurahan Bakunase II ini sebagai wadah ekspresi seni, budaya serta pameran UMKM dengan berbagai produk yang menggerakkan ekonomi masyarakat kelurahan Bakunase II.
Ia berharap festival selama tiga hari yang menampilkan produk tenunan NTT, kuliner khas NTT, tarian berbagai etnis hingga fashion show busana tradisional dari beragam daerah Nusa Tenggara Timur dapat memberikan suka cita di tengah kesulitan hidup apalagi masih dalam suasana perayaan HUT RI Ke-81 Tahun 2026.
“Fetival ini bukan sekadar panggung hiburan, festival ini menjadi upaya masyarakat Bakunase II mempertahankan warisan leluhur sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.” Ujar Daud Nafi.
Menurutnya, thema multi menunjukkan bahwa kelurahan Bakunase II adalah masyarakat dari berbagai latar belakang etni: Sumba, Flores, Timor, Rote, Sabu dan Alo, bersstu ikut ambil bagian dalam meyukseskan festival ini dan itu menunjukkan keberagaman yamg mampu dipersatukan dan ditampilkan melalui stand budaya, tarian etnis, fashion show anak-anak serta berbagai produk UMKM.
Daud Novianus Nafi mengatakan Festival Budaya Kelurahan Bakunase II merupakan bagian dari upaya pemerintah mendorong masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan sekaligus menghidupkan aktivitas ekonomi di tingkat kelurahan.
Menurut Daud, pemerintah memberikan dukungan anggaran APBD sebesar Rp20 juta untuk setiap kelurahan yang menyelenggarakan festival budaya.
Anggaran tersebut kemudian dikelola pemerintah kelurahan bersama lembaga kemasyarakatan untuk menghadirkan seni, budaya dan UMKM yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Di mana ada kerumunan, di situ ekonomi tumbuh. Ketika masyarakat berkumpul dalam sebuah event seperti ini, UMKM ikut bergerak,” kata Daud.
Ia menilai festival budaya memiliki makna lebih luas bagi Kota Kupang sebagai kota multietnis. Pertemuan masyarakat dalam ruang budaya menjadi kesempatan untuk saling mengenal, berinteraksi dan memahami perbedaan.
“Budaya itu berkomunikasi, saling memberi, saling menerima dan berinteraksi. Bukan menghilangkan budaya masing-masing, tetapi melalui budaya mereka bisa bersatu,” ujarnya.
Daud berharap kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga melahirkan proses akulturasi budaya yang sehat. Masing-masing etnis tetap mempertahankan identitasnya, namun terbuka untuk mengenal dan menerima budaya lainnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Budaya Bakunase II sekaligus Ketua RW 01, Oktov. HS. Tabelak, menjelaskan bahwa konsep festival tahun ini sengaja mengedepankan keberagaman.
Bakunase II, kata dia, memiliki karakter masyarakat yang multietnis sehingga panitia memilih menghadirkan seluruh keragaman tersebut dalam satu perhelatan.
“Di Bakunase II tidak ada etnis yang dominan. Ada Sabu, Timor, Rote, Flores, Alor dan Sumba. Karena itu kami berani mengangkat konsep multi etnis,” jelasnya.
Menariknya, pembagian stand etnis kepada masing-masing RW dilakukan melalui sistem undian. Dengan cara tersebut, setiap kelompok masyarakat mendapat kesempatan mengenal dan menampilkan budaya etnis yang berbeda dari latar belakang mereka sendiri.
Stand-stand budaya kemudian dihiasi berbagai peninggalan dan hasil kreativitas leluhur, mulai dari tenunan, kain khas, kerajinan hingga makanan tradisional.
Panitia juga memberikan perhatian khusus kepada keterlibatan anak-anak dan generasi muda. Siswa sekolah dasar, anak-anak PAUD dan TK serta pemuda Kelurahan Bakunase II dilibatkan dalam berbagai perlombaan.
“Kami ingin anak-anak mengenal budaya yang mungkin tidak mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tidak dilakukan seperti ini, mereka bisa lupa atau bahkan tidak tahu,” ujar Okto.
Selain stand budaya, festival juga menghadirkan lomba tarian etnis, fashion show anak-anak PAUD dan TK serta berbagai penampilan seni. Peserta dinilai oleh tim juri independen dan para pemenang memperoleh piala, piagam penghargaan dan hadiah.
Khusus peserta dari kalangan PAUD dan TK, seluruh anak mendapatkan bingkisan sebagai bentuk apresiasi, motivasi dan pembinaan.
Okto menegaskan, busana yang digunakan dalam lomba juga diarahkan untuk tetap autentik dan merepresentasikan identitas budaya daerah masing-masing.
“Kami ingin yang ditampilkan benar-benar natural dan khas daerah, sehingga anak-anak tidak hanya memakai busana, tetapi juga memahami makna budaya yang mereka tampilkan,” katanya.
Antusiasme warga pun terlihat sejak hari pertama pelaksanaan. Panitia bahkan harus menambah tempat duduk karena jumlah masyarakat yang hadir melampaui perkiraan awal.
“Kami menyiapkan sekitar 300 tempat duduk, ternyata masih kurang karena antusias masyarakat cukup tinggi,” ungkap Okto.
Lebih dari sekadar perayaan seni, festival ini menjadi gambaran kecil wajah Kota Kupang: berbeda dalam bahasa, tradisi dan identitas, tetapi dapat duduk bersama dalam satu ruang, menikmati budaya satu sama lain dan merawat persaudaraan.|| jbr