Harumkan Nama NTT Di Kejurnas Angkat Berat Bali, 3 Atlet PABERSI NTT Boyong 12 Medali

Ceritera Inspiratif Olah Raga Regional

“Walau berlatih dengan alat fitness di Extrem Gym selama 6 bulan, 3 atlet kami harumkan nama NTT di Kejurnas Angkat Berat Bali 2022. Atlet kami sempat kaget melihat tempat latihan dan fasilitas khusus angkat berat disana, karena selama ini di Kupang mereka berlatih dengan alat fitness” ujar Robinson Makatita Pelatih ketiga atlet tertawa miris. 

NTT, TOPNewsNTT|| 3 Atlet angkat berat asal PABERSI  NTT berhasil harumkan nama provinsi NTT di ajang Kejuaraan Nasional Angkat Berat 2022 yang dilaksanakan di Bali (3-8 Juli 2022)  karena mampu memboyong 12 medali : yakni Emas 5, perak 1 dan perunggu 6.

Demikian penjelasan Robinson Makatita, saat diwawancarai  (Jumat, 8/7) sesaat mereka tiba di Kupang.

Ketiga atlet itu adalah Jovi Molina ikut pada kelas 53 kg juniorn putera, Astrid Kosat  kelas 76 kg puteri remaja, dan Birgita Yulia Kolin kelas 76 Junior Puteri Spesial Olympic.

Ketiga Atlet Angkat Berat NTT Astrid, Jovid dan Birgita di Kejurnas Angkat Berat Bali 2022

Menurut pelatihnya Robinson Makatita ke 3 atlet Angkat Berat yang mewakili NTT di Kejurnas Angkat Berat 2022 Bali (3-8 Juli) baru 6 bulan (Jan-Juli 2022) mengikuti pelatihan di Klub Extreme Gym dan termasuk kategori remaja dan Junior.

Yang luar biasa adalah walau baru pertama kali ikut kejurnas, waktu latihan 6 bulan dan berlatih hanya menggunakan alat fitness, ketiga atlet mampu menunjukkan performa terbaik dengan bukti ketiga atlet ini mampu memboyong 12 medali. Walau diakui mereka sempat terkaget-kaget dengan alat dan tempat latihan disana yang sangat jauh berbeda dengan tempat mereka di Kupang.

“Walau hanya berlatih dengan alat fitness di Extrem Gym selama 6 bulan, 3 atlet kami mampu harumkan nama NTT di Kejurnas Angkat Berat Bali 2022. Atlet kami sempat kaget melihat tempat latihan dan fasilitas khusus angkat berat disana, karena selama ini di Kupang mereka berlatih dengan alat fitness” ujar Robinson Makatita Pelatih ketiga atlet tertawa miris.

Lebih jauh Robinson menjelaakan bahwa pada saat pelatihan dari PABERSI  mengadakan kejuaraan nasional remaja dan Junior.

“Dan kami menyambut baik, karena ini merupakan sebuah kesempatan mereka untuk selain menimba pengalaman di tingkat nasional, juga untuk menunjukkan kemampuan mereka sebagai atlet angkat berat untuk bertanding di ajang nasional sebagai atlet angkat berat untuk bertanding lagi di ajang nasional berikutnya yang rencananya akan dilaksanakan di Pekanbaru.” Jelas Robinson bangga.

Ia menambahkan ketiga atlet ini mengikuti Kejurnas angkat berat di kelas 53 kg Junior Putra, kelas 76 kg remaja putri, dan kelas 76 kg puteri junior spesial Olympic.

Mereka berhasil membawa pulang 5 medali emas, 1 medali perak, dan 6 medali perunggu.

Kelas 53 kg mereka berhasil membawa 1 medali emas 1 medali perak dan 2 medali perunggu, sedangkan di kelas 76 puteri 4 medali perunggu, dan 76 junior puteri 4 medaii emas.

Yang mendukung mereka untuk maju ke Kejurnas angkat berat adalah dari pengurus PABERSI NTT ( baik dari aspek anggaran dan dukungan moril) dan donatur, serta pemerintah NTT intansi dan KONI NTT.

“Hal ini ditempuh karena angkat berat belum menjadi cabor super prioritas yang dipertandingkan. Jadi kita cabang olah raga lama tapi baru, ada dalam satu wadah yang namanya PABBSI Persatuan Angkat Besi, Bina Raga dan Angkat Berat, tapi karena di Federasi Dunia tidak mau kalau olahraga mereka masuk dalam satu olahraga yang digabung sehingga dipisahkan. Angkat besi sendiri, Bina Raga sendiri dan Angkat Berat sendiri.” Jelas Robinson.

