Kepsek SD GMIT Sulamu Bantah “Makan Duit” Beasiswa PIP

0

Oelamasi, Top News NTT, ■■ Kepala SD GMIT Sulamu diadukan orang tua murid ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Kabupaten Kupang.

Pasalnya, sang kepsek dituding ‘makan’ duit beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) puluhan murid pada satuan pendidikan ia pimpin tersebut.

Hal ini diungkapkan orang tua murid kepada wartawan, usai mengadukan ulah kepsek ke Dinas PK di Oelamasi, Senin (4/3/2019) siang.

Weston Lette, salah seorang tua murid mengaku kesal atas pengelolaan beasiswa yang tidak transparan. Puncaknya ia bersama beberapa orang tua murid membawa buku tabungan anak mereka mencari tahu realisasi beasiswa itu pada Bank penyalur.

Dia tuturkan, tiga orang anaknya menerima beasiswa dari tahun 2016 sampai 2018, namun selalu di pangkas, bahkan ada anaknya yang tidak di berikan sepeserpun. Ketiga anaknya, masing – masing Tiara Lette (10), Leonardo Lette (14) dan Rido Lette (15).

Tiara dan Rido jelas dia, mendapat beasiswa Rp 450 ribu namun hanya di kasih Rp 200 ribu, sedangkan Leonardo mendapat Rp 900 ribu, tetapi tidak diberikan sama sekali.

“Saya pikir anak saya sendiri, ternyata ada banyak anak mengalami hal yang sama. Potongan ini dilakukan selama tiga tahun namun didiamkan saja hingga tidak satupun yang tahu kebenarannya. Baru terungkap setelah saya cek rekening ternyata yang seharusnya didapat tidak sebesar yang tertulis dalam bukungan tabungan”, tandas Weston Lette kesal sembari menunjukkan buku tabungan Simpanan Pelajar milik anaknya.

Senada, orang tua murid lainnya Victor Leluk mengungkapkan hal yang sama. Dua anaknya, yakni Kevin Leluk murid kelas IV hanya menerima satu kali saja, padahal nama anaknya sudah masuk dalam daftar penerima beasiswa sejak tahun 2016, dan baru tahun 2018 kemarin di realisasi.

Anaknya yang satu Gracela Leluk yang sekarang telah kelas VII SMP, tidak pernah diberi sama sekali, padahal Gracela sewaktu masih di jenjang SD namanya masuk dalam entri penerima beasiswa.

Victor menuturkan, ia bersama beberapa orang tua murid telah berusaha meminta penjelasan sang kepsek, namun kepsek enggan menemui mereka. Celakanya lagi mereka malah mendapat kata – kata yang kurang enak didengar dari istri kepsek. Tindakan kepsek yang memangkas uang beasiswa murid – murid SD yang seharusnya menjadi hak anak didik agar anak – anak lebih termotivasi dalam belajar sangat ia sesali.

 “Kami benar-benar kecewa sebagai orang tua. Beliau adalah panutan bagi anak didiknya seharusnya bersikap jujur dalam mengunakan uang negara,” ketus Victor

Atas persoalan ini, mereka berharap Dinas PK segera mengaudit keuangan dan memeriksa oknum kepsek tersebut, jika ditemukan penyelewengan secepatnya diproses ke aparat hukum.

“Kami harapkan dinas audit dan periksa karena ini sudah indikasi korupsi. Mudah – mudahan dinas memeriksa secara jujur dan transparan tidak membela dan ada kepentingan lain dibalik masalah ini, biar jelas,” pungkasnya.

Kepsek SD GMIT Sulamu, Panehas Notty dikonfirmasi terpisah via nomor ponselnya, Jumat (8/3) pagi membantah keras dituding orang tua murid makan dana beasiswa tersebut.

Ia mengaku tidak tahu jelas penyaluran beasiswa itu, lantaran baru di lantik menjadi kepsek bulan Desember tahun 2017. Dan usulan nama siswa siswi penerima pun oleh mantan kepsek.

Namun, ia benarkan sudah mendapat panggilan dari dinas untuk klarifikasi pengaduan itu. Menurutnya, mantan kepsek lama bersama seorang guru yang dipercayakan mantan kepsek mencairkan dana PIP juga sudah ia hadirkan kasih penjelasan ke dinas. “Kami sudah menghadap membawa serta bukti – bukti, serah terima waktu orang tua ambil uang itu di dinas. Nanti tinggal dinas panggil mereka untuk kasih pemahaman,” katanya

Menurut dia, proses pencairan beasiswa PIP kala itu lantaran SK penerima bersifat kolektif maka orang tua murid bersepakat percayakan satu guru mencairkan dan bagikan di sekolah. “Waktu itu kan’ masih kolektif. Jadi orang tua sendiri yang bersepakat percayakan satu guru mencairkan supaya mereka terima di sekolah,” jelas Panehas menambahkan buku tabungan siswa pun baru di cetak tahun kemarin, 2018.

Panehas bilang tidak ada pemotongan uang seperti yang dituding orang tua murid, itu cuma salah paham lantaran Juknis beasiswa tahun 2016/2017 peserta didik dari kelas I sampai V mendapat beasiswa untuk dua semester sebesar Rp 450 ribu dan kelas VI diberikan Rp 225 ribu untuk satu semester.

Sedangkan untuk tahun 2017/2018 sebaliknya, peserta didik kelas II sampai VI mendapat Rp 450 ribu selama dua semester, untuk kelas I sebesar Rp 225 ribu untuk satu semester, “tidak ada beasiswa sebesar Rp 900 ribu itu akumulasi dari Rp 450 ribu,” jelas dia.

“Tidak ada pemotongan, itu mereka salah paham. 225 ribu untuk kelas VI yang sudah tamat masuk SMP itu yang sekarang bermasalah. Nah, mereka tuntut harus 450 ribu terus, sedangkan dalam juknis tidak seperti itu. Dan dinas juga nanti panggil mereka untuk kasih penjelasan biar mengerti,” tegasnya. ■■Juli BR

Sumber : Jurnalis Kupang Media.id (brc*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *