Bernadus Apo Ledjo ; Menjadi petani Hortikultura Adalah Pilihan Tepat setelah Pensiun dari PNS

0

 Penfui Timur, Top News NTT., Media ini mengunjungi Bernadus Apo Ledjo (52 tahun), pensiunan PNS Dinkes Provinsi NTT pada Selasa, 13/2/2019 di  kebunnya di desa Penfui Timur.

Dilahan seluas 2.000 m2 yang dibelinya dua tahun sebelun pensiun sebagai PNS di Dinas Kesehatan Provinsi ini, Apo Ledjo (demikian ia disapa), sedang menanam Tomat dan Melon. Kami disambut ramah oleh pria berkulit hitam berbadan tinggi besar asal Flores ini.

Ada sedikit keraguan dalam dirinya atas kedatangan saya sebagai jurnalis walaupun sudah ada komunikasi via telepon sehari sebelumnya tentang tujuan kunjungan saya. Tenang tanpa senyum, pria paruh baya yang memiliki suara bariton bass ini menyalami tangan saya dan mempersiahkan kami duduk pada kursi kayu di pondok kebunnya tempat ia beristirahat jika lelah bekerja di kebun.

Tanaman tomat Bapa Apo Ledjo di Penfui Timur

Dengan sedikit terbata, Apo menjelaskan bahwa ia sudah menekuni dunia pertanian hortikultura sejak tiga tahun lalu (2017) bahkan sebelum dirinya pensiun. Apo memang akui sangat menyukai bidang pertanian dan keputusan menjalani profesi petani adalah karena ia membutuhkan pemasukan lain selain dari gaji PNSnya.

Ia mulai bertani hortikultura pada Juli 2017 saat ketemu petugas Panah Merah. Awalnya Apo menanam Bawang, buncis, cabai Rawit dan Kangkung dengan pendampingan secara rutin oleh petugas Panah Merah dan Roda Tani (Om David) sampai petengahan thn 2018. Dengan berani ia menginvestasikan sekian puluh juta untuk menggali sumur bor dan menara air agar ia bisa membuat instalasi irigasi tetes di lahannya. Apo sangat serius melakukan usaha pertaniam hortikultura ini.

Apo Ledjo di lahan tomat yang berinya tambahan penghasilan melebihi gaji PNS

Bulan Maret thn 2018 diadakan kegiatan Expo Hortikultura dan Panen Simbolis tomat TANTYNA, LABUMADU, Paria RANJAU, ketimun MISANO. Hasil panen tahun 2017 (periode tanam pertama) diperkirakan 7-8 jt saja. Periode tanam kedua (kegiatan expo) total hasil panen mencapai 30-jutaan, periode ketiga tanam Melon 2000 tanaman dengan hasil panen mencapai kurang lebih 24 juta.

Dengan dasar pertimbangan lain, bahwa ia akan masuki masa pensiun dan ia perlu kegiatan ekstra bagi pemeliharaan kesehatannya, mengisi waktu pensiun agar jangan mudah sakit. Dan kebetulan lahan sudah ada sehingga ia mrmberanikan diri memulai usaha pertanian hortikultura karena ada salah satu ponanaannya adalah sarjana pertanian lahan kering yang mengajurkan kepada dirinya untuk mencoba menanam tanaman hortikultura. Bahkan ponaannya ini membantunya dengan pelatihan cara memproduksi sendiri pupuk organik dari kotoran hewan, dedak padi dan limbah organik dari kebun sayurnya tersebut. Bahkan beliau memilik alat/mesin untuk produksi pupuk organik dengan kapasitas produksi satu ton (1000kg) per hari.

Bak penampungan air dari sumur bor dilahan Apo Ledjo sistem irigasi tetes dilahan tomat, melon dan pepaya amerika

Apo dengan bangga menjelaskan bahwa dilahannya sering menjadi kebun pelatihan bagi petani lain dan mahasiswa pertanian.

Diakui Apo bahwa sebelum diberi pendampingan, hasil tidak begitu memuaskan. Namun setelah didampingi oleh Panah Merah, maka hasil panen Tomat dan beberapa varietas sayuran lainnya bisa mencapai Rp. 30  juta rupiah pada musim tanam ke-2.

Demi meningkatkan penghasilannya, pada musim tanam ke-3 Apo akhirnya memutuskan menanam melon. Dengan pertimbangan harga melon di Kupang cukup tinggi dan kebutuhan masyarakat akab melon cukup tinggi terutama di saat musim kemarau, puasa dan hari Natal serta kebutuhan buah melon segar di Hotel, restoran dan Rumah Makan. Apalagi, pendapat Apo bahwa walau belum banyak, namun di Kupang sudah ada resto khusus yang menjual salad buah dan jus.  Sehingga permintaan lebih tinggi dari produksi melon dari NTT, dan para pengusaha ini masih mendatangkan buah melon dari luar NTT.

