Universitas San Pedro dan Sekolah-Sekolah Reformasi Terus Kerja Kolaborasi Dengan Berbagai Ahli Edukator Dari Australia dan Amerika Utara

Daerah Edukasi nonformal Pendidikan

Noelbaki-NTT, TOPNewsNTT|| Yayasan Pendidikan Reformasi Noelbaki  yang membawahi 9 Lembaga Pendidikan jenjang TK, SD, SMP, SMA, SMK, SMTK Reformasi Plus dan Yayasan Servas Mario yang membawahi Universitas San Pedro Kupang menggelar In House Training (IHT) bagi 80 guru dan 50 dosen yang mendidik anak bangsa di kedua yayasan pendidikan Kristiani tersebut di Aula Sekolah Reformasi Noelbaki (Rabu, 16/8).

Keseriusan kedua Yayasan Pendidikan meningkatkan kualitas pendidikan lewat peningkatan kapasitas para guru dan dosen tidak main-main di lakukan oleh Pdt.Johnson Dethan,S.TH,M.Div yakni dengan mengundang tiga expert training dari EduDeo antara lain Katte, Daniel dan Keith.

In House Traning sudah berlangsung selama hampir sebulan dari awal Agustus dan hari ini masuki hari ke 16.

Ketua Yayasan Pendidikan Reformasi Plus dan Servas Mario Pendeta Johnson G.Dethan,S.Th,M.Div kepada media menjelaskan pihak Yayasan berpikir bahwa pendidikan di Indonesia tidak bisa berkembang tanpa kita adakan inovasi-inovasi baru.

Inovasi itu hanya  bisa terjadi yang pertama harus ada divine cinection yang artinya harus bisa berelasi dengan Tuhan Sumber Hikmat dan Hidup.

Jadi di Reformasi mengikuti perkembangan kurikulum di Indonesia, tapi tidak saja puas dengan itu sehingga YPRN membuat konsep divine conection sehingga dapat inspirasi, inovasi, ide dan pikirna baru untuk bisa mengembangkan pendidikan di yayasan ini yang berbeda tetapi tidak keluar dari kurikulum di Indonesia.

Di Indonesia sudah ada kurikulum yang baru yang bagus yakni Kurikulim Merdeka dan Kampus Merdeka yang dicetuskan Menteri Pendidikan. Dan ini cocok dengan apa yang sudah dibuat Reformasi 20 tahun lalu.

Dalam pemahaman kami konsep Kurikulum Merdeka dan Kampus Merdeka adalah Sekolah diberikan kemerdekaan dan kebebasan untuk menciptakan kurikulum mandirinya dan sesuai dengan konteks.

Disini Reformasi mencoba mengambil dan mengembangkan kurikulum Metode, lesson plan dan implementasi pembelajaran yang ada di Reformasi dan San Pedro, karena San Pedro lahir dari Reformasi.

Selama sebulan penuh sejak 27 Agustus, pihak yayasan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan bagi para dosen, rektor dan para kepala sekolah yayasan Reformasi mulai tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK, SMTK, hingga Universitas.ada 25 lembaga pendidikan dan satu PT.

Kita tidak bisa ikut arus saja tapi harus membuat sebuah inovasi baru dan harus ada divine conection dan butuh pengertian dan epxpertis yang memilik berbagai pengalaman sebagai sumber ilmu diantara tiga ahli tadi lewat Yayasan EduDeo yang berasal dari Kanada, Australia dan Amerika Utara.

Pada 27 Juli lalu yayasan Reformasi mengundang seorang profesor yang selama seminggu mengajar pengajar di sini dan sudah selesai dan profesor Hank dna John Batler lalu dilanjutkan dengan tiga expert yang satu ibu Kat sudah pulang dan Keit dan Daniel yang masih memberikan pelatihan saat ini.

Orang-orang seperti ini membantu kami melaksanakan Kurikulum Merdeka dengan inovasi-inovasi kita tapi dikolaborasi dengan inovasi para expert untuk menciptakan suatu konsep lain dan disesuaikan dengan kondisi kita dan Kurikulum Merdeka. Salah satu guru menginformasikan bahwa mereka sudah menciptakan sebuah kurikulum yang sesuai Kurilulum Merdeka dan mengarah kepada Alkitab karena kita sekolah Kristen sehingga kita tidak bisa keluar dari sifat-sifat dan standar Kristiani. Dan ahli yang kami undamg sudah kita cakapkan mereka dan apa yang mereka ajarkan harus sesuai dengan standar kita sebagai sekolah Kristen di sini. Semua lokakarya yang mereka gelar harus sesuai dengan Alkitab.

Di San Pedro dan Reformasi menghharus setiap dosen dan guru harus kembali ke visi kita,  misalnya di San Pedro memilik visi “Memilik Perguruan Tinggi Yang Bermutu Secara Luar Biasa Dalam IPTEK dan IMTAK” (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Iman dan Takwa). Prinsip kami, IPTEK membuat anak-anak pintar tapi harus juga memiliki IMTAK.

Visi kita Ilmu dan iman harus berjalan beriringan untuk menghasilkan generasi yang berilmu dan beriman.  Setiap ilmu yang diberikan harus kembali ke Bible. Visi adalah kekuatan kita. Sedangkan Misi turun ke kurikulum yang akan menghasilkan lesson plan (RPP di Sekolah) dan RPS di PT dan harus ke visi, pelatihan ini adalah implementasi dari visi dan misi Reformasi agar anak didik dan mahasiswa berilmu dan beriman (IPTEK dan IMTAK). Itulah yang membuat Reformasi beda.

Siswa juga harus mengimplemetasikan dalam kegiatan KBM berupa project-project dengan konsep Name, Game dan Frame (Perkenalan (nama), Bermain dan Action). Jadi anak-anak diharus saling berkenalan, bermain game yang ada hubungan dengan pelajaran dan mempraktekkan dalam bentuk project. Tujuannya adalah anak didik dan pendidik tidak jenuh dan mau belajar. Jadi kami merubah sistem KBMnya bukan hanya teori guru menyampaikan saja di depan kelas. San semuanya harus back to the bible termasuk dalam interaksi antar warga sekolah.

Sementara Daniel dan Keith sebagai trainer atau expert EduDeo senada dengan Pendeta Johnson menjelaskan,

“Kami dari Yayasan EduDeo Amerika kami bekerja dengan sekolah-sekolah di dunia untuk meningkatkan standar pendidikan mereka. Hari ini kami memberi pelatihan dengan sekolah di sini cara mengajar  dan menerapkan pelajaran. Kami memperkenalkan dan membimbing bapak ibu guru dan dosen di dua yayasan ini untuk bagaimana mereka mengajarkan anak didik dalam perspektif Kristiani. Bagaimana cara mengajar, dan memberi respon terhadap siswa dengan  belajar secara Krsitiani dan mencari ayat-ayat Alkitab untuk diterapkan dalam pelajaran. Konsep kami adalah mengajar dan belajar bersama atau kami sebut “Walking Together.” Ungkap Keith.

Keith memastikan Yayasan EduDeo akan terus kegiatan pelatihan di sekolah Reformasi dan berharap akan berlanjut terus bahkan jika ada  sekolah lain yang mengundang. Tapi saat ini Yayasan EduDei hanya bekerja sama dengan Yayasan Reformasi dan Sevas Mario.

“Kita berbagi pengalaman dan ilmu dan silahkan dinilai apakah cocok tidak dengan kondisi di sekolah ini. Lihat saja ini para peserta bapak ibu guru dan dosen yang sangat tertarik  menerima pelatihan pelatihan dengan bersemangat.” Cetusnya Keith.