Dirut PT Tidal Bridge Latief Gau Sebut Pembangunan PLTAL Larantuka Oleh Pemerintah Belanda Berkisar $ US 225 jt (Rp3T), Begini Manfaatnya Untuk NTT

Infrastruktur Internasional

JAKARTA, TOPNewsNTT.Com||Biaya Pembangunan  Pembangkit Listrik Tenaga Arus Air Laut (PLTAL) Larantuka di Jembatan Palmerah Pancasila diperkirakan akan memakan dana sekitar $ US 225 jt (Rp3T) yang didanai Pemerintah Belandan melalui Bank Pembangunan Belanda ( FMO / Nederlandse Financierings -Maatschappij voor Ontwikkelingslanden N.V), dalam bentuk Loan atau pinjaman lunak dengan durasi pinjaman selama 20 tahun. Pembangunan PLTAL di Jembatan Palmerah Pancasila sudah sejak 8 tahun lalu masukkan sebagai Proyek Strategis Nasional, namun tertunda pelaksanaan pembangunannya.

Karena itulah pada 26 Maret 2024 lalu, digelar rapat oleh Kepala Staf Kepresidenan Dirut Utama PT. Tidal Bridge, Latief Gau mengatakan mengapa khusus untuk potensi arus laut di selat sempit Larantuka (selat Gonzalo) yang dipilih menjadi lokasi pembangunan PLTAL di Jembatan Palmerah Pancasila Larantuka, karena menurut BPPT (sekarang BRIN) potensi arus laut di selat ini bisa menghasilkan 300 MW. Sementara potensi arus laut di dunia mencapai 7.800 TWH Yang artinya masih banyak energi arus laut yang belum dieksplorasi secara maksimal sebagai energi untuk kepentingan manusia.

Sementara di Indonesia potensi arus laut juga sangat besar mengingat kondisi geografi Indonesia yang berpulau pulau dan diapit dua samudera, sehingga diantara selat-selatnya terdapat arus laut yang sangat besar untuk digunakan sebagai energi.

Sementara itu teknologi arus laut ini adalah teknologi yang sudah proven sistem atau sudah digunakan di beberapa negara sejak abad 12 di Belanda, di United Kingdom, Perancis, Portugal dan Korea. Dalam perjalanannya, turbin yang digunakan terus berkembang. Dari semula Turbinnya ditanam di dasarlaut menjadi turbin yang mengapung di permukaan laut. Salah satunya adalah Screw Turbin. Turbin ini adalah pilihan turbin yang ramah lingkungan dengan diameter sekitar 8 meter, sehingga memenuhi standar Green Peace agar keberadaan turbin ini tidak mengganggu atau merusak biota laut termasuk ikan- ikan yang ada di selat tersebut. Teknologi yang digunakan adalah memasang turbin dengan digantung di badan jembatan dengan model seperti “ laci meja” yang untuk pemeliharannya bisa dimasukkan dan di keluarkan dari bawah kolong jembatan.

Panjang jembatan adalah 800 meter terdiri dari 250 meter arah Larantuka dan 150 meter arah Adonara adalah Jembatan Sipil (civil Bridge) sedangkan 400 meter di tengah-tengah jembatan adalah Jembatan Tidal (Tidal Bridge) dimana di segmen 400 meter inilah, turbin akan digantungkan untuk menghasilkan energi listrik.

Dengan potensi arus laut di selat sempit Larantuka (selat Gonzalo), menurut BPPT (sekarang BRIN) yang bisa menghasilkan 300 MW, maka pembangunan PLTAL sangat cocok. Pada tahap awal, ujar Gau,  PT. Tidal Bridge akan membangun power plant dengan kapasitas 40 MW yang dibangun secara modular, artinya akan bisa dikembangkan duplikasinya sesuai dengan perkembangan kebutuhan listrik di pulau Flores-Adonara dan sekitarnya.

“Biaya untuk membangun jembatan dan PLTAL ini diperkirakan sekitar $ US 225 jt (Rp. 3T) yang semuanya dibiayai oleh Bank Pembangunan Belanda ( FMO / Nederlandse Financierings -Maatschappij voor Ontwikkelingslanden N.V), dalam bentuk Loan atau pinjaman lunak dengan durasi pinjaman selama 20 tahun. Dan jika sudah dilakukan FEED ( Front End Engeneering and Desaign ), maka FMO akan memberikan hibah sebesar 35% dari total pembiayaan. Artinya sisa pinjaman lunak menjadi lebih kecil yakni 65%. Sementara usia jembatan tersebut di desain untuk 50 tahun ke depan. Dengan demikian pembiayaan pembangunan jembatan dan PLTAL – nya , pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan biaya sama sekali, karena jembatan dan power plantnya akan “membiayai dirinya sendiri “dengan revenew dari hasil penjualan listriknya yang di manfaatkan oleh PLN.” Terang Gau.

PT Tidal Brigde serius mempersiapkan semua syarat kelayakan pembangunan yakni AMDAL (untuk standar Indonesia) dan ESIA (amdal untuk standar Internasional) sudah dilakukan dengan kesimpulan ,Jembatan dan PLTAL Larantuka, layak bangun dan layak lingkungan

Sementara itu yang mewakili Kementrian ESDM menyatakan sangat mendukung keberadaan jembatan tersebut apalgi dengan potensi listrik tenaga arus laut dimana RUPTL untuk tahun 2024-2033 PLTAL sudah dimasukkan kembali. Dengan demikian PT. PLN bisa membeli Arus Listrik dari tenaga arus Laut.|| jbr