“Jika kebutuhan buah (melon misalnya) bisa dipenuhi dari NTT, maka petani Hortikultura NTT akan sejahtera. Kita tinggal di bimbing cara budidaya yang benar sehingga kuantitas dan kualitas hasil panen meningkat. Bila perlu kita ekspor keluar NTT. Kita sudah dikategorikan termiskin nomor tiga secara nasional tapi kita impor lagi dari luar. Buang-buang duit dan kita makin miskin. Padahal populasi manusia makin banyak di Kota Kupang dan itu artinya akan makin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Kita, petani NTT yang harus menyediakan itu sehingga penduduk kota ini tidak membeli dari luar. Jika kebutuhan bahan pangan pokok, sayur dan buah terpenuhi dari petani NTT, maka kita akan sejahtera. Pengangguran akan berkurang. Bahkan minus. Stigma kemiskinan akan terhapus. Kita memiliki lahan yang luas, air, tenaga kerja. Tinggal pemerintah ikut mendukung dengan informasi dan pendampingan terkait teknologi tepat guna bagi pengembangan agribisnis hortikultura, program pemberdayaan, pelatihan dan anggaran. Pendampingan PPL sangat penting.” Jelasnya dengan suara setengah parau.

Apo akui bahwa pemerintah sudah lakukan juga tugas mereka walau belum maksimal. Masih banyak kekurangan yang harus dibenahi, namun animo masyarakat sendiri harus ditingkatkan lagi melalui pemberian edukasi dan motivasi kerja. Apo nyatakan bahwa ia paham bahwa mental dan spirit masyarakat NTT sendiri harus dibangunkan dengan edukasi dan motivasi yang terus menerus seperti yang dilakukan oleh Heri Heriyanto dari Roda Tani, sebutnya. Ia memiliki alasan kuat bahwa mental kerja seseorang bisa di bangkitkan dengan motivasi yang benar dan tepat. Jika mental kerja masih tidur maka akan sangat sulit seseorang bisa berhasil dalam usahanya.

“Pemberian motivasi adalah tugas utama pemerintah NTT jika ingin dunia pertanian bangkit dan petani sejahtera. Dana dan program tidaklah cukup. Pendampingan PPL dan informasi terkait segala aspek yang berhubungan dengan managemen pertanian hortikultura juga harus intens. Jangan terputus sehingga intelektual petani juga meningkat. Agar kita di NTT menjadi petani intelektual sehingga mampu meningkatkan produksi pertanian demi menjawab kebutuhan masyarakat yang tinggi.” Tandasnya bersemangat.

Lahan Tomat harapan Apo Ledjo

Percakapan makin hangat dengan ekspresi Apo yang mulai tersenyum tipis. Ia Juga berpendapat intervensi pemerintah NTT dalam proses pemasaran juga sangat penting yaitu pengendalian harga, pembatasan jumlah impor, dan penataan pusat wilayah produksi pertanian sesuai karateristik hasil pertanian. Tujuannya, jelas Apo menarik orang berbelanja ke pusat produksi sehingga terjadi perputaran uang di desa karena adanya transaksi di wilayah produksi pertanian dan memangkas biaya-biaya pemasaran. Jadi pembeli yang datang ke pusat pertanian. Bukan petani ke pasar atau ke pembeli lagi. Dengan demikian harga bisa dipertahankan pada posisi yang balance, dengan harapan petani sejahtera. Jika dikaitkan dengan program pemerintah Provinsi yaitu menjadikan pariwisata sebagai lokomotif perekonomian Masyarakat NTT, menurut Apo, Pertanian Hortikuktura bisa dijadikan Argo Wisata. Wisatawan maupun masyarakat pembeli akan berbelanja sambil berwisata di wilayah pusat pertanian langsung. Kunjungan ke desa atau lahan pertanian bisa meningkat. Ini kan salah satu daya tarik terbesar bagi wisatawan.
“Banyak hal yang bisa dibuat dari bidang petanian hortikultura jika pemerintah jeli melihat potensi NTT. Kita kaya, tinggal tunggu kerja sama yang baik dari semua komponen masyarakat, pemerintah dan stake holder untuk menghilangkan stigma miskin.” Jelasnya singkat.

Apo bahkan berniat anak-anaknya diharapkan kesediaan mereka ikut mengelola bidang pertanian hortikulturanya. Karena ia dan keluarga sudah merasakan hasilnya. Dimusim tanam awal 2019 ini,  Apo akui sudah punya target berapa hasil yang ingin dicapainya dari panen kali ini.

Ia juga mengapresiasi pendampingan yang sudah diberikan oleh Panah Merah dan Roda Tani dan berharap akan terus dilakukan sehingga makin banyak petani bahkan masyarakat yang memiliki lahan agar mau memgolah tanah mereka dengan budidaya hortikuktura sayuran. Karena ia sudah merasakan hasilnya.

Kepada masyarakat NTT, Apo memotivasi agar jangan gengsi tapi rajin, tekun bekerja keras dan jangan ragu mencoba budidaya hortikultura sayuran.■■ juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *