Perkuat Sosialisasi KUR, Bank NTT Gandeng Organisasi Untuk UMKM
Kupang, TopNewsNTT.Com|| Bank NTT kembali memperkuat sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini dilakukan dengan menggandeng berbagai organisasi dan kelompok masyarakat, termasuk DPD Partai Golkar NTT.
Direktur Kredit Bank NTT, Aloysius Geong, mengatakan sosialisasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Bank NTT setelah kembali mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk menyalurkan KUR pada 2026.
Menurut Aloysius, Bank NTT sebelumnya sempat tidak menyalurkan KUR sejak sekitar 2019. Setelah kembali memperoleh alokasi KUR pada 2026, pelaksanaannya baru efektif pada minggu terakhir Juli karena adanya berbagai persiapan dan pemenuhan persyaratan sistem penyaluran.
Kalau kita jalan Januari, kita punya waktu satu tahun untuk mendistribusikan target. Tetapi karena baru efektif dalam waktu sekitar enam bulan, perlu ada upaya yang lebih kuat dan lebih kencang untuk memberikan solusi kepada masyarakat,” ujar Aloysius.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan utama yang dihadapi bukan hanya bagaimana menyalurkan kredit, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai produk dan layanan keuangan.
Aloysius menyebut tingkat literasi keuangan di NTT masih berada di bawah tingkat nasional, meski menunjukkan tren peningkatan. Karena itu, edukasi mengenai keuangan dinilai menjadi pintu masuk sebelum masyarakat diberikan akses pembiayaan.
“Jangan sampai kita langsung masuk kredit, sementara masyarakat belum terbiasa dengan produk perbankan. Mereka harus memahami usaha, menabung, melakukan transaksi dan memahami produk bank,” katanya.
Menurutnya, literasi keuangan bukan hanya menjadi tanggung jawab perbankan. Pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, organisasi profesi hingga organisasi politik memiliki peran untuk membantu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keuangan.
Karena itu, Bank NTT memilih menggandeng berbagai lembaga dalam melakukan sosialisasi. Pola tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan melakukan sosialisasi secara sendiri-sendiri kepada masyarakat.
“Kalau kita melibatkan lembaga atau organisasi, mereka sudah punya basis anggota dan mengenal orang-orang dalam binaannya. Kita juga dimudahkan dalam menerapkan prinsip pengenalan nasabah,” jelas Aloysius.
Ia mencontohkan, apabila satu organisasi memiliki ribuan anggota, sosialisasi dapat dilakukan secara bersama-sama sehingga informasi mengenai KUR dan produk keuangan Bank NTT bisa menjangkau lebih banyak masyarakat dalam waktu relatif singkat.
Aloysius menegaskan, target sosialisasi tidak semata-mata diukur dari berapa banyak orang yang langsung mengambil kredit. Yang lebih penting, masyarakat terlebih dahulu memahami produk keuangan dan mampu mengelola usaha secara sehat.
“Misalnya hari ini kita sosialisasi kepada 2.500 orang. Tidak berarti semuanya menjadi debitur. Tetapi kalau 10 persen saja memiliki usaha yang membutuhkan pengembangan, sudah ada sekitar 250 orang yang potensial untuk kita dampingi,” katanya
Dengan pola kolaborasi yang lebih luas, Bank NTT berharap jangkauan sosialisasi dapat terus meningkat hingga puluhan ribu masyarakat.
Aloysius juga menekankan bahwa kredit tidak boleh dipandang sebagai solusi jangka pendek. Bank berharap pembiayaan yang diberikan mampu mendorong usaha masyarakat berkembang secara berkelanjutan.
Orang hari ini pinjam Rp10 juta, kita tidak berharap setelah itu usahanya berhenti. Kita ingin usahanya meningkat menjadi Rp15 juta, kemudian Rp20 juta. Artinya, kredit yang diberikan benar-benar mendorong usaha berkembang,” tegasnya.
“Kalau kita ingin berjalan cepat, kita bisa berjalan sendiri. Tetapi kalau ingin berjalan jauh, kita harus berjalan bersama-sama,” pungkas Aloysius.(**)