3 Pulau Besar di NTT Dapat Hibah Alat Deteksi Dini Virus ASF pada Babi (LAMP) dari pemerintah Australia

Birokrasi Peternakan Regional

NTT, TOPNewsNTT|| Tiga pulau besar di NTT yakni Pulau Sumba, Flores dan Daratan Timor menerima 3 unit Alat pendeteksi dini virus ASF pada babi atau  LAMP (Loop Mediated Isothermal Amplification) lewat program PRISMA dan AIHSP dari pemerintah Australia yang diterima langsung oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Josef Nae Soi di ruang rapat Gubernur (Selasa, 7/2).

Dalam sambutannya Wakil Gubernur NTT mengapresiasi sekaligus sampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Australia atas penyerahan Alat Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP) tersebut.

“Atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi NTT saya menyampaikan limpah terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Australia karena melalui Program Australia Indonesia Patnership For Promoting Rural Incomes Through Support for Markets in Agriculture (PRISMA) dan Program Kemitraan Australia Indonesia Untuk Ketahanan Kesehatan (AIHSP) yang pada hari ini menyerahkan tiga alat pendeteksi virus penyakit demam babi afrika (ASF) yaitu Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP),” ungkap Wagub Nae Soi.

Diungkapkan Wagub Nae Soi kondisi Provinsi NTT yang sangat kaya dengan keanekaragaman budayanya, adat istiadatnya serta destinasi wisatanya yang terkenal dan sangat menarik dan juga kekayaan  di bidang kemaritiman, potensi kelautannya, pertanian dan peternakan seperti sapi, kerbau, kuda, babi, ayam yang ditonjolkannya sangat cocok untuk dikembangkan di Provinsi NTT karena didukung oleh kondisi iklim dan kondisi geografis yang cocok.
“Selain itu juga, beternak merupakan salah satu budaya yang sudah di warisi oleh para leluhur, yang merupakan salah satu sumber mata pencarian dalam pemenuhan ekonomi sehari-hari. Alat ini tentu akan sangat dibutuhkan karena akan sangat membantu para peternak babi dalam mendeteksi virus ASF,” kata Beliau.

Wakil Gubernur berharap dengan kehadiran alat ini dapat mendukung Pemerintah Provinsi NTT dalam upaya pemulihan sektor peternakan khususnya peternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengingat diagnosis dapat dilakukan lebih cepat, sehingga pengendalian dapat segera dilakukan.

“Alat ini dapat mengobati keresahan masyarakat akan keganasan virus yang dapat melumpuhkan perekonomian masyarakat khususnya masyarakat peternak babi ini dan sebaliknya dapat menumbuhkan kembali perekonomian masyarakat yang terlibat dalam perdagangan ternak dan produk turunan lainnya. Sebab akhir-akhir ini juga banyak keresahan yang mulai muncul khususnya bagi masyarakat peternak babi di Provinsi ini akibat mulai merebaknya lagi virus demam babi afrika (ASF). Pada awal Tahun 2023 ini Provinsi NTT kembali merasakan wabah baru virus ASF ini dan menjadikan daerah NTT sebagai daerah yang paling terdampak di Indonesia, baik secara ekonomi maupun budayanya,” papar Wakil Gubernur NTT.

Sementara perwakilan dari Departement Of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, Lulu Wardhani berharap dengan adanya 3 unit  Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP) dapat mencegah berkembangnya virus AFS di NTT karena deteksi dini dengan alat ini.

Ia juga mengapresiasi Prisma dalam upayanya lakukan pencegahan ASF.
“Semoga dengan Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP)  dapat mendiagnosa Flu Babi Afrika,  dimana kami mendengar kasus kematian babi yang meningkat lagi. Kami berharap 3 (tiga) alat yang akan didistribusikan melalui program ini di pulau Timor, Flores, dan Sumba akan bermanfaat bagi petani dan pihak-pihak yang terlibat dalam sektorsektor peternakan babi di NTT,” kata Lulu.

“Di tahun 2019, kami mendengar virus ASF mulai melanda Provinsi NTT, kami juga mendapat laporan bahwa peternak babi di NTT mengalami kerugian yang luar biasa. Sejak awal merebaknya virus ASF di NTT ini, banyak yang telah di lakukan oleh PRISMA untuk menanggulangi penyakit ini di NTT. PRISMA bekerja sama dengan pihak- pihak terkait antara lain Dinas Peternakan NTT, Direktorat Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian Tingkat Pusat, FAO (food and Agriculture Organization), OiE (World Organisation For Animal Health) terutama dengan pihak Swasta. “ ungkap Lulu Wardhani.

Lulu memgungkapkan bahwa Pemerintah Australia sangat senang PRISMA dapat berkolaborasi dengan program AIHPS yang bergerak di bidang kesehatan hewan untuk mengatasi penyakit flu babi Afrika ini.

CEO PRISMA, Nina Fitzsimons dalam sambutannya mengungkapkan rasa senangnya karena petani berskala kecil dan pengusaha yang terlibat dalam sektor beternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur akan mendapatkan akses terhadap fasilitas pengujian penyakit hewan yang tersedia di Pulau Flores, Sumba dan daratam Timor.

Yang akan membuat para peternak babi dan petani aman dan pendapatannya terlindungi, selagi sektor babi ini pulih dari virus demam babi Afrika.

Nina berharap  kerjasama yang telah terjalin akan tetap terus dijalankan bahkan ditingkatkan pada hasil yang akan datang.

Sementara itu John Leikgh selaku Direktur Program AIHSP ingatkan, pentingnya kerja sama multi sektor dalam  penanganan virus ASF.
“Dalam menangani ASF ini perlu kolaborasi semua pihak. Pemerintah Australia melalui penyerahan alat deteksi virus ASF (LAMP) ini sekaligus membangun kapasitas petugas lapangan dan teknisi laboratorium.
Kami mendukung Pemerintah NTT dalam memulihkan sektor peternakan babi secara cepat agar terbenas dari virus ASF,” ungkap John.

Turut hadir pada Kesempatan tersebut : Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT: Johana E. Lisapaly, S.H.,M.Si, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka: Y.E Satriawan Sadipun, S.P., M.Si, Kepala Dinas Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur: drh. Yohanis Anggung Praing,M.Si, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang: drh. Yulius Umbu Hunggar, Kabid Kesehatan Hewan: drh. Melky Angsar, MSi, PLT kepala Badan Perencanaan Pembangunan Bappeda Provinsi NTT: Dr.Ir.Alfonsus Theodorus,MT, Kepala UPT Veterinar Dinas Peternakan Provinsi NTT: Drh.Susi.D.Berek,M.Sc, team PRISMA dan team AIHSP.||juli br