Karena Kontingen NTT baru pernah ikut  di Kejurnas Bali 2022 dan hanya terdiri dari tiga atlet tapi langsung mengharumkan nama provinsi NTT di tingkat nasional dengan 12 medali. sehingga Robinson sebagai pelatih berharap pemda NTT ikut memperhatikan cabor ini dengan anggaran, pelatihan dan dukungan fasilitas pelatihan yang memadai. “Karena saat ini kami menggunakan salah satu ruangan di Extreme Gym di TDM, Kupang. PABERSI NTT ini sudah berdiri sejak 2019 dan sempat vakum di 2020 karena Pandemi Covid dan baru mulai aktif di tahun 2022 dengan jumlah atlet binaan sebanyak 10 orang yang rata-rata berusia remaja dan junior (14-18 tahun).” Ujarnya.

Ia berharap, pemda NTT lewat KONI NTT bisa memperhatikan mereka,  karena potensi Angkat Berat ini dari dulu sudah ada di NTT. “Kita sangat harpkan dukungan pemerintah NTT lewat KONI NTT lagi untuk kejuaraan lainnya. NTT gudang atlet angkat berat, san sangat berbakat.  Buktinya ketiga atlet kami ini pertama kali ikut di Kejurnas angkat berat di Bali langsung ketiga-tiganya membawa pulang banyak medali. Dan di tingkat nasional kami tidak mewakili  Extreme Gym, tapi mewakili NTT.” Tandasnya lagi.

Ia berharap ke depan selain punya fasilitas dan tempat latihan sendiri, Angkat Berat bisa menjadi cabor super prioritas yang bisa ikut dalam ajang nasional, dan juga digelar kejurda NTT.

“Kami ingin mencari perhatian pemerintah dengan membuat prestasi terlebih dulu, paling tidak dua kali pengalaman  Kejurnas dan peroleh medali.” Imbuh Robinson.

Dan selama ini, aku Robinson, mereka disupport oleh ketua Extreme Gym Valentino Bambang Sutjipto dengan memberikan tempat dan alat fitness bagi atlit mereka.

Sebagai pelatih Robinson berharap  karena mereka sudah punya banyak atlet junior, pemerintah bisa melirik cabor ini.

“Terutama akan dihelat sebelum PON 2024 Aceh, akan didahului pra PON 2023, setelah kejurnas Angkat Berat 2022 Bali Atlet-Atlet besutan Extreme Gym akan persiapkan diri untuk ikut dalam Kejurnas Junior Lampung 2022. Dan PON 2028 NTT akan menjadi tuan rumah PON. Dan kami berharap difasilitasi dengan alat latihan. Karena waktu Kejurnas Bali atlit Angkat Berat NTT kaget semua lihat alat angkat berat di sana, karena selama ini mereka berlatih dengan alat fitnes di NTT.” Ungkapnya.

“Salah satu atlet Jovi sampai kena dis sebanyak dua kali berturut-turut, karena kaget dengan alat latihan angkat berat yang baru pertama  mereka lihat disana, karena selama ini berlatih dengan alat fitnes. Tapi kami bangga pada atlet kami bahwa mereka punya berpotensi. Buktinya walau dengan alat fitnes, berlatih hanya 6 bulan dan baru pernah ikut Kejurnas, luar biasa ketiganya membawa pulang banyak medali. Apalagi jika dibekali san didukung semua sarana prasarana dan fasilitas pendukung yang memadai, pasti akan lebih berprestasi di nasional.” Ujarnya berharap.

Jovid Molina sebagai atlet putera mengakui baru Pebruari 2022 berlatih di Extreme Gym dan pertama kali ikut Kejurnas, akui walau sempat kaget dengan peralatan Angkat Berat yang sebenarnya, tapi dengan cepat mengadaptasi diri dan mampu membawa medali emas 1, perak 1 dan perunggu dua dikelas yang diikuti.

“Saya sempat nervous karena situasi Bali sangat beda baik tempat latihan maupun fasilitas pendukung yang benar-benar khusus untuk angkat berat bagi dirinya yang baru pertama kali dilihatnya. Karena selama ini berlatih menggunakan alat dan tempat fitnes.” Jelas Jovid.

“Saya sangat bersykur bisa membawa pulang medali. Dan karena saya akan persiapkan diri di Kejurnas Lampung dan PON 2024 di Aceh maka saya berharap pemerintah bisa membantu dengan sarana prasaran pendukung agar bisa makin mengharumkan nama NTT di tiingkat nasional dan bisa bisa digelar kejurda.” Ungkapnya terharu.|| juli br