Kawal Isu Kerakyatan, Ormawa FISIP Undana Gelar Mimbar Bebas di Tengah Momentum Pengukuhan Guru Besa

Kupang, TopNewsNTT Com|| – Momentum pengukuhan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si., diwarnai dengan aksi refleksi dan orasi ilmiah oleh mahasiswa. Melalui payung Organisasi Mahasiswa (Ormawa) FISIP yang terdiri dari BLM, BEM, dan HMP, para mahasiswa menggelar mimbar bebas sebagai simbol keberpihakan akademik terhadap isu-isu krusial, Rabu (8/4/2026).

Rangkaian aksi dimulai dengan pengantaran Prof. William dari gedung fakultas menuju Grha Cendana sebagai bentuk apresiasi terhadap pencapaian akademik tertinggi. Namun, setelah prosesi tersebut, massa mahasiswa kembali ke pelataran FISIP untuk menyuarakan keresahan mereka melalui mimbar bebas yang melibatkan aktivis dari organisasi intra maupun ekstra kampus.

Simbol Kebebasan Berpendapat dan Advokasi Kampus

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Undana, Viquera Messakh, menegaskan bahwa aksi ini merupakan langkah progresif untuk mengubah momentum seremonial menjadi ruang advokasi. Menurutnya, mahasiswa bukan sekadar objek, melainkan subjek intelektual yang memiliki peran historis untuk menjaga kebebasan berpendapat.

“Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi simbol bahwa suara mahasiswa tidak layak untuk dibungkam. Kami ingin menunjukkan posisi historis mahasiswa di dalam ruang intelektual kampus,” tegas Viquera dalam orasinya.

Soroti Pelecehan Seksual hingga Kriminalisasi Aktivis

Mimbar bebas tersebut menyoroti berbagai persoalan internal yang dinilai dapat mencederai ekosistem akademik. Isu-isu sensitif seperti kekerasan seksual di lingkungan kampus, praktik gratifikasi saat ujian, hingga penyalahgunaan relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa menjadi poin utama tuntutan mahasiswa.

Mahasiswa FISIP juga menyuarakan solidaritas terhadap persoalan rakyat di tingkat lokal maupun nasional. Mereka menuntut keadilan bagi Lucky dan Delvi, serta mengecam kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan Erasmus Frans Mandato. Selain itu, kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, dan berbagai tindakan represif aparat keamanan terhadap masyarakat sipil turut menjadi perhatian besar.

Komitmen Pengawalan Berkelanjutan

Viquera memastikan bahwa aksi tersebut bukan merupakan kegiatan yang bersifat sementara. Ormawa FISIP berkomitmen untuk terus mengawal dan mengkampanyekan isu-isu tersebut secara berkelanjutan agar publik tetap sadar akan kondisi sosial dan hukum yang sedang terjadi.

“Semua persoalan ini tidak akan berhenti hari ini. Kami akan terus bersuara agar publik mengetahui bahwa kondisi kita tidak sedang baik-baik saja. Melawan ketidakadilan membutuhkan keberanian untuk berbicara dan berjuang,” pungkas Viquera.

Aksi yang berjalan dengan tertib tersebut diharapkan mampu menjadi pengingat bagi seluruh sivitas akademika bahwa pencapaian gelar tertinggi di universitas harus berjalan beriringan dengan komitmen dalam menjaga martabat kemanusiaan dan keadilan sosial.(**)

pr.hms.undana

(Ing)