Pak Djen : “Petani NTT Kurang Sejahtera, Karena Minimnya Pendampingan  PPL,  Selain Musim Ekstrim, Air Dan Kondisi Tanah”

0

KupangTengah, Topnewsntt.com., Demikian pendapat  Pak Djen kepada media saat wawancara kami dilahan Panah Merah yang ditanami cabe dan semangka pada Sabtu, 9/29/2019 di Desa Tanah Merah.

“Petani di NTT belum sejahtera akibat pendampingan PPL yang minus, selain kering akibat kurangnya sumber air karena cuaca ekstrim, kondisi tanah berbatu dan sebabkan cuaca sangat panas.” Ujarnya.

Kondisinya ini diakui Pak Djen dialaminya sendiri. Sudah 4 tahun tinggal dan jadi petani, PPL tidak intens muncul di petani.

Pendampingan oleh PPL terhadap petani sangatlah penting, jelas Pak Djen. Karena kebanyak petani di NTT berpendidikan rendah. Sehingga informasi terkait teknologi dan budi daya pertanian yang belum mencukupi kebutuhan petani, jarang diupayakan. Sehingga hanya ada pertanian konvensional, “Saya yakin jika PPL intens turun ke wilayah kerja petani maka petani akan terbantu. Karena cuaca yang ekstrim sebabkan sumber air kurang, jika saya berhasil, itu karena saya  memiliki sejumlah pengalaman bertani

Bapak Lima anak yang punya nama lengkap Akhmad Latief ( tapi disapa pak Djen, mengikuti nama putera sulungnya) sudah berusia 62 tahun. Pria paruh baya asal Jember, Jawa Timur ini menceritakan kisah hidupnya menjadi petani hortikuktura di bumi Flobamora yang identik dengan kering, berbatu karang dan bersuhu panas.

Dii lahan pertanian hortikultura milik produsen benih hortikultura Panah Merah di desa Panah Merah, Kelurahan Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah inilah Pak Djen menemukan pemulihan hidup secara ekonomi  yang sempat terpuruk akibat ditipu di Desa Norobo sampai dua kali.

Pak Djen berkisah bahwa pada  awal tahun 2014 ia diajak sama temannya bernama Sulaeman untuk datang ke Atambua dengan informasi menjanjikan bahwa di NTT menjadi petani hortikultura sangat menguntungkan.
“Harga cabe sampai Rp.50.000 ribu sekilo kata pak Sulaeman teman yang ngajak saya pada awal tahun 2014 itu. Di Atambua, promosi pak Sulaeman teman saya itu, katanya menanam cabe saja bisa kaya. Kebetulan saya juga petani horti di Jember khusus cabe. Ya sudah saya datang ke Atambua 2014 itu. Dan nanam cabe dilahan sewa sebanyak 8.000 .pohon yang hasilkan 34 ton. Tapi saat itu harga anjlok sampai Rp.3.500. Jadi saya dapat sekitar 160 juta lebih.” Kisahnya diawal wawancara kami.

Pak Djen dan ibu Sumantini dilahan cabe mereka di desa Tanah Merah, Noelbaki, Kec.Kupang Tengah, NTT

Namun, kisah Pak Djen dirinya  sempat ditipu sama rekan kerja terkait hasil panen cabe yang saat tanam pertama mencapai 34 ton. Dari uang hasil penjualan cabe yang mencapai Rp.160.000.000, sehingga ia akhirnya diajak sama pak Agus Pradana (Marketing Regional Panah Merah) dan Herry Hariyanto, menanam di lahan milik Panah Merah sekaligus sebagai tempat tinggalnya ini, awal 2017 pak Djen memulai usaha budi daya hortikultura Cabe besar dan Semangka dengan sharing anggaran bersama Febry, ex staff produksi Panah Merah.

Pak Djen yang berprofesi petani di Jember ini, mau menjadi petani hortikultura karena dulu bekerja pada perusahaan tembakau di Jember dan juga adalah petani cabe.

Berpijak dari pengalaman rugi karena  ditipu oleh rekan bisnis saat masih di desa Nurobo, Belu dan pengalaman merawat tanaman tembakau diperusahaan itu, serta pengalaman menjadi petani cabe itulah Pak Djen memulai usaha budi daya hortikultura di lahan Panah Merah ini.

Dengan anjuran pendamping Panah Merah (Agus Pradana), yang melihat besarnya potensi dan  pengalaman Pak Djen sbagao karyawan kebun tembakau dan budi daya cabe di Jember, sehingga memberi kesempatan kepada Pak Djen  untuk menanam di lahan Panah Merah didesa Tanah Merah dilahan seluas 1 hektar yang ditanaminya cabe dan semangka dengan dukungan dana dari Febry.

Akibat ditipu dalam usaha pertanian hortikultura di Norobo itu, pak Djen akui awal datang di  Tanah Merah hanya dengan mengantongi uang berjumah  Rp.400.000.

Sebelum ke desa Tanah Merah, Pak Djen kisahkan perjalanannya bersama Herry Hariyanto, Engky Bria, dan Agus dari Belu ke Kefa mencari lahan sebagai lokasi budi daya hortikultura baginya penuh kisah aulit dimana dirinya dan Engky Bria sampai tidur di emperan toko. Tapi karena tidak dapat  lahan yang cocok akhirnya mereka kembali Belu dan ditawari oleh Agus Pradana (Pendamping Panah Merah)  untuk Pak Djen menanam di Lahan Panah Merah di Desa Tanah Merah.

