Wayan Darmawa : “Bangun Pariwisata NTT Berbasis Karateristik Budaya”

0

NTT, Top News NTT., ■■ Hal ini dicetuskan Wayan Darmawa (Kadis Pariwisata Provinsi NTT) saat jumpa pers Selasa, 25/6/2019 di ruang rapat Dispar NTT.

Wayan menjelaskan bahwa saat ini pemprov sudah memprogramkan pembangunan pariwisata dengan mengedepankan kareteristik karakter budaya masing-masing daerah. Antara lain dengan membangun dan melestarikan kampung-kampung adat sebagai daya tarik utama baik dari sisi fisik, serta sisi non-fisik dari mulai pintu masuk wilayah pariwisata, destinasi dan kampung adat tersebut adalah penyediaan sarpras pendukung sehingga lebih aksesible namun tanpa merubah atau menghilangkan ciri khas murni kampung adat.

Pemprov NTT melalui Dinas Periwisata NTT, menurut Wayan sudah memulainya  dengan Pembenahan di 4 bidang pendukung  pariwisata yaitu ekonomi, destinasi, dan budaya serta masyarakat yang berwawasan pariwisata. Tujuannya adalah untuk menjadikan pariwisata sebagai prime mover economic masyarakat NTT dimasing-masing wilayah destinasi pariwisata.

Sedangkan secara fisik, sudah diprogramkan dan sedang berjalan, adalah perbaikan  di 30 destinasi pariwisata. Di Kota Kupang ada 7 estate, 2 gua monyet dan Pantai Lasiana. Sedangkan yang baru saja di tanda tangani kontrak untuk perbaikan yaitu  di destinasi wisata Pantai Lasiana.

“Komitmen Dispar paling lambat Juli 2019 perbaikan ke 7 destinasi bisa selesai.” Tandas Wayan Darmawa kepada media.

Kebijakan destinasi wisata yang sangat strategis, menurut Wayan  harus disertai pergub sebagai payung hukum. Sehingga   pembangunan pariwisata dengan basis Dasa Wisata (pemberdayaan), ekonomi kreatif, pariwisata estate yaitu bagaimana keterpaduan antara program pembangunan pariwisata dan destinasinya sendiri harus ada sinkronisasi dan payung hukum. Dan payung hukum itu adalah Pergub. “Dan ranperdanya sedang disusun draftnya untuk diajukan dalam sidang dewan.” Jelasnya.

Prinsip membangun pariwisata NTT adalah dengan membangun destinasi wisata berbasis budaya, sehingga harus dikelola dan dipelihara kampung adat disetiap wilayah.

“Tujuannya adalah agar destinasi wisata budaya bsia terbangun dengan baik dan bisa eksis sesuai perkembangan jaman. Kita sedang membangun destinasi wisata dengan budaya yang terpelihara dengan baik. Kita akan mengadopsi dengan apa yang sudah dilaksanakan didaerah lain. Destinasi budaya harus disakralkan. Dan sudah kami tetapkan bahwa di destinasi wisata Kampung Adat harus disediakan  3 areal terpisah; yaitu  kawasan terdepan (tempat berlangsungnya transasksi ekonomi kreatif), kawasan bagian  tengah atau areal transisi (dimana pengunjung harus sesuaikan pakaian dengan kondisi seperti pakaian adat misalnya), dan areal inti atau areal budaya.” Tandas Wayan bersemangat.

Dari data pariwisata NTT, tercatat sekitar 1.181.000 obyek  wisata di NTT, dan sekitar 40%nya  adalah destinasi wisata budaya.
“Tapi di NTT saya lihat belum ada filisofi budaya di destinasi wisata NTT. Padahal kaya sekali destinasi budaya NTT. Kita akan bangun agar destinasi budaya memberi rasa beda bagi wisatawan. Untuk destinasi alam akan dibangun lebih baik sehingga menjadi menarik. Dan sedang dipersiapkan kerangka kebijakan untuk tujuan itu. Dan sudah mengundang Sumba Hospitalitty.” Imbuhnya pria asal Bali yang sudah jatuh cinta dengan budaya NTT, terutama tenun ikat NTT.

“Pemprov NTT menganggarkan sebesar Rp4,2 m di tahun 2019 untuk rencana program revitalisasi pembangunan destinasi wisata berbasis adat di 21 Kabupaten.” Tandas Wayan menginformasikan.

Model penataan yang akan dilakukan adalah kembalikan ke aslinya. Agar roh kampung adat harus dikembalikan. Tapi mungkin akses jalannya akan ditata dispot yang sangat terjal dan bisa mencelakan.

Wayan menegaskan bahwa membangun pariwisata di NTT tidak boleh seragam harus sesuai karakter budaya masing-masing wilayah. Sehingga dicapai karaktek yang spesifik menurut karakter setiap wilayah. “Kami akan bangun destinasi wisata berkarakter sumba untuk semua seluruh sumba. Dan Pemprov NTT sedang mendorong kontribusi dana desa untuk pembangunan pariwisata di daerah. Sehingga pemprov bisa membangun dengan baik.” Ujarnya.

Selain penataan destinasi wisata dan kampung adat, Dinas Pariwisata Provinsu NTT, akan menunjang promosi pariwisata dengan memotovasi pemerintah kabupaten dan Kota untuk menyelenggarakan berbagai event dengan mengangkat keunikan destinasi, seni dan  budaya yang disetiap daerah.

Dalam bulan Juli ini saja, akan ada even    bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Alor yaitu Festival Dugong.

Dalam festival ini akan ada persemian destinasi yang  diawali dengan pelatihan tour guide dan  pelatihan koki restoran. Dan konsepnya adalah dalam bentuk sarasehan dengan mengundang tamu dari luar NTT dari lintas Kementerian; seperti Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti, Menteri kemaritiman, serta Menteri Pariwisata. Dalam event tersebut juga akan melaunching aplikasi berbasis android dalam pengelolaan sampah.

Festival Ine Rie di Ngada pada tanggal 2-10 Juli 2019. Dengan membranding destinasi-destinasi yang ada didaerah tersebut.

Kemudian Festival Sandlewood dan pameran Tenun Ikat pada Juli 2019 di Sumba Timur, dan tak kalah menarik adalah pada 10-13 Juli 2019  digelar juga Pemilihan Puteri Pariwisata NTT. Dan Event tinju espedisi “The Border Battle 2019” di GOR. Semua upaya ini, jelas Wayan adalah upaya pemerintah Provinsi NTT lewat Dinas Pariwisata NTT untuk membangun ekonomi masyarakat NTT berbasis pariwisata. Atau mewujudkan program Pariwisata sebagai Leaning Secktor ekonomi masyarakat NTT. ■■ Juli BR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *