Buka Festival Budaya Kelurahan Fatufeto, Camat Alak Ingatkan “Budaya Alat Perekat Dalam Keberagaman”
Kupang, TopNewsNTT.Com|| Buka Festival Budaya Kelurahan Fatufeto yang digelar pada Selasa, 22/9/2026 mengangkat thema : “Merajut Kebersamaan, dalam keberagaam etnis budaya, Ale Rasa Beta Rasa”, Camat Alak Amramsius Yolah, S.Sos, mengatakan bahwa Budaya adalah alat perekat dalam keberagaman.
Selain itu, dirinya saat sampaikan sambutan Wali Kota Kupang, juga sampaikan pesan agar warga Kelurahan Fatufeto memaknai festival budaya bukan sekedar ajang pertunjukan seni semata, tapi juga sebagai wadah pertemuan, menjalin dan menjaga hubungan baik antar warga, yang walaupun berbeda dalam etnis, budaya, bahasa dan agama namun perbedaan tersebut jangan menjadi pemisah tapi menjadi alat perekat. ” Festival Budaya jangan hanya dilihat sebagai sebuah pertunjukan seni, tapi menjadi ajang pertemuan antar sesama warga dalam menjalin hubungan, budaya adalah alat pemersatu buka perpecahan.”
Ia juga menyoroti manfaat Festival Budaya sebagai wadah pertumbuhan ekonomi masyarakat, dengan adanya pameran UMKM yang melibatkan para pelaky UMKM yang bukan hanya menjual produk kuliner tapi juga produk seni budaya dan tenun ikat.
Seusai thema “Merajut Kebersamaan, dalam keberagaam etnis budaya, Ale Rasa Beta Rasa”, Amram Yolah berharap warga dipersatukan dalam hubungan yang saling mendukung, merasakan susah dan senang bersama.
“Semoga lewat festival budaya, hubungan antar warga direkatkan, ekonomi masyarakat bertumbuh, budaya lokal makin dikenal, dicintai dan dilestarikan. Generasi muda menjadi pelaku budaya budaya NTT dapat dipromosikan.” Tutupnya.
Dari 12 Kelurahan di Kecamatan Alak, sebanyak 8 kelurahab sudah menggelar Festival Budaya dan tersisa 4 kelurahan yang belum melaksanakan yakni Kelurahan Alak, Manulai 2, Nunbaun Delha dan Nabois.
Ketua panitia Julianus Manu Hadjoh kepada media mengatakan thema Ale Rasa Beta Rasa dipilih karena latar belakang Kelurahan Fatufeto sejak awal penduduk mayoritas adalah Etnis Ambon.
“Dari thema ale rasa beta rasa, itu kami hanya ingin menunjukkan fakta bahwa walo 30 persen warga kelurahan Fatufeto berasal dari etnis Ambon, bercampur dengan etnis NTT lainnya, dimana sejak dulu kami hidup berdampingan dengan damai, terjalin kekeluargaan yang luar biasa rukun dan toleransi dan damai. Kami sudah kawin mawin sejak dulu dan mereka sudah menjadi bagian dari kami NTT. Tidak ada lagi perbedaan di sini. Kami sudah menyatu, tapi keunikan itu harus kami angkat untuk jadi contoh bahwa keberagaman dan perbedaan bukan pemisah tapi pemersatu, dan harmoni yang indah. Bahwa kami hidup berdampingan dengan etnis, budaya, bahasa dan kebiasaan kami yang berbeda, tapi kami damai dan nyaris tanpa konflik akibat perbedaan tersebut.” Jelasnya.
Totalitas Panitia Festival Budaya Kelurahan Fatufeto yang terlihat dari 7 stand yang mewakili 7 RW dan setiap stand menampilkan pangan lokal dan tenun ikat NTT yang ada di masing-masing RW adalah bukti persatuan dan kekerabatan yang kental antar warga.
“Jadi stand mengapa mewakili pelaku UMKM yang ada di 7 RW karena kami ingin adanya kebersamaan dan keterlibatan dari warga di setiap RW menampilkan kekayaan budaya, seni, kuliner dan tenun ikatnya untuk menunjukkan hubungan yang kompak antar warga. Bukti kami bersatu walau berbeda dan beragam. Dengan menampilkan keunikan budaya kami ingin generasi muda mencintai budaya lokal baik NTT maupun Ambon dan budaya lain yang ada di masyarakat.” Jelas Julianus Manu Hadjo.
Ia minta agar Pemkot Kupang kedepan lebih memperhatikan pembinaan terhadap sanggar-sanggar seni dan budaya, pelaku UMKM baik kuliner maupun para penenun tenun ikat NTT.
“Ini semua yang dipamerkan di setiap stand RW ini adalah hasil tenunan dari para pelaku UMKM yang ada di kelurahan Fatufeto. Di sini 4 sanggar seni yang sudah berskala medium, sanggar seni yang baru tumbuh pun banyak. Mereka butuh dukungan pemerintah. Dan kalau bisa tahun depan anggaran festival ditambah agar kami bisa melibatkan lebih banyak pelaku seni.” Tutupnya.
Dalam festival ini ditampilkan tarian dari etnis Alor menyambut Camat Alak dan rombongan, tarian sirih pinang dsri etnis Timor oleh siswa SDN Fatufeto, serta Tariab Massal Bosan Halla etnis Flores Timor.
Festival Budaya akan berlangsung selama tiga hari (Selasa-Kamis, 22-24 September 2026) || jbr