Festival Budaya Kelurahan Nunleu Angkat Budaya Etnis Manggarai: Dari Tarian, penyerahan Ayam Jantan Putih, Sampai Minum Moke
Kupang, TopNewsNTT.Com|| Festival Budaya Kelurahan Nunleu yang mengangkat Budaya Etnis Manggarai dengan Thema “Naring, Mori Agu Ngaran” yang berasal dari bahasa Manggarai (Flores, Nusa Tenggara Timur). Secara harfiah, artinya adalah “Sang Pencipta dan Pemilik”.
Mori berarti Tuhan atau Penguasa, Agu berarti dan Ngaran (sering juga ditulis naran) berarti yang memiliki atau pemilik. Naring merujuk kepada yang menciptakan atau yang membuat sesuatu ada.
Frasa ini sering digunakan dalam doa, ritual adat seperti Kapu Agu Naka, atau torok (ucapan syukur/doa tradisional Manggarai) untuk menyebut dan memuliakan Tuhan Yang Maha Esa.
Event Festival Budaya tahun 2026 Kelurahan Nunle’u menjadi istimewa karena hanya di kelurahan ini mengangkat etnis Manggarai paling sedikit dan mayoritas penduduk adalah Suku Rote, Sabu dan Timor, serta mengangkat thema dari budaya dan berbahasa Manggarai.
Penggunaan bahasa Adat Manggarai sebagai Thema ditengah masyarakat yang mayoritas suku lain, bulan hanya sebuah keunikan tapi menunjukkan persatuan dan rasa menjunjung tinggi budaya suku lain yang kuat.
Hal ini menggambarkan bahwa keberagaman dan perbedaan di kelurahan ini dihargai dan mempersatukan masyarakat yang berbeda. Ini luar biasa dan terjadi hanya di festival kedelapan di kelurahan Nunle’u. Pada pembukaan Festival disajikan tarian Tari dari Kabupaten Manggarai Ndundu Ndake, Benggong hingga Barong Sai, bahkan dalam sesi ramah tamah disajikan makanan khas Manggarai : jagung bose, rumpu rampe, ikan asin, daging sapi asap serta minuman khas Manggarai tuak dan sopi. Dan selama Festival yang akan berlangsung tiga hari (25-27 Juni 2026) akan diisi dengan berbagai tarian, lomba fashion show, lomba menari dll dari berbagai daerah.
Yang menbuat unik dari pembukaan Destival Budaya Kelurahan Nunle’u ini dilakukan ritual penyambutan secara adat Manggarai bagi Sekda Kota Kupang Jefry Pelt didampingi Kadis Pariwisata Kota Kupang, Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Nunle’u, Plt Lurah Nunleu Jonetha Pello disambut oleh pemangku Adat Suku Manggarai dengan penyerahan seekor ayam jantan putih kepada Sekda, pemakaian kopiah khas Manggarai, pemakaian selendang tenun ikat Manggarai, hingga jamuan minum Moke dan tuak kepada Sekda dan rombongan, serta tarian penyambutan Tarian “Ndundu Ndake” dari Manggarai Timur.
Usai sambutan Sekda.Jefry Pelt dilanjutkan dengan tarian Benggong Tari Benggong berasal dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini diiringi oleh lagu rakyat tradisional Manggarai yang berjudul sama dan sering diangkat menjadi tari kreasi baru yang anggun untuk menyambut tamu kehormatan dalam berbagai acara.
Sekda.Kota Kupang Jefry Pelt membuka Festival Budaya Kelurahan Nunle’u membacakan sambutan Wali Kota Kupang mengatakan bahwa Festival ini unik karena menampilkan penghargaan terhadap kebesaran Tuhan lewat keberagaman budaya, “Sesuai thema “Naring, Nori Agu Ngaran” atau kekuasaan dan kebesarana hanya bersandar kepada Tuhan.” Sebut Jefry.
Jefry menyampaikan ucapan terima kasih kepada panitia dan kelurahan yang memilih etnis Manggarai, “Walau kebanyakan warga Kelurahan Nunle’u adalah dari suku Rote, dan ini sebagai upaya untuk memperkenalkan kepada kita semua bahwa kita harus lebih banyak mengenal budaya dari etnis lain agar dapat meluaskan wawasan berpikir dan saling menghargai” ungkap Jefry.
Jefry juga memuji upaya yamg dilakukan panitia mengangkat budaya Manggarai saat penyabutan tadi sebuah penghargaan yang unik yang baru pertama kali dilakukan di Festival Budaya Kelurahan, ” tadi kami disambut dengan penyerahan Ayam Jantan Putih, Kopiah, Selendang Manggarai serta minum Sopi dan Tuak sebagai upaya yang totalitas untuk memperkenalkan budaya Manggarai.” Puji Jefry.
Jefry juga memuji MC yang ternyata berusia 70an tahun dan berasal dari Suku Rote Ndao tapi sangat fasih menarasikan tutur bahasa Adat Manggarai, benar-benar Festival Budaya terunik dan terbaik, di festival ke 8 kalinya ini.
Jefry mengingatkan keragaman budaya sejatinya untuk mempererat dan memperkuat tali persukutan dan peraaudaraan diantara masyarakat.
“Kami berharap lewat kegiatan selama tiga hari ini dapat menggerakan mempererat persatuan ditengah perbedaan dan keberagaman, sebagai wadah mengekspose semua kekayaan budaya NTT di kelurahan ini serta dapat menggerakkan sektor ekonomi dalam dari pelaku usaha kecil menengah yang ada di kelurahan ini.” Semoga lewat festival ini dapat membangkitkan semangat, sukacita dan persatuan di kelurahan ini dan menjadikan momentum ini untuk merawat persatuan, keberagaman dan toleransi di kota Kupang.” Kata Jefry.
Dalam festival ini akan di gelar Lomba Fashion Show busana adat Tenun Ikat NTT, Lomba Karaoke dan Lomba Tarian Kreasi Baru disertai Pemeriksaan Kesehatan Gratis dari UPTD Puskesmas Bakunase.|| jbr