Chris Liyanto Pilih Jalur Politik Untuk Berbuat Lebih Banyak dan Besar Bagi Masyarakat NTT

Legislatif Profil Regional

NTT, TOPNewsNTT|| Christofel Liyanto, Komisaris Utama BPR Christa Jaya, pria berdarah China-Sabu Raijua yang akhir-akhir ini mulai dikenal masyarakat baik melalui publikasi media maupun baliho-baliho yang mulai bermunculan di beberapa titik di Kota Kupang dan kabupetan lainnya yang menjadi dapilnya ternyata punya prinsip sederhana yang menjadi pendorong utama dirinya ingin maju caleg anggota DPR RI Dapil 2 Provinsi NTT dari Partai Gerindra dengan nomor urut 3.

Ekslusif kepada awak media dalam pers conferance di Aula BPR Christa Jaya Perdana Kupang (Kamis, 5/10), Chris Liyanto (sapaannya -red) mengungkapkan prinsip dan alasan dirinya mau maju DPR RI pada Pemilu 2024 nanti.

Dirinya sudah sejak 15 tahun lalu terlibat dalam berbagai aksi sosial, baik di bidang sosial itu sendiri, rohani dan olahraga. Dan jika ia ingin maju karena ia ingin berbuat lebih banyak dan besar bagi masyarakat yang butuh bantuan.

“Akhir-akhir ini saya mulai kelihatan di media-media terlibat dalam kegiatan sosial, bidang rohani di gereja dan olahraga dan yang terakhir di bidang politik yakni terkait pencalonan saya sebagai calon anggota DPR RI Dapil 2 Provinsi NTT dari Partai Gerindra nomor urut 3. Saya mulai kebanjiran undangan-undangan dari sektor olahraga, rohani dan aktifitas sosial lainnya.” Ungkap Chris Liyanto.

Peletakan batu pertama pembangunan gereja

Diakuinya dirinya mulai terjun ke politik pada Juni 2023 lalu, tapi sebelum ia putuskan masuk ke dunia politik, diakuinya ia melalui sebuah pergumulan rohani yang matang baru tiba pada sebuah keputusan mencalonkan diri.

“Pergumulan matang artinya ada sebuah pertentangan dalam diri saya mau nggak, mau nggak? Nggak maunya itu adalah apa yang mau saya cari dari seorang anggota DPR RI. Kalau mencari kehormatan? tidak. Mencari gaji?, tidak karena saya sudah punya usaha yang mapan. Dan saya juga type orang yang tidak suka menghadiri acara-acara yang protokoler dihormatin secara ensanoring gitu saya tidak suka.” Ungkap Chris Kalem.

Lalu apa yang dicarinya ketika mencalonkan diri akhirnya?

“Yang saya cari kepuasan batin, dimana ketika Covid memberi sebuah moment untuk saya mengintropeksi diri apa artinya sebuah kehidupan bagi seseorang. Jadi saat itu saya usia 60 tahun, dan saya mau pensiun dan saya melihat apa yang saya peroleh dari usia muda saya bekerja keras, disiplin, rajin belajar dan lain sebagainya sampai kepada titik dimana saya telah capai. Dan saya sekarang saya sudah merasa cukup.” Imbuhnya.

Chris menyatakan bahwa ia adalah pribadi yang punya prinsip hidup senang melihat orang senang dan susah melihat orang susah. “Mungkin kebalikan ya dari orang lain yang senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Sejak 15 tahun lalu saya sudah lakukan kegiatan sosial dengan berkunjung ke desa-desa memberi bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, itu menumbuhkan rasa senang,  memberi kebahagiaan tersendiri. Mulai dari yang kecil-kecil 10, 15 tahun lalu, ya sudah ketika saya mendirikan BPR ini kalaulah BPR  labanya Rp1M maka ada dana Rp50 juta untuk CSR, yang kita turun bagi-bagi bantuan ke desa-desa membagikan ke masyarakat misalnya Rp1 juta ke masyarakan yang membutuhkan, itukan ada rasa senang melihat mereka senang. Itu tahun pertama.” Ujarnya.

Dalam perjalanan ketika BPR bertumbuh dan laba berkembang Rp10 M, maka CSRnya sekitar Rp500 juta.

“Ya kan tapi kalau Laba Rp50 juta kan sedikit, tapi 500an juta kan banyak. Karena semakin banyak kita memberikan bantuan, semakin banyak kita turun melihat apa yang bisa kita bantu, kita semakin sadar terlalu banyak yang butuh kita bantu. Dan sampai titik ini saya sadar saya tidak mampu untuk bisa secara pribadi memberi bantuan melebihi kapasitas yang saya punya hingga saat ini. Satu-satunya yang bisa melalui jalan pemerintah. Karena kalau di DPR RI mengelola APBN secara nasional itu dananya triliun uang bisa kita jelaskan mewakili aspirasi kita ke pemerintah pusat, agar memperioritaskan anggaran pembangunan itu ke sektor-sektor yang dibutuhkan oleh masyarakat dan tepat sasaran tanpa korupsi. Itu yang saya  melihat jika punya keinginan membantu lebih banyak orang, ya harus masuk ke pemerintahan dan yang bisa lewat DPR RI karena disitu dana pemrrintah masyarakat, kita menjelaskan ke pemerintah bagaimana dana itu bisa turun dan dirasakan langsung oleh masyarakat dan masyarakat bisa lebih puas. Itulah hal prinsip dan fundamental mengapa saya mau ikut caleg.” Tuturnya.

Chris lantas menyebut beberapa kegiatan sosial, rohani dan dukungan atlet olahraga yang pernha didukung secara silent seperti Atlet Mua Thai Susan sejak 2018 sudah dibiayainya mengikuti beberapa kejuaraan bahkan jauh sebelum ia menyabet medali emas di PON 2020.

Ada juga atlet atletik asal NTT yang disupportnya, lalu Pertandingan ETMC 2023 Rote Ndao.

Di bidang rohani ia sering turun ke gereja-gereja di Kabupaten Kupang dan TTS memberikan dukungannya terhadap kebutuhan gereja GMIT disana.

“Semua itu saya lakukan bahkan tanpa berpikir jika suatu saat saya akan maju ke Politik sebagao caleg. Saya lakukan semuanya karena murni dorongan susah lihat orang susah dan akan senang lihat orang senang. Jika saya menyebutkan saat ini hanya agar publik tahu bahwa saya berbuat baik bukan karena ingin moment politik, tapi karena berbuat baik, berbagi dengan sesama itu sudah menjadi prinsip hidup saya. Dan saya berpikir jika jalur politik memberi kemungkinan saya berbuat lebih banyak dan besar bagi sesama, mengapa tidak saya pakai kesempatan itu?” Tandasnya.|| jbr