Perkenalkan dan Promosi Budaya NTT, SMPN 2 Kupang Terapkan Gerakan Ini

Kupang, TopNewsNTT.Com|| SMPN 2 Kupang punya cara positif memperkenalkan dan mempromosikan budaya NTT bagi siswanya sejak dini, baik lewat mata pelajaran Seni Budaya maupun kegiatan ekstra kurikuler seni dan budaya lokal NTT.

Kepala SMPN 2 Kupang Naomi Kore Doko,M.Pd kepada media ini menjelaskan lebih detil terkait langkah-langkah apa saja yang sudah dilakukan di ruang kerjanya (Rabu, 3/6/2026).

Untuk mengangkat, memperkenalkan serta mempromosikan Seni Budaya NTT, sekolah menerapkan aturan wajib bagi para siswa menggunakan selendang bahan tenun ikat NTT setiap hari Selasa dan Jumad.

“Dengan kewajiban ini maka setiap murid saat memakai selendang tenun ikat NTT, akan secara otomatis mengenal dan mempromosikan tenun ikat NTT, lalu orang yang melihatnya juga menjadi tertarik dengan motif kain tenun ikat NTT.” jelas Naomi.

Untuk memperkenalkan kepada murid tentang ragam Seni dan Budaya NTT maka Sekolah menyiapkan Kegiatan Eskul pada setiap Rabu, siswa dapat berlatih berbagai jenis seni tradisonal NTT seperti tarian dan lagu tradisonal NTT, ”Tujuannya selain memperkenalkan ke siswa apa saja jenis seni budaya NTT lewat tarian dan lagu, juga mempersiapkan siswa untuk ikut lomba atau jika dibutuhkan tampil mewakili sekolah di event-event budaya kami sudah punya murid yang terlatih dan siap di pakai kapan saja, jadi tidak harus membentuk tim secara mendadak, melatihnya hanya untuk sebuah kegiatan di dalam maupun luar sekolah.” Jelasnya.

Selain kewajiban diatas, Seni dan Budaya juga menjadi mata pelajaran wajib bagi murid, yang secara teori dan praktek memperkenalkan apa saja ragam dan jenis budaya Indonesia.

“Namun karena buku matpel Seni dan Budaya disusun dan diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan maka isinya hanya secara garis besar seni budaya dari seluruh Provinsi. Untuk lebih memperkenalkan budaya NTT secara mendalam  kami pihak sekolah diberi ruang untuk mengupayakan materi bahan ajar dari internet tentang materi seni budaya NTT.” Jelas Namoni.

Untuk memperlengkapi siswa mengenal seni budaya NTT, selain mata pelajaran SBd, Naomi berencana akan mengambil pengajar praktik untuk berbagi praktik baik dari luar sekolah dimana murid bisa diajarkan teori dan langsung mempraktekkannya sekaligus agar murid tidak jenuh dengan teori saja.

Ia berkomitmen Seni Budaya Lokal NTT harus diangkat dan diperkenalkan kepada generasi muda sejak dini dan salah satunya lewat kegiatan eskul dan matpel Seni Budaya (teori dan praktek).

Namun diakuinya bahwa buku matpel pelajaran Seni dan Budaya khusus budaya Lokal NTT tidak memiliki buku referensi yang tepat sehingga selama ini para guru matpel SBd harus kreatif mencari dan menyusun sendiri materi Seni Budaya NTT dari 22 kabupaten di NTT.

Naomi menjelaskan bahwa pihak guru matpel SBd sudah berupaya menyiapkan materi tambahan seni budaya dari 22 kabupaten kota di NTT yang diambil dari internet yang telah disusun, namun tidak bisa diperbanyak karena kendala anggaran sekolah yang terbatas, sementara jika meminta  kontribusi orangtua siswa untuk memperbanyak (foto copy), kuatir akan disentil sebagai “pungutan liar.”

“Jadi harapan saya, kalau Bapak Wali Kota berkenan, membuatnya menjadi perwali,  sehingga legal untuk memperbanyak bahan ajar seni dan budaya NTT yang sudah dikumpulkan dan disusun guru matpel dari 22 kabupaten kota untuk dijadikan buku panduan guru. Karena buku matpel Seni Budaya yang tersedia di sekolah saat ini hanya menulis seni budaya secara global dari seluruh Indonesia, dan materi seni budaya NTT hanyalah sebagian kecil.” Ujarnya berharap.

Pihak sekolah juga menerapkan berbagai gerakan untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan suasana sekolah yang baik nyaman, aman dan penuh suasana kekeluargaan serta untuk membentuk karakter dan mental siswa yang baik dan disiplin, sekolah mewajibkan para guru  menyambut, memberi salam, menyapa dengan senyum kepada para siswa.

Gerakan ini wajib dilakukan baik diantara para guru dan siswa dengan siswa.

Gerakan kedua yakni budaya menjaga kebersihan dengan mengurangi sampah plastik yakni dengan mewajibkan semua warga sekolah membawa tumbler minuman dari rumah.

Ketiga, agar menghindarkan para siswa dari bahaya bahan berbahaya dalam makanan, kepada pengelola kantin sekolah diwajibkan tidak menjual makanan yang berwarna.

“Kami sedang menyusun SOP bagi pengelola Kantin terkait jenis jajanan apa saja yang boleh dijual di kantin. Selesai SPMB pihak sekolah akan lakukan pertemuan dengan pengelola kantin untuk membicarakannya.” Jelas Naomi.

Pihak sekolah juga membuat kesepakatan bersama semua warga sekolah agar terlibat dalam suasana suka dan duka yang dialami setiap warga sekolah, membentuk perkumpulan bernama KEKEL (Keluarga Besar SMPN 2) dimana semua warga sekolah (guru, staf dan siswa) berbagi suka dan duka lewat memberi kontribusi berupa sumbangan sukarela dan wajib hadir dalam suasana dukacita maupun sukacita dengan prinsp “satu rasa berlandaskan KASIH.”

Naomi mengatakan dengan semua gerakan dan budaya tersebut, dampaknya sangat bagus untuk suasana dan hubungan antar warga sekolah.

“Di sekolah tercipta suasana belajar yang tertib, disiplin, nyaman karena adanya sikap saling menghargai dan saling membantu. Disekolah ini sejauh ini tidak terjadi bullying, karena setiap apel hal tersebut selalu digaungkan. Kami menyiapkan reward berupa sertifikat bagi yang mampu melaksanakannya dan punishmen berupa kegiatan yang mendidik, bukan punishment fisik bagi yang tidak melaksanakan atau melanggar. Namun sejauh ini belum ada yang melakukan pelanggaran. Semua berjalan dengan baik.” Tandasnya bangga.|| jbr