Arnoldus Naiusu (Petani Hortikultura) Asal Belu, Raup Rp.60 Juta Setahun Setelah Didampingi Panah Merah Dan Nufarm

0

Atambua, Topnewsntt.com., Bapa Arnoldus Naiusu adalah figur sederhana berpendidikan SD saja, namun setelah diajak berbicara oleh media ini, ternyata punya wawasan berpikir yang cukup hebat sebagai petani. Cara pandang yang berubah setelah kenal Panah Merah dan Nufarm dan bisa hasilkan Rp.60 juta setahun dari 3 kali panen tanaman tomat dan cabe. Lahannya seluas 2 hektar di Desa Kabuna, kecamatan Kalukuk Mesak, Belu. saat ini sedang ditanami Tomat, Cabe dan Kol Bunga. Dengan didampingi pendamping Jose dari Panah Merah, Media ini mewawancarai Bapa Arnoldus dilahannya.

Ketua Kelompok Tani Manebala berusia 40 sejak 2004 menjadi petani di lahan seluas 2 hektar yang sejak awal menanam tomat lokal dan cabe. Hasilnya belum memuaskan dan pada 2015 akhir dipertemukan dengan Engky Bria. Saat itu Engky Bria sedang promosikan produk bibit dan pupuk yang dijual di toko Roda Tani dan akhirnya putuskan menanam bibit tomat  dari Panah Merah dan pada awal panen peroleh hasil Rp.15 juta dari tomat. Dan dari cabe Bapa Arnoldus peroleh hasil sebesar Rp.40  juta.
Sedangkan sebelumnya hanya peroleh paling tidak lebih dari Rp.20 juta. Setelah mengenal pola pertanian dengan pendampingan dari Panah Merah (Engky Bria, Eben, dan Agus), Nufarm (Lukman)  dan Roda Tani (Herry Hariyanto dan Engky Bria) dan saat ini didampingi oleh Jose dan Samson, maka diperoleh teknologi baru bagaimana cara menanam yang baik dan benar, pemberian pupuk dan pestisida dengan ukuran dan waktu yang tepat. Walau areal dikurangi namun hasilnya lebih besar yaitu Rp.25 juta. Dan lebih untuk dibandingkan sebelumnya menanam di luasan 2 hektar tapi hasilnya hanya Rp.15 juta. Bapa Arnoldus nyatakan ini tunjukkan bahwa ada perbedaan hasil antara teknologi yang beda dari Panah Merah, Roda Tani dan Nufarm maka lebih besar. Dengan bibit dari Panah Merah lebih menjamin kualitas hasil panen. Ia juga sempat menambah jenis hortikultura  kol bunga selain cabe dan tomat.

Arnoldus juga memuji kualitas bibit cap Panah Merah yang beda dengan produksi perusahaan lain. Dan selama