Marthen Boki Tinggalkan Beternak Demi Serius Di Budidaya Hortikultura

0

Tunfeu, Top News NTT, Marthen Boki (49 tahun) sudah belasan tahun (sejak 1993) menjadi petani hortikultura, namun diakuinya hasilnya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Bapa berputera empat ini akui saat itu (sebelum mengenal sistem  budidaya hortikultura yang dilihatnya dari pendeta Markus, dan mengenal Panah Mersh dan Roda Tani), ia masih menjalani budidaya hortikultura secara tidak serius. Ia masih mengurusi ternak babi dan sapi yang saat itu bisa berjumlah lima sampai sepuluh ekor. Namun setelah mengenal sistem pertanian yang baru dari pendampingan Panah Merah dan Roda Tani bersama Kompas Tani, Marthen akui berani tinggalkan beternak. Hal ini dilakukannya karena sudah merasakan sendiri  memperoleh hasil panen yang menjanjikan dari budidaya hortikultura. Itulah alasannya sehingga berani hentikan beternak dan serius ke hortikultura.

Awalnya, Marthen  akui ia hanya melakoni budi daya hortikultura secara tradisional. Namun setelah ia mengenal pendamping petani dari Panah Merah (Kompas Tani) dan Roda Tani dari referensi pendeta Markus yang pindah tugas ke jemaat di Tunfeu, ia mulai serius menekuni budi daya hortikultura. Apa yang mendorongnya adalah karena melihat hasil dari budi daya hortikultura dengan pendampingan seperti yang dibuat oleh Kompas Tani dengan pendampingan dari Panah Merah dan Roda Tani sangat besar hasilnya. Beda dengan pertanian konvensional.

“Dan setelah saya serius menekuni hortikultura dengan lepas  beternak sapi dan babi,  saat diperkenalkan dengan Eben Taemnanu (Panah Merah) dan   Engky Bria (Roda Tani) tahun 2016 saya peroleh hasil panen lumayan. Belum pernah hasil panen sebaik ini sebelumnya dengan modal tidak begitu besar. Tapi sistemnya diubah.” Cetus Marthen senang.

Selain buncis, ia juga menanam tomat dan hasil panen kedua varietas itu sangat memuaskan. Setelah tiga kali panen sudah duapuluhah (Rp.20-an) juta lebih diraupnya.

Marthen akui setelah  mengenal pola pendampingan budidaya hortikultura dari pendampingan dari Kompas Tani bermitra dengan Panah Merah dan Roda Tani, Marthen akui hasilnya beri harapan baru bahwa budi daya hortikultura bisa memberi hasil bagus jika digeluti dengan serius.

” Awalnya saya hanya coba tanam satu bungkus buncis saja, tapi bisa  hasilkan dua ratus lima puluh kilo buncis yang saya jual dan hasilkan uang sekitar lima juta rupiah. Dan itu masih dengan harga terendah sekitar lima sampai delapan ribu rupiah.” Kisahnya bersemangat.

Marthen akui sebelum mengenal budidaya pertanian hortikultura dari Kompas Tani  dengan pendampingan Panah Merah dan Roda Tani, hasil panen tidak memuaskan. Marthen ungkapkan jika ia menanam dalam jumlah yang sama hasilnya hanya Rp.500.000 ribu. Belum lagi gagal panen akibat kurang pengetahuan terkait perawatan saat terkena hama. Karena pemupukan dan penggunaan pestisida hanya dengan pengetahuan konvensional saja sehingga sering hasilnya terkena hama.

Namun Marthen akui bahwa selama ini memang ia berbagi waktu dengan mengurusi ternak sapi, sehingga kurang fokus dengan pertanian hortikultura. Dan bapa tiga anak ini akui bahwa hasilnya  tidak memuaskan. Sehingga kondisi ekonomi keluarga tidak benar-benar terbantu lewat pertanian ini.

Marthen buka-bukaan bahwa saat itu  kondisi rumahnya masih kecil. Apalagi untuk membiayai kebutuhan sekolah anaknya pas-pasan. Hasil piara sapi dan babi pun satu sampai dua tahun baru bisa dirasakan jika ada yang membeli. Namun jika belum dapat pembeli, maka kedua ternak ini akan makan biaya dalam pemeliharaannya. Karena kedua hewan ini butuh jumlah makanan yag besar setiap harinya. Kerugian lainnya adalah jika kena sakit dan harga jatuh sehingga kedua ternak ini tidak memberi untung. Bahkan modal yang dikeluarkan hanya terbuang percuma.

Dari kondisi inilah maka setelah mengenal sistem budidaya  hortikultura dari Pendeta Markus, dan dilanjutkan dengan pendampingan dari Panah Merah dan Roda Tani, dan hasilnya lumayan Marthen putuskan untuk tidak lanjutkan beternak dan hanya fokus ke budidaya hortikuktura.

