Sebut Ilmu Punya Kedaluwarsa bak Yogurt, Pakar AS Desak Dosen di Kupang Ubah Metode Mengajar

Kupang, TopNewsNTT.Com|| International Relations Office (IRO) Universitas Nusa Cendana (Undana) sukses menggelar Kuliah Umum Internasional yang berfokus pada evaluasi konsep belajar-mengajar (Review Teaching and Learning Concept) di lingkungan Undana, Kupang, pada Kamis (25/6/2026). Langkah strategis ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Undana dalam melakukan akselerasi menuju visi universitas berkelas dunia (World-Class University).

Agenda ilmiah tersebut menghadirkan pakar pendidikan kenamaan dari Indiana State University, Amerika Serikat, Prof. Will Barratt, sebagai narasumber utama. Di hadapan ratusan dosen, guru sekolah, serta mahasiswa rumpun ilmu pendidikan, Prof. Barratt membedah urgensi pembaruan keterampilan mengajar serta adaptasi pengolahan data akademik di tengah masifnya disrupsi teknologi di ruang kelas.

Sentil Janji Kampus Dunia dan Populerkan Metode Small Talk

Dalam pemaparannya, Prof. Will Barratt memberikan perumpamaan menohok terkait ilmu pengetahuan teoretis konvensional yang cepat usang jika para pengajar tidak aktif melakukan riset mandiri. Ia menekankan bahwa guru dan dosen wajib memutakhirkan praktik mengajar terbaik mereka guna mengimbangi penetrasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini mulai merambah dunia sekolah.

“Setiap orang perlu meningkatkan keterampilan mereka. Pengetahuan itu memiliki tanggal kedaluwarsa, sama seperti yogurt. Menjaga diri tetap mutakhir dengan riset terbaru dan praktik terbaik sangatlah krusial,” sentil Prof. Barratt.

Mengenai ambisi civitas akademika Undana untuk menembus standar global, Prof. Barratt mengingatkan agar universitas tidak terjebak pada sekadar jargon atau melempar janji besar tanpa aksi nyata. Ia menantang jajaran pengajar untuk berani berpikir kritis, bertindak konkret, serta konsisten melakukan evaluasi berkala terhadap pencapaian harian di kelas.

Pelatihan ini memikat antusiasme tinggi karena Prof. Barratt langsung mempraktikkan metode diskusi kelompok kecil (small talk in a small group). Diana Rifda Hanifa, S.Pd., seorang tutor sekolah daring di EFE Indonesia sekaligus mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris Undana, mengaku terpukau dengan efektivitas teknik interaktif tersebut.

Menurut Diana, metode interaktif ini berhasil mentransformasikan siswa dari sekadar pendengar pasif menjadi partisipan aktif. Selain itu, materi tersebut memberikan panduan aplikatif mengenai manajemen emosi guru serta teknik mengenali spektrum kepribadian siswa, baik yang bertipe introvert maupun ekstrovert.

Kuliah Umum dan Kampanye Pengajar Bahagia

Kuliah umum internasional ini merupakan puncak dari rangkaian agenda akademik terpadu yang sebelumnya diawali dengan lokakarya (workshop) intensif selama dua hari bersama pakar asing lainnya.

Kepala IRO Undana, Santri E. P. Djahimo, S.Pd., M.App.Ling., Ph.D., Post Grad.Dip (RMS), menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi Prof. Will Barratt dan Prof. Leslie selama tiga hari berturut-turut membagikan ilmu kepakaran mereka di Kota Kupang.

Ia menyatakan bahwa forum ini menjadi momentum krusial bagi para pendidik di NTT untuk keluar sejenak dari rutinitas administrasi harian dan merefleksikan kembali keyakinan edukatif mereka dari kacamata global. Di akhir sesi, Santri menggemakan sebuah catatan reflektif bagi para guru dan dosen di NTT.

“Satu hal yang saya catat adalah happy people doing happy things (orang yang bahagia melakukan hal-hal yang membahagiakan). Jadi, mengapa kita tidak menjadi guru-guru yang bahagia untuk menyambut siswa-siswa yang bahagia pula?” pungkas Kepala IRO Undana tersebut.

Mereduksi Depresi Akademik dan Mengikis Budaya Menghafal

Intervensi pedagogi modern oleh pakar pendidikan Amerika Serikat melalui IRO Undana ini membawa dampak perubahan sosiologis yang sangat mendasar bagi ekosistem pendidikan tinggi dan menengah di Kupang. Selama ini, gaya mengajar di NTT masih didominasi oleh metode ceramah satu arah (teacher-centered) yang kaku, yang cenderung memaksa siswa menghafal materi teks demi meloloskan diri dari ujian formal kampus atau sekolah.

Pola pengajaran usang dan minim interaksi humanis tersebut tidak hanya membuat ilmu pengetahuan menjadi cepat “kedaluwarsa”, tetapi juga kerap memicu tingkat stres dan kebosanan akademik yang tinggi pada siswa maupun mahasiswa.

Dengan diadopsinya metode small talk dan manajemen pengelolaan emosi yang diajarkan Prof. Barratt, para dosen dan guru di Kupang kini memiliki modal taktis untuk mengubah ruang kelas menjadi lingkungan yang inklusif dan menyenangkan.

Dampak jangka panjangnya, ketika kultur “pengajar bahagia, siswa bahagia” ini diimplementasikan, atmosfer akademik Undana akan berubah menjadi inkubator berpikir kritis yang sehat. Langkah ini secara instan mereduksi kecemasan belajar mahasiswa, sekaligus mematangkan kesiapan lulusan Undana untuk beradaptasi dengan iklim kerja global yang dinamis serta menuntut keterampilan komunikasi aktif tingkat tinggi.(**)

(FnT)

sp.hms.undana