Cahaya Biru dari Kulit Buah Naga: Inovasi Partikel Mini Prof. Zakarias untuk Bumi

Kupang, TopNewsNTT.Com|| – Di sebuah sudut Laboratorium Fisika Universitas Nusa Cendana (Undana), seonggok limbah kulit buah naga tak lagi berakhir di tempat sampah. Di tangan Prof. Zakarias Seba Ngara, S.Si., M.Si., Ph.D., limbah organik yang kerap dipandang sebelah mata itu mengalami transformasi radikal: dibakar dalam suhu 300 derajat Celsius hingga melahirkan larutan bening yang berpendar biru cantik.

Larutan itu bukan sekadar cairan biasa. Ia mengandung Karbon Nanodots (K-dots), partikel ajaib berukuran 2 hingga 10 nanometer—ribuan kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia—namun memiliki potensi raksasa bagi dunia pertanian dan kesehatan.

Momen haru sekaligus membanggakan ini memuncak pada Rabu (8/4/2026) di Grha Cendana, saat Prof. Zakarias dikukuhkan sebagai Guru Besar Fisika Material Undana. Melalui orasi ilmiah bertajuk “Fabrikasi Karbon Nanodots Berbasis Material Organik dan Aplikasinya sebagai Sensor dan Sumber Nutrisi pada Tanaman”, ia membuktikan bahwa masa depan teknologi bisa lahir dari bahan-bahan yang paling sederhana.

Penyambung Nyawa Tanaman Sawi

Bagi Prof. Zakarias, fisika material adalah seni mengubah bahan “remeh” menjadi produk bernilai guna tinggi. Karbon nanodots yang ia ciptakan dari kulit buah naga memiliki kandungan oksigen yang tinggi, membuatnya sangat mudah larut dalam air. Keunggulan inilah yang menjadi kunci “keajaiban” di lahan pertanian.

Dalam risetnya, tanaman sawi yang diberi “nutrisi” larutan K-dots ini tumbuh lebih subur dibandingkan tanaman biasa. Bahkan, penggunaan bahan organik lain seperti lengkuas menunjukkan hasil yang mencengangkan: hanya dengan 5 hingga 6 mililiter larutan per minggu, tanaman dapat tumbuh optimal tanpa bantuan pupuk kimia sedikit pun.

“Peningkatan oksigen pada material ini membuatnya menjadi sumber nutrisi yang efektif bagi tanaman,” jelas pria yang kini melengkapi jajaran 56 profesor aktif di kampus “Unggul dan Berdampak” tersebut.

Mata Pintar untuk Lingkungan

Namun, manfaat partikel mini ini tak berhenti pada nutrisi. Karena sifatnya yang mampu memancarkan warna dan stabil terhadap cahaya, K-dots hasil rekayasa Prof. Zakarias juga berfungsi sebagai “mata pintar” atau sensor lingkungan.

Eksperimennya membuktikan bahwa material ini sangat selektif dalam mendeteksi keberadaan logam seng (Zn). Di masa depan, inovasi ini diproyeksikan menjadi alat deteksi pencemaran lingkungan yang ramah lingkungan dan murah, sekaligus berpotensi merambah dunia medis sebagai media penghantar obat yang presisi dalam tubuh manusia.

Dari NTT untuk Dunia

Riset ambisius ini tidak berjalan sendiri. Dukungan pendanaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui skema LPDP tahun 2026 telah mengalir untuk pengembangan lebih lanjut, khususnya pada tanaman kacang tanah. Kolaborasi pun diperluas hingga ke laboratorium Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) guna pengujian mendalam.

Di akhir orasinya, Prof. Zakarias menitipkan sebuah pesan penting tentang sinergi. Ia bermimpi agar temuan ilmiah ini tidak hanya tertidur di jurnal-jurnal akademik, tetapi benar-benar “membumi” di tangan petani.

“Kita tidak hanya menghasilkan inovasi ilmiah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui rekayasa material organik lokal,” pungkasnya optimis.

Hari itu, di antara barisan Guru Besar dala prosesi pengukuhan, Prof. Zakarias Seba Ngara telah menunjukkan bahwa dari tanah Nusa Tenggara Timur, sebuah partikel mikroskopis dapat memberikan cahaya terang bagi keberlanjutan bumi. Sebuah bukti bahwa sains yang paling canggih sekalipun, tetap bisa bersahabat dengan alam. (**)

Pr.hms.undana

(Ref)

 

Pojok Catatan: Pengukuhan Prof. Zakarias bersama Prof. Linda Fanggidae dan Prof. William Djani mengukuhkan posisi Undana sebagai pusat riset di Indonesia Timur yang kini diperkuat oleh total 79 Guru Besar (56 aktif).