Awal 2017, saat memulai usaha pertanian hortikultura di Lahan Panah Merah, Pak Djen punya impian agar menghasilkan duit buat biayai anak isterinya di Jember. Kelima anaknya saat itu, jelas Pak Djen butuh dana pendidikan dan juga hidup. Ia juga punya cita-cita agar kelima anaknya berpendidikan tinggi. Walau seorang diri, Pak Djen (sapaan mengikuti nama putera sulungnya Djen), berusaha menerapkan ilmu pertanian yang diperoleh secara otodidak dari almarhum bapaknya yang semasa hidup bekerja pada perusahaan kebun Tembakau terbesar disana. Ia juga sebelumnya bekerja pada perusahaan itu sebagai pengukur daun tembakau pada sebuah shelter dan ia juga menanam jenis tanaman hortikultura di Jember demi menunjang kehidupan keluarga. “Bahkan saya pernah diminta jadi trainer PPL di Belu dengan gaji Rp.80 juta. Saya nngak mau karena lebih milih jadi petani langsung.” Ujarnya tertawa.

Pengalaman merawat tanaman tembakau yang disebutnya sebagai salah satu jenis tanaman horti ini, benar-benar jadi modalnya dalam mengelola lahan Panah Merah ini.
“Rahasia budi daya Hortikultura yang benar dan bisa sukses hanyalah dengan mengenal penyakit tanaman. Bakteri, virus apa yang menyerang tanaman agar penanganannya tepat.” Bukanya lugas.

Tantangan terbesar mengelola lahan ini (khusus NTT) aku Pak Djen adalah selain air yang sulit, musim kering yang panjang, berbatu, tapi PH tanahnya banyak yang mencapai 7 sehingga pengelolaannya harus ekstra. Penanganannya adalah dengan memberikan ekstra perawatan dengan pupuk dan kapur demi menurunkan PH tanah agar bisa ditanami tanaman hortikultura diatasnya. Jika tidak maka tanaman akan rusak dan gagal panen.

Panen perdana cabe dilahan Panah Merah ini kisah Pak Djen mampu hasilkan panen sampai 30 ton yang bernilai Rp.160 juta lebih pada Agustus 2017. Panen kedua agak menurun akibat PH meningkat lagi dan hasilkan Rp.89 juta. Panen ketiga Agustus 2018 malah mampu hasilkan 5 ton dan bisa hasilkan uang sekitar Rp. 240 juta lebih yang setelah bagi hasil dengan Febry ia peroleh Rp.70-an juta. Total hasil panen cabe dan semangka selama tiga kali panen berjumlah Rp.360.000.000 lebih (kotor), sedangkan bersih yang jadi miliknya adalah sekitar 240.000.000.

Pak Djen, dimata Engky Bria (pendamping Roda Tani) yang hadir dalam wawancara ini ikut memberi testimoni bahwa Pak Djen adalah sebagai teman diskusi ilmu pertanian hortikuktura bagi petani-petani dampingan mereka. Ia akui bahwa ilmu pertanian Pak Djen sangat kaya dan cukup menolong mereka.

“Saya tidak kikir berbagi ilmu pertanian saya. Karena saya berpikir saya udah tua, saya sangat ingin agar ilmu ini tidak ikut mati. Harus melahirkan petani baru yang mampu menjadi petani profesional dan sejahtera. Dan juga bila memungkinkan menulari orang lain menjadi petani. Disini udah dua orang yang mau belajar dari saya yaitu Oktori Gazpers dan Hance. Mereka juga menanam horti semangka biji dan cabe. Udah bagus mereka.” Kisah Pak Djen dalam dialek Jawa yang kental.

Lelaki sederhana ini punya impian berangkat haji bersama isteri tercinta suatu hari nanti sebelum ajal menjemput. Dan untuk tujuan itu, Pak Djen akui ia makin rajin menanam dan menabung. Cita-cita bagi kelima buah hatinya sudah terpenuhi karena mereka sudah bekerja. Dua TNI, dan lainnya wiraswasta. Bahkan dalam 10 hari ke depan, dirinya bersama isteri berencana akan terbang ke Samarinda untuk mengurus salah seorang anaknya yang akan ikut tes masuk TNI.

Walau saat ini sebagian dari tanaman cabenya kena hama kutu, Pak Djen tidak berkecil hati. Ia tetap bersemangat mengelola lahan ini.
Sudah dua kali masa tanam ini Pak Djen menanam dengan modal sendiri.

Namun ia keluhkan ada beberapa produk pertanian seperti pupuk dan pestisida serta sejenis kapur untuk normalkan  PH tanah yang sulit didapat akhir-akhir ini.

Sarannya kepada pemerintah NTT agar memperbanyak tenaga PPL. Sehingga dalam sebuah desa dampingan setiap petani tidak kesulitan peroleh pendampingan. “Karena tanaman itu menurutnya harus dirawat dengan telaten agar bisa hasilkan panen berkualitas dan banyak. Jika ingin hasil bagus harus mau rugi segala aspek. Waktu, tenaga dan biaya. Jika tidak, maka hasilnya tidak akan bagus.” Ujarnya kalem. **))juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *