Undana Talk Eps. 09 : Lawan Kepunahan Bahasa Daerah, Jovin Kosat Abadikan Budaya Kodi Lewat Literasi dan Film

NTT, TopNewsNTT.Com||  – Ancaman kepunahan bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) memicu Paulina Maria Yovita Kosat, S.Pd., M.Hum., untuk melakukan aksi nyata. Dosen Luar Biasa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana) yang akrab disapa Jovin ini, mendedikasikan karyanya untuk merawat identitas lokal melalui buku dwibahasa dan film dokumenter guna membendung derasnya arus modernisasi.

Dalam bincang edukatif Undana Talk bertajuk “Cahaya di Ujung Pena: Energi Baru dan Bahasa Lokal” pada Rabu (8/4/2026), Jovin memaparkan bahwa kecintaannya pada bahasa telah tumbuh sejak bangku sekolah. Baginya, bahasa adalah alat ekspresi diri sekaligus jendela untuk memahami cara pandang orang lain.

Keresahan atas Degradasi Bahasa Lokal

Langkah Jovin berfokus pada pelestarian bahasa Kodi dari Sumba Barat Daya, tanah kelahirannya. Ia mengungkapkan fakta memprihatinkan dari hasil risetnya: sekitar 47 persen anak-anak di Kodi tidak lagi mampu menuturkan maupun menuliskan bahasa daerah mereka sesuai “pakem” atau aturan aslinya. Fenomena ini dipicu oleh penggunaan bahasa gaul serta distraksi gawai yang masif di kalangan generasi muda.

“Banyak bahasa daerah di NTT terancam punah karena tidak lagi digunakan penutur muda dalam komunikasi harian. Jika bahasa hilang, sebuah masyarakat akan kehilangan identitasnya,” ungkap Jovin.

Prestasi dan Inovasi Literasi Dwibahasa

Dedikasi Jovin membuahkan prestasi gemilang dengan terpilih sebagai salah satu dari 20 penulis terbaik dalam Sayembara Cerita Anak tingkat Provinsi NTT selama empat tahun berturut-turut (2023-2026). Melalui wadah ini, ia memproduksi buku-buku dwibahasa yang dirancang khusus untuk memantik minat baca anak-anak daerah.

Salah satu karya monumentalnya adalah buku berjudul “Kembaliku ke Uma Bokolo” dan film dokumenter “Uma Bokolo” yang diproduksi pada 2025 melalui dukungan hibah Dana Indonesiana. Karya tersebut merupakan ensiklopedia visual dan tekstual mengenai rumah adat dan kebudayaan Kodi. Selain itu, ia juga menerbitkan Kamus Bergambar Bahasa Kodi-Indonesia dengan ilustrasi menarik untuk menyasar pembaca tingkat dasar.

Kaitan Alam, Budaya, dan Tantangan Kecerdasan Buatan

Riset ekolinguistik yang dilakukan Jovin menemukan hubungan unik antara kelestarian alam dan bahasa. Ia menjelaskan bahwa punahnya spesies tumbuhan tertentu di suatu daerah turut melenyapkan kosakata dalam bahasa lokal. Contohnya, pergeseran material tiang rumah adat dari kayu menjadi beton menyebabkan istilah-istilah dalam upacara adat “tancap tiang” mulai terlupakan.

Di tengah pesatnya teknologi, Jovin mengidentifikasi Kecerdasan Buatan (AI) sebagai tantangan baru bagi penulis. Meski demikian, ia meyakini bahwa teknologi tidak akan bisa menggantikan kedalaman rasa seorang manusia. “AI tidak mampu menuangkan sisi humanis dalam tulisan. Karya adalah identitas yang memiliki jiwa, sesuatu yang tidak bisa dihasilkan oleh teknologi secanggih apa pun,” tegasnya.

Sinergi untuk Literasi NTT

Menutup paparannya, Jovin menekankan bahwa meski NTT memiliki jumlah taman baca terbanyak di Indonesia, tingkat literasinya masih perlu digenjot melalui sinergi antara orang tua, guru, dan pemerintah. Ia berpesan bahwa pendidikan utama bermula dari keluarga untuk menjaga akar budaya agar tetap tumbuh di tengah gempuran zaman.

Melalui karya-karyanya yang kini tersebar di berbagai taman baca di Kupang dan Sumba Barat, Jovin terus berupaya memastikan bahwa kosakata dan nilai budaya NTT tidak hanya “tumbuh di atas tanah”, tetapi tetap hidup dan abadi dalam ingatan setiap generasi. (**)

pr.hms.undana

(FnT)