Hadapi Musim Kering di NTT, Lucky Kolly Sarankan Petani Tanam Tanaman Adaptasi dan Tahan Kering

Pertanian Regional

NTT, TOPNewsNTT|| Jelang Masa Tanam Kedua April-Agustus 2023 dengan berkurangnya curah hujan dibeberapa wilayah di NTT sebagai akibat beralihnya musim hujan ke musim kemarau. Sesuai arahan gubernur petani disarankan menanam pada musim tersebut untuk ketahanan pangan.

Hal ini bisa timbulkan bencana kekeringan dan krisis pangan.

Pemprov.NTT menggelar press confress menghadirkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov.NTT (Fredy Lucky Kolly) BPBD NTT (Ambros Kodo) dan Kelapa Stasiun Meterologi dan Geofisika Kupang.

Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan NTT Fredrik Lucky Kolly mengatakan menghadapi dampak perubahan musim dari musim penghujan ke musim kemarau Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mengambil beberapa langkah antisipasi dengan mendorong petani di beberapa wilayah di NTT untuk menanam tanaman yang memiliki adaptasi terhadap kekeringan.

“Karena kemarau itu di April, kita akan memanfaatkan musim tanam dua untuk mengisi produksi dengan jenis tanaman yang memiliki adaptasi terhadap kekeringan, tentu masyarakat juga sudah menyiapkan tanaman-tanaman yang cocok untuk musim kemarau,” ucap Kadis Pertanian NTT Lucky F. Koli.
Lanjutnya, disarankan untuk wilayah-wilayah yang musim kemarau jatuh di bulan April untuk menanam kacang-kacangan terutama kacang hijau, kelor, sorgum dan jagung.” Ujar Lucky.

Lebih jauh Lucky menjelaskan, “Komuditas-komuditas ini tahan terhadap kekeringan dan tanaman holikultura itu akan membantu ekonomi masyarakat, sebab walau hanya memerlukan sedikit air tetapi bisa menyediakan pangan sekaligus ekonomi, sedangkan kelor sekali tanam akan penen sepanjang 60 tahun kedepan.”

Pemerintah Provinsi NTT, ungkapnya, saat ini sedang mengintervensi kekurangan gizi ibu hamil dan anak-anak stunting, dengan merekomendasikan menggunakan tepung kelor.

“Ini kesempatan bagi kita untuk mengembangkan komoditas tanaman kelor untuk membantu mensuplai kebutuhan bahan baku, dalam rangka memberikan makanan tambahan berbasis kelor,” terangnya.

Selain Kelor, Lucky mengklaim tanaman sorgum juga sangat tahan terhadap kekeringan dan dievaluasikan dengan ternak.

“Untuk satu hektar tanah kita butuh tujuh kilo sorgum yang harganya tidak mencapai seratus ribu (100.000). Kita dorong masyarakat untuk menanam sorgum, satu hektare sorgum bisa memelihara 7 ekor sapi, setiap hari sapi diberi makan 20 kg selama satu tahun. Hal ini sangat cocok di NTT karena sorgum tahan kekeringan,” cetusnya.

Selain itu, Lucky mengklaim, selain biji sorgum yang dimanfaatkan, batang-batang sorgum juga bisa dimanfaatkan untuk makan ternak.

Lucky juga menyentil program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) Pemprov NTT yang dilaksanakan melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, menargetkan menanam jagung empat puluh ribu (40.000) hektare di musim kemarau 2023.

“Jagung akan ditanam di Flores bagian timur, Alor, Pulau Timor, Rote, Sabu, Lembata, Flores bagian barat dan Sumba bagian barat. Semua skema yang disiapkan akan disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan masyarakat, sekaligus mempersiapkan sarana yang dibutuhkan oleh masyarakat, misalnya alat pemompa air,” ujar Lucky.|| jbr