Bedah Dampak Pariwisata di Rote, Mahasiswa Sosiologi Undana Sabet Juara 3 Riset Nasional APSSI

Kupang, TopNewsNTT.Com|| Prestasi membanggakan di tingkat nasional kembali diukir oleh talenta muda Universitas Nusa Cendana (Undana). Rudianus Metrolofen Lona, mahasiswa semester empat Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undana, berhasil menyabet Juara 3 kategori Artikel Riset dalam Lomba Kemahasiswaan Sosiologi Tingkat Nasional 2026. Kompetisi bergengsi tersebut diselenggarakan secara ketat oleh Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI).

Ajang ilmiah berskala nasional ini diikuti oleh lebih dari 140 kontestan yang merepresentasikan 43 perguruan tinggi ternama di seluruh Indonesia. Mengusung tema besar “Proyek Strategis Nasional (PSN): Menakar Konsekuensi Pembangunan dan Arah Kepentingan Nasional”, Rudianus sukses menembus barisan 10 besar nasional pada Mei lalu, sebelum akhirnya mempresentasikan draf risetnya di hadapan dewan juri pada 14 Juni, hingga resmi diumumkan sebagai pemenang pada 21 Juni 2026.

Soroti Pergeseran Nelayan Rote Menjadi Pelayan Jasa Wisata

Dalam kompetisi tersebut, Rudianus mengangkat potret riil dinamika sosial di kampung halamannya melalui artikel ilmiah berjudul “Dari Nelayan ke Pelayan Wisata: Transformasi Identitas Kerja Masyarakat Pesisir Akibat Proyek Strategis Nasional (PSN) di Desa Nemberala, Rote, NTT”. Dibimbing secara intensif oleh dosen Sosiologi FISIP Undana, Helga M. Evarista Gero, S.Pd., M.Si., Rudianus membedah fenomena sosiologis pesisir menggunakan metodologi riset yang tajam.

Riset tersebut menyoroti peralihan profesi yang masif di kalangan generasi muda Nemberala, dari yang semula mengandalkan hidup sebagai nelayan tradisional dan petani rumput laut, kini bergeser menjadi penyedia jasa akomodasi pariwisata. Rudianus menilai pergeseran ini merupakan respons ekonomi yang sangat rasional akibat ketidakpastian iklim yang kerap menyulitkan nelayan di laut.

“Masyarakat memilih beralih profesi karena sektor pariwisata menawarkan pendapatan yang lebih stabil untuk kebutuhan hidup bulanan mereka. Namun, di balik kemajuan ekonomi ini, ada kecemasan sosiologis karena nilai budaya laut yang diwariskan leluhur kini mulai memudar perlahan. Generasi muda menganggap pekerjaan wisata jauh lebih modern,” jelas Rudianus dalam wawancara pada Kamis (25/6/2026).

Sebagai jalan keluar, artikel riset mahasiswa Undana ini memformulasikan sejumlah rekomendasi taktis bagi pemerintah daerah. Rudianus mendesak adanya regulasi penyeimbang berupa integrasi edukasi budaya bahari bagi pemuda lokal serta penguatan sarana pesisir, agar modernisasi pariwisata tidak menggerus identitas maritim Rote Ndao.

Buktikan Riset Berbasis Persoalan Lokal Mampu Guncang Panggung Nasional

Kemenangan Rudianus Metrolofen Lona di panggung APSSI ini membawa dampak perubahan paradigma yang sangat penting bagi iklim akademis talenta muda di NTT. Selama ini, terdapat stereotipe emosional di kalangan mahasiswa daerah bahwa riset sosiologi yang bernilai tinggi harus selalu mengkaji fenomena urban di kota-kota besar atau mengadopsi teori-teori modern barat yang muluk-muluk.

Kondisi tersebut membuat banyak mahasiswa abai terhadap kekayaan data sosiografis dan konflik struktural yang terjadi di depan mata mereka sendiri di wilayah pelosok NTT.

Melalui keberhasilan membedah transisi sosial Desa Nemberala, mahasiswa Undana ini membuktikan secara empiris bahwa persoalan lokal di beranda terselatan Indonesia memiliki relevansi ilmiah tingkat tinggi yang mampu mengungguli puluhan universitas besar lainnya.

Dampak jangka panjangnya, pencapaian ini bertindak sebagai pemantik motivasi (academic booster) bagi ribuan mahasiswa Undana lainnya untuk turun ke desa-desa di NTT, melakukan riset berbasis kearifan lokal, dan menyuarakan kegelisahan sosiologis masyarakat pinggiran ke ruang kebijakan nasional lewat tulisan ilmiah yang kredibel.(**)

sp.hms.undana

(Audc)