Perekonomian Provinsi NTT Tumbuh Sebesar 2,08 Persen

Birokrasi Ekonomi Regional

NTT, TOPNewsNTT||Berdasarkan rilis PRDB Provinsi NTT Triwulan III 2023 oleh BPS, perekonomian Provinsi NTT tumbuh sebesar 2,08% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan di triwulan sebelumnya
yang tumbuh sebesar 4,17% (yoy). Kinerja ekonomi Provinsi NTT yang melambat disebabkan oleh turunnya pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga yang sejalan dengan melambatnya kinerja LU Perdagangan di tengah tekanan harga beras.

Di sisi lain, turunnya belanja APBD dan APBN NTT secara keseluruhan mendorong terkontraksinya Konsumsi Pemerintah pada triwulan berjalan. Secara spasial wilayah Balinusra, perekonomian NTT memberikan sumbangan sebesar 22,42% dari total
perekonomian Balinusra. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Nasional yang tumbuh sebesar 4,94% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 5,17% (yoy).
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT bersumber dari kinerja
LU Utama yakni LU Konstruksi, LU Perdagangan, dan LU Pertanian.

Pertumbuhan LU Konstruksi didorong oleh berlanjutnya Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan dengan realisasi konstruksi
yang melampaui rencana dan dimulainya pengerjaan proyek peningkatan Infrastruktur Jalan Daerah (JD) melalui Dana Inpres di tengah kondisi cuaca yang kondusif.

Pertumbuhan LU Perdagangan didorong oleh peningkatan aktivitas perdagangan yang tercermin dari peningkatan pembelian
kendaraan bermotor di tengah Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) yang melandai, meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sejalan dengan melambatnya Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) di Provinsi NTT.

Di sisi lain, LU Pertanian tetap tumbuh, didorong oleh peningkatan hasil tangkapan perikanan, meskipun produksi padi terkontraksi di musim kemarau menyebabkan kinerja pertanian lebih rendah dibandingkan triwulan II 2023.

Selanjutnya, kinerja LU Administrasi Pemerintahan terkontraksi seiring dengan pergeseran periode pembayaran THR dan Gaji ke-13 ASN yang menjadi lebih awal pada triwulan II 2023, setelah sebelumnya pada triwulan III 2022.

Sementara itu, berlanjutnya peningkatan kinerja LU Akmamin didorong oleh penyelenggaraan event internasional
AMMTC oleh Polri dan AARC oleh Kementerian PUPR, serta musim dingin di Benua Australia yang meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Provinsi NTT.

Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan terutama bersumber dari kinerja Pembentukan
Modal Tetap Bruto (PMTB) dan Konsumsi Rumah Tangga.

Akselerasi kinerja PMTB sejalan dengan
kinerja LU Konstruksi yang meningkat didorong oleh berlanjutnya PSN Bendungan dan pengerjaan proyek IJD melalui Dana Inpres. Konsumsi Rumah Tangga tetap tumbuh didorong oleh membaiknya konsumsi energi rumah tangga, seperti: listrik, minyak tanah, dan pertalite, meskipun secara kinerja
melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebagai akibat tekanan harga beras. Konsumsi
Pemerintah terkontraksi seiring dengan penurunan belanja APBD dan APBN NTT secara keseluruhan khususnya pada belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta belanja modal.

Sementara itu, kinerja Net Impor melambat dibandingkan triwulan sebelumnya didorong oleh peningkatan ekspor luar negeri pada kelompok komoditas Garam, Belerang dan Kapur ke Timor Leste, serta didukung
perbaikan aktivitas bongkar muat barang.
Ke depan, perbaikan kinerja ekonomi Provinsi NTT diperkirakan terus berlanjut.

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta menjaga stabilitas makroekonomi, diperlukan upaya bersama dari seluruh pihak, antara lain:

1. Optimalisasi peran BUMD pangan sebagai offtaker untuk menjaga kestabilan harga dan
ketersediaan pasokan dengan tetap melakukan penguatan program Food Estate, ekstensifikasi
dan intensifikasi yang meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian, serta hilirisasi pangan untuk mendorong sumber pertumbuhan utama Provinsi NTT.

2. Mengawal dan memberikan perhatian khusus pada pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Provinsi NTT melalui pembangunan Integrated Shrimp Farming (ISF) dan hilirisasi tebu di Kab. Sumba Timur, serta pembangunan pabrik rumput laut di Kab. Kupang.

3. Melakukan perluasan promosi pariwisata estate dan ring of beauty NTT yang dapat dilakukan dengan pembentukan travel pattern dari Labuan Bajo menuju destinasi unggulan yang disertai dengan integrasi jalur transportasi dan paket wisata.

4. Mendorong perluasan penerimaan sistem pembayaran digital melalui QRIS dan BI-FAST sembari meningkatkan cakupan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

5. Mendorong konversi minyak tanah ke LPG sembari memperluas pemanfaatan dan meningkatkan upaya promosi potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT), khususnya energi panas bumi (geothermal), di dataran Flores sebagai salah satu peluang investasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

6. Pengembangan industri pengolahan terpadu berbasis kawasan yang berkelanjutan yang
terintegrasi dengan jalur tol laut untuk memaksimalkan momentum pemulihan ekonomi pasca pandemi di tengah penjajakan Free Trade Zone (FTZ) antara Provinsi NTT dan Timor Leste.

7. Mendorong terealisasinya hilirisasi mineral Mangan di Provinsi NTT yang berperan penting
sebagai komponen baterai kendaraan listrik. Diperkirakan lebih dari 70% cadangan Mangan
Indonesia terdapat di wilayah Nusa Tenggara.

8. Melakukan penjajakan terkait peningkatan jumlah penerbangan dan maskapai dalam
penerbangan intra Provinsi NTT maupun keluar dan ke dalam Provinsi NTT dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi dari tekanan inflasi angkutan udara.(**)

Rilis Humas BI.NTT