Demo Proses Menenun Tenun Ikat Di Festival Budaya Kelurahan Mantasi, Mama Selvi Ber

Kupang, TopNewsNTT.Com||Pelaku UMKM penenun tenun ikat NTT Kelurahan Mantasi ikut memeriahkan Festival Budaya Etnis dan Local Rxpo yang mengangkat thema “Akar, Tradisi, Sayap Masa Depan” yang di gelar di Lapangan Viktori (Rabu, 23/9/2026).

Mama-mama penenun ini  berasal dari Kabupaten TTS, Flores dan Sabu yang berjumlah 6 orang mempertontonkan proses menenun dengan perkakas tenun yang masih sangat konvensional dan modal sendiri namun mampu menghasilkan lembaran tenunan indah beraneka warna dan corak sesuai ciri khas daerah masing-masing.

Mereka mengakui bahwa selama ini merrka masih menggunakan modal sendiri, dan pemasaran secara konvensional sehingga hasil yang mereka peroleh sebulan hanya sekitar 2 hingga 4 lembar berdasarkan pesanan dengan total penghasilan sebulan Rp600-2 juta, namun terkadang sepi.

“Kami sebagai penenun sangat berharap pemkot.Kupang  malalui dinas terkait  dapat memberikan perhatian baik, baik akses dana maupun patihan, dan pemasaran akan makin berkembang.” Ujar mama Selvi Sanam penenun asal Soe.

Selviana Sanam mengakui ingin jika ada perhatian dari pemerintah dalam akses modal, pelatihan keterampilan dan pemasran tenun ikat hasil tenunan mereka. Dan mereka mama-mama penenun ini merupakan tulang punggung keluarga mereka. Awalnya kami dari kampung dan datang dan tinggal disini untuk kembangkan usaha kami. Sebulan kami bisa memproduksi 2 sampai 3 lembar dan lebih banyak tergantung pesanan. Sebulan saat ini kami hanya bisa menghasilkan Rp600.000 saja saja saat sepi dan 1 hingga 2 juta jika banyak pesanan.

Mama Selvi Sanam menilai event pameran perlu ditingkatkan lagi, jangan hanya setahun sekali misal di kantor camat atau di kantor walikota. “Leqlwat festival budaya ini kami berharap pemerintan kota Kupang dapat melihat hasil tenun kami dan membuka akses baik modal, pelatihan dan pemasaran agar lebih berkembang dan meningkatkan prnghasilan kami para penenun. Sehingga usaha mereka berkembang baik dalam modal dan keterampilan dan pemasaran produk karena selama ini mereka hanya mengandalkan modal pribadi dan pemasaran konvensional mulut ke mulut atau lewat wa.” Jelas mama Selvie.

Lurah Mantasi Fransiskus Arkian, S.Sos kepada media mengatakan mereka mendata para penenun dan jika ada informasi pelatihan dan akses anggaran akan diusulkan ke dinas terkait. “Memang selama ini belum ada karena kondisi keuangan juga sedang efisiensi. Namun kami akan berupaya jika ada pihak-pihak luar ingin menggandeng dna memberi akses modal dan pelatihan dibuka kesempatan. Semoga ada perhatian pemerintah kota ke depannya.” Jelasnya.|| jbr