Josef Nae Soi Ajak Mahasiswa Hukum Undana Kuasai Instrumen Internasional demi Kedaulatan Negara
NTT, TopNewsNTT.Com|| Penguasaan hukum internasional bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan instrumen vital dalam mempertahankan identitas dan kedaulatan bangsa di kancah global. Pesan kuat ini mengemuka dalam Studium Generale bertajuk “Law and Globalization” yang diselenggarakan Fakultas Hukum (FH) Universitas Nusa Cendana (Undana) di Ruang Vicon FH, Kupang, Senin (2/3).
Hadir sebagai narasumber utama, pakar sekaligus praktisi hukum internasional, Dr. Drs. Josef Adrianus Nae Soi, M.M., membedah bagaimana kompetensi hukum menjadi penentu kemenangan diplomasi Indonesia di forum dunia.
Diplomasi Sasando: Kemenangan Mutlak di Forum Dunia
Salah satu poin paling menarik dalam paparan Josef Nae Soi adalah kisah sukses Indonesia mempertahankan klaim alat musik tradisional Sasando. Ia menceritakan bagaimana argumentasi hukum yang tajam dan pembuktian akademik yang kuat mampu mematahkan klaim negara lain.
“Dari 198 negara, sebanyak 196 negara akhirnya mendukung Indonesia. Ini adalah bukti nyata bahwa kompetensi hukum internasional sangat menentukan dalam menjaga martabat dan aset budaya bangsa,” ungkap Josef di hadapan ratusan mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa dalam sengketa internasional, ketelitian menguji fakta sah dan keaslian dokumen tertulis adalah kunci utama yang tidak boleh diabaikan oleh para calon penegak hukum.
Menjaga Etika dalam Dinamika Perang
Selain isu aset budaya, Josef juga menyoroti prinsip jus ad bellum (legitimasi perang) dan jus in bello (aturan saat perang). Ia mengingatkan bahwa hukum internasional tetap menjunjung tinggi prinsip kemanusiaan, bahkan dalam situasi konflik bersenjata sekalipun.
“Dalam perang ada aturan yang mengikat. Warga sipil tidak boleh diserang, dan serangan harus dihentikan jika senjata sudah tidak digunakan. Itulah esensi hukum internasional yang menjaga imajinasi kemanusiaan kita di tengah kondisi global yang fluktuatif,” jelasnya.
Pesan Rektor: Ilmu di Luar Teks Buku
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., ketika membuka kegiatan tersebut, meminta mahasiswa menyerap pengalaman praktis narasumber yang tidak ditemukan dalam buku teks. Menurutnya, keterlibatan langsung narasumber dalam berbagai kebijakan internasional merupakan pembelajaran yang sangat mahal.
“Pengalaman beliau sangat luar biasa. Mahasiswa harus mampu membaca dimensi ideal dan realistis dari sebuah hukum agar siap menghadapi tantangan globalisasi yang semakin kompleks,” ujar Prof. Jefri.
Studium Generale ini diakhiri dengan simulasi kritis yang menantang mahasiswa untuk berpikir fleksibel dalam memecahkan persoalan hukum multidimensi. Melalui kegiatan ini, FH Undana berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya jago berteori, tetapi juga tangguh dalam membela kepentingan nasional di panggung internasional.(**)
rilis.hms.undana
(IyL)