Kepala SMPN 1 Kupang Minta Matpel Budaya NTT Lebih Diperlengkapi Karena Dampaknya Bagus Untuk Pembentukan Karakter Generasi Muda

Kupang, TopNewsNTT Com|| Otniel Lena, Kepala SMPN 1 Kupang menilai nilai dari pelajaran budaya yang didalamnya termasuk adat dan tradisi asli NTT terkandung nilai yang sangat positif dalam pembinaan karakter dan mental siswa, tapi kendalanya buku pegangan guru dan siswa terkait budaya tidak menjelaskan secara rinci kekayaan budaya, adat dan tradisi NTT tapi secara garis besar.

“Dalam buku yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI berisi seni dan budaya semua provinsi di Indonesia, karenanya saya usulkan pemerintah daerah khususnya Kota Kupang dapat menerbitkan buku khusus tentang seni, budaya dan adat kebiasaan setiap suku setiap suku di NTT.” Kata Otniel (Selasa, 9/6/2026) kepada media ini di ruang kerjanya.

Ia berpendapat bahwa budaya dan adat kebiasaan masa lampau memiliki nilai positif dalam pembentukan karakter siswa maka alangkah baiknya  Pemerintah daerah dapat menerbitkan buku seni dan budaya NTT yang lebih lengkap dengan melibatkan tokoh adat dan akademisi untuk melakukan riset terkait adat dan budaya NTT. Karena jika tidak maka budaya baik tersebut akan terkikis dan generasi muda tidak mengenal budaya mereka. .

Lebih detil ia menjelaskan bahwa budaya merupakan dua unsur yang punya peran penting dalam pendidikan karakter siswa.

Menurutnya, budaya tidak selalu berupa benda dan kegiatan seni, tapi budaya juga bisa berupa kebiasaan dan cara pandang yang bersifat tradisional berasal dari cara hidup, cara pandang dan wawasan berpikir orang di masa lampau yang masih relevan dengan kehidupan sekarang dan berperan penting dalam pembentukan karakter manusia masa kini, terutama untuk generasi muda di dunia pendidikan.

“Budaya adalah keseluruhan sistem nilai, gagasan, norma, tindakan, dan hasil karya manusia yang didapat melalui proses belajar dalam kehidupan bermasyarakat. Istilah “budaya positif” merujuk pada penerapan kebiasaan yang berlandaskan nilai-nilai kebajikan untuk membangun karakter, baik dalam lingkungan bermasyarakat, sekolah, maupun dunia kerja.” Ujar Otniel lugas.

Ia menambahkan budaya memiliki wujud berupa ide/gagasan, aktivitas/tindakan, serta artefak (karya fisik) yang menjadi ciri khas suatu kelompok.

“Budaya adalah buah budi anusia, seperti kata  Ki Hajar Dewantara, kebudayaan adalah hasil perjuangan manusia terhadap alam dan zaman untuk mengatasi rintangan dan mencapai keselamatan serta kebahagiaan hidup.” Ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa budaya tercipta dengan tujuan positif dalam bermasyarakat yakni untuk memperkuat Identitas Bangsa, dimana keberagaman budaya menjadi ciri khas yang memperkaya identitas kolektif suatu bangsa.

Budaya dapat mendorong terjadinya toleransi,  karena pemahaman budaya yang baik akan menumbuhkan rasa saling menghargai di tengah masyarakat yang majemuk.Pemecahan Masalah Sosial: Budaya gotong royong dan musyawarah membantu masyarakat mengatasi konflik serta perpecahan.

“Budaya dalam masyarakat tradisional yang msih dilaksanakan hingga kini,  ada yang mirip ada yang berbeda namun tujuan dan nilai mulianya hampir sama yakni menciptakan hal-hal positif dalam pribadi manusia dan menciptakan keteraturan, ketaatan, kedisiplinan, gotong royong dlk namun dalam penerapannya butuh kehati-hatian karena tidak semua orang atau masyarakat dapat menerimanya. Seperti misalnya budaya “cium hidung” pada masyarakat Sabu Raijua akan berlaku dan menimbulkan suasana kekeluargaan, damai, dan suka cita dalam masyarakatnya, namun belum tentu diteima masyarakat dari daerah lain. Dan masih banyak lagi budaya lain baik dalam perkawinan, kematian dll. Semua punya ciri khasnya dan saat ini makin luntur di masyarakat karena berbagai pertimbangan. Padahal budaya yang baik penting untuk dijalankan karena punya nilai mulia. Untuk melestatikannya kembali agar nilainya dapat diwariskan, maka perlu dipilih budaya yang berhubugan dengan pembentukan karakter siswa untuk dilakukan di sekolah. Misalnya budaya disiplin, budaya sopa santun, budaya gotong royong, jujur, budaya ramah tamah, dll.” Jelas Otniel lagi.

Ia berharap penerapan budaya di lingkungan sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang Aman. Budaya positif di sekolah akan membantu mewujudkan lingkungan yang nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan.

Selain itu, tambah Otniel, Budaya juga dapat meningkatkan kolaborasi & produktivitas di lingkungan sekolh, penerapan nilai transparansi dan saling menghargai akan mendorong kinerja maksimal dari setiap individu, mendorong proses pembelajaran berkelanjutan, kebiasaan positif menumbuhkan kreativitas, inovasi, serta kemandirian bagi siswa. Jika adat istiadat budaya tradisional NTT diterapkan di lingkungan sekolah maka karakter siswa dapat dibentuk menjadi baik.

“Di SMPN 1 Kupang siswa diwajibkan menerapkan budaya disiplin, budaya ramah dn sopan, budaya menjaga kebersihan dengan wajib membuang sampah di tempat sampah dan wajib memungut sampah di dalam lingkungan sekolah, budaya ramah bagi guru wajib menyambut siswa di pintu gerbang. Dengannya diharapkan karakter siswa menjadi lebih baik.” Jelasnya.

Dalam penerapan pelajaran Seni Budaya sesuai kurikulum diterapkan dengan ujian praktek wajib atau ko kurikuler  dan kegiatan pilihan atau eskul setiap Sabtu.

Hasil kegiatan eskul siswa seni tradisional NTT jenisnya sesuai minat dan bakat siswa setiap Sabtu akan dipentaskan di oegiatan Pentas Seni setiap akhir semester.

Siswa diberi ruang dan kebebebasan mengekspresikan kemampuan mereka dibidang seni tradisional dan kreasi baru khas NTT.

Siswa juga diajarkan mengenal benda kekayaan budaya NTT seperti Tenun Ikat, dll dari suku-suku di NTT agar mereka mengenal apa saja budaya NTT baik seni, kuliner, cagar budaya, pakaian adat, jenis  kain tenun ikat NTT dll.

Sekolah juga mendukung program pemerintah dalam dengan mengirimkan siswa mengisi kegiatan di Karnaval dan Festivl Budaya, Festival Budaya Kelurahan, dan berbagai lomba paduan suara lagu dan Lomba tarian Tradisional NTT.

“Dan dalam setiap lomba itu, siswa SMPN 1 Kupang selalu meraih juara.” Sebutnya bangga.

Otniel menegaskan lewat semua kegiatan praktik baik disekolah maupun lomba-lomba, mengisi acara di acara Festival Budaya Keluraha, pentas Seni sekolah,  sebagai bagian dari ikut mempromosikan dan kelak mewariskan budaya NTT kepada generasi muda.|| jbr