“Pertimbangannya, karena saya sudah alami bahwa  hanya dengan modal kecil awalnya yaitu dengan bantuan satu bungkus bibit buncis (tidak sampai sepertiga)  dari pendeta Markus, Marthen dan isteri yang awalnya mencoba bertanam di lahan seluas tiga ratus meter persegi sebagai uji coba, namun ternyata hasilnya bisa sampai dua ratus lima puluh kilo buncis yang bisa hasilkan uang lima juta rupiah hanya dalam jangka waktu dua bulan. Karena buncis biasa dipanen setelah empat puluh lima hari saja. Karena lihat dan rasakan hasil inilah maka kami akhirnya mulai serius mempertimbangkan untuk fokus ke budi daya hortikultura setelah merasakan hasil yang lebih menguntungkan dari pada peternakan.” Ujarnya senang.

“Kami suami isteri berhitung-hitung. Kalau dari hasil piara hewan ternak seperti sapi harus tunggu dua tahun tapi hasilnya paling tinggi empat juta. Tapi biaya beli sapi lima tahun, biaya  makannya kami hitung-hitung bisa sampai belasan juta selama satu dua tahun, belum lagi tenaga,  bisa mencapai dua puluhan juta. Dua tahun baru bisa hasilkan tujuh juta, harga jatuh bisa  sampai lima  juta kalau tidak kena sakit dan  harga turun karena kondisi lain. Begitu juga babi. Piara satu tahun paling laku tiga juta saja. Tapi pakannya jauh melebihi harganya. Makin lama piara makin besar biaya makan, tapi makin turun harga karena pertimbangan pembeli daging makin tua. Sedangkan kalau tanam tomat dan buncis masa tanam sampai panen paling 45 hari sampai dua bulan. Tapi bisa dipanen selama satu bulan. Hasilnya bisa sampai lima tiga tapi modal hanya tidak sampai satu juta. Karena plastik moulsa bisa dipakai sampai setahun masa tanam. Dengan pakai plastik ini akan kurangi biaya penyiangan yaitu, air dan pestisida. Karena plastik moulsa akan menghambat  pertumbuhan rumput atau gulma, penguapan kurang malah jika panas terjadi pengembunan di bagian tanah sehingga kelembaban tanah terjaga, tidak akan kering. Dan jika disiram, penggunaan air berkurang karena terjadi kelembaban maka tanah tidak butuh banyak air. Otomatis biaya menurun. Demikian juga penggunana pupuk. Lebih sedikit. Artinya  menguntungkan sekali sistem penanaman yang diajarkan Panah Merah dan Roda Tani. Akhirnya kami suami isteri putuskan tidak memelihara sapi dan babi lagi. Tapi fokus ke pertanian hortikultura.” Aku Marthen menjelaskan alasan pertimbangan serius ke budi daya hortikultura dan tinggalkan beternak.

Marthen yang didampingi isterinya dan putera keempat  menjelaskan bahwa niat melepaskan piara ternak diseriuskan dengan  menanam dengan lebih luas lahan. Jika awalnya disatu lahan, maka musim tanam kedua, mereka putuskan kelola lahan milik tetangga. Ditambah lahannya sendiri seluas setengah hektar. Sehingga setahun bisa sampai empat kali panen akunya. Dan dari dua tahun geluti dengan serius budi hortikultura, Marthen dan isteri akui sudah hasilkan sekitar dua puluhan juta. Dan bisa biayai pendidikan keempat anaknya bahkan bangun sebuah rumah persis berdempetan dengan rumah lamanya yang kecil.

Keduanya akui sangat bersyukur mengenal Kompas Tani dan pendeta Markus, Panah Merah dan Roda Tani yang membawa sebuah perubahan baik secara ilmu bertani, maupun ekonomi. Dan mereka bertekad akan tetap menekuni profesi ini malah akan lebih serius dengan menambah luas lahan. Mereka juga ingin menabung untuk membeli tanah lagi dan menyewa tenaga bantu untuk menanam lebih banyak dengan varietas lebih beragam. Agar hasil makin banyak.
Keseriusan mereka diwujudkan dengan membangun bak air di kebunnya yang berjarak sertusan meter dari rumah mereka dengan menyedot air dari sumur di samping rumah mereka. Sehingga mengurangi anggaran membeli air tangki.

Diakui pasangan suami isteri ini bahwa ada masa depan bagi keluarganya dari bidang ini. Sehingga mereka bertekad untuk serius menekuninya.

Bahkan cita-cita keduanya ingin lewat pertanian ini bisa kuliahkan semua anak mereka.

Kendala bagi mereka para petani di desa Tunfeu, Kupang Barat adalah sumber air saja dan pendampingan PPL. Para petani butuh itu. Jika pemerintah bisa memberi sumur bor dan pendampingan PPL, maka ia yakin petani akan sejahtera.
“Kami minta perhatian pemerintah pada air dan pendampingan PPL. Kami bisa lanjutkan pertanian kami jika pemerintah mau memperhatikan kebutuhan ini. Kami petani NTT bisa sejahtera jika pemerintah bantu penuhi kebutuhan ini. Kami yakin. Karena tanah NTT subur. Dan bisa beri hasil yang melimpah. Sudah banyak yang buktikan hal itu.” Ujar Marthen di akhir wawancara.  ■■ Juli BR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *