Kastaf Presiden RI Febry C.Tetelepta Minta KSP Kawal PSN PLTAL Larantuka Harus Dibangun Oktober 2024

Birokrasi Infrastruktur

JAKARTA, TOPNewsNTT.com||Demikian perintah Deputi I Kepala Staf Kepersidenan RI Bidan Energi dan Investasi Febry C.Tetelepta yang tertuang dalam Notulen Hasil Pertemuan Di KSP (Kantor Staf Presiden) RI tentang Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut Larantuka – Adonara Flores Timur NTT (Selasa, 26/03/2024).

Dalam notulen rapat yang dibagikan secara resmi oleh pemegang Kuasa Direktur PT.Tidal Bridge NTT Andre Koreh dalam pers conference (Kamis, 29/3/2024) tertuang bahwa rapat digelar di Ruang Rapat Utama Gedung Bina Graha Kantor Staf Presidenĺ, Jln. Majapahit, Gambir – Jakarta Pusat Pada hari Selasa, 26 Maret 2024, jam 10.00 wib.

Tujuan rapat adalah membahas 3 materi utama berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Larantuka yaitu,

1. Rencana Pembangunan PLTAL (Pembangkit Listrik Tenaga Arus laut) Larantuka yang sudah tertunda selama 8 tahun.

2. Usulan pembangunan Jembatan Selat Larantuka (Jembatan Pancasila Palmerah) Untuk mendukung PLTAL Larantuka

3. Potensi Dukungan dan kerja sama dalam rangka percepatan pembangunan PLTAL Larantuka

Pertemuan dihadiri oleh Kementrian PUPR (Direktorat Jembatan), Kementrian ESDM,  PT. PLN (Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis), Dirut PT. Tidal Indonesia, Pemda NTT (Kepala Bappeda, Kadis PUPR dan Kadis ESDM).

Dalam pertemuan tersebut, Deputy FEBRY C. TETELEPTA menegaskan bahwa tugas KSP adalah untuk mengawal semua PSN (Proyek Strategis Nasional) yang belum rampung dalam masa pemerintahan Presiden Jokowi, salah satunya adalah rencana Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut Larantuka NTT yang sudah lebih dari 8 tahun belum di realisasikan sejak tahun 2016.

“PLTAL Larantuka ini sudah pernah masuk di RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) 2019-2028. Namun sempat dikeluarkan dari RUPTL 2021-2030 karena FS dari Tidal Bridge belum memenuhi kelayakan keekonomian dari PLN, namun proyek ini juga dalam kerangka kerja sama di bidang energi antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda, sehingga dalam RUPTL 2024-2033 pembangkit listrik tenaga arus laut kembali dimasukkan.” Tegas Febry.

Selain itu, Febry juga mengemukakan, bahwa PLTAL Larantuka telah mendapatkan komitmen pembiayaan dari Bank Pembangunan Belanda (FMO). Namun PT. Tidal Bridge membutuhkan jembatan karena turbin pembangkit energinya akan dipasang di badan jembatan yang akan menghubungkan pulau Flores dan pulau Adonara di NTT.

“Karenanya telah dilakukan berbagai pembicaraan intensif antara PLN, Tidal Bridge dan Kementrian PUPR yang mengerucut pada akan adanya kerja sama Empat Pihak yakni antara PUPR, Pemprov NTT, PT. Tidal Bridge dan PT. PLN.” Ujar Febry.

Dari pertemuan, diperoleh kesimpulan bahwa Pemerintah Pusat melalui Kantor Staf Presiden mendukung dan mendorong agar PLTAL Larantuka dan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah untuk direalisasikan, setelah lebih kurang 8 tahun belum terbangun , padahal proyek ini sebagai Proyek Strategis Nasional. Disamping itu proyek ini juga sebagai tindak lanjut dari HoA ( Head off Agreement ) antara Pemerintah NTT dan Tidal Bridge BV yang ditandatangani di Den Haag antara Gubernur NTT saat itu Bapak Frans Leburaya dan Mr. Eric van den Eijnden sebagai CEO Tidal BV , pada tanggal 22 April 2016 yang disaksikan langsung oleh Presiden Jokowi saat melakukan kunjungan kerja pertamanya di Belanda .

Segala halangan yang menjadi hambatan terbangunnya PLTAL selama lebih kurang 8 tahun, akan diselesaikan melalui kolaborasi Empat Pihak dalam bentuk penandatanganan MOU ( Memorandum of Understanding / Nota Kesepahaman) antara Kementrian PUPR, PT. PLN, PT. TIDAL BRIDGE, dan Pemda Nusa Tenggara Timur untuk durasi waktu perjanjian selama 20 tahun yang akan dibahas kembali menjelang berakhirnya batas waktu tersebut.

MOU tersebut akan memuat berbagai hak dan kewajiban Para Pihak termasuk harga jual energi, kewenangan desain teknik, ketersediaan lahan dan dukungan sosial serta dampak lingkungannya, dukungan pembiayaan , kepemilikan jembatan , keterlibatan warga masyarakat dan transfer teknologi serta kerja sama dengan lembaga pendidkan tinggi lokal, yang semuanya dalam perpektif saling menguntungkan untuk mendukung segera terealisasinya PLTAL Larantuka dan Jembatan Pancasila Palmerah.

Kesiapan Feasibility Study ( FS ), AMDAL dan ESIA , Ketersediaan Dana, Pra Design, RUPTL, Study Conectivity, Second Opinion dari Perguruan Tinggi ITS Surabaya, kesemuanya sudah memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya yakni Penandatanganan MOU dan PKS (perjanjian Kerja sama) untuk seterusnya dilanjutkan dengan Pembuatan Detail Enggering Design (DED) oleh Tidal Bridge dibawah asistensi Kemntrian PUPR, dan Pemasangan Turbin Pilot, sehingga Rencana Ground Breaking paling lambat Oktober 2024 sebelum pergantian Presiden .

PLTAL Larantuka di Jembatan Pancasila Palmerah, adalah salah satu proyek strategis nasional (PSN) yang mendukung program Presiden Jokowi dalam rangka Indonesia memasuki transisi Energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan. Dan jika Proyek ini terealisasi akan menjadi PLTAL pertama di Indonesia bahkan menjadi PLTAL Terbesar di Asia Tenggara, sementara teknologi yang menggantungkan turbin di badan jembatan untuk menghasilkan energi listrik merupakan proyek jembatan pertama di dunia dengan doubel fungsi.

Jembatan ini juga akan menjadi contoh projek (pilot project) bagi Indonesia yang secara geografis terdiri dari gugusan pulau-pulau dan selat di Indonesia memiliki potensi arus laut yang kuat dan berbagai lokasi.

Deputy I KSP; FEBBRY CALVIN TETELEPTA meminta masyarakat NTT khususnya warga Flores Timur dan Pemerintah Nusa Tenggara Timur agar mendukung maksimal terlaksananya proyek ini, karena selain mendapatkan jembatan sebagai sarana konektivitas antar pulau tapi juga mendapatkan energi baru terbarukan yang akan menjadi pendorong atau trigger berbagai sektor pembangunan lainnya seperti pariwisata, perkebunan, perikanan, berbagai sektor industri dan mendorong terjadinya alih teknologi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah.|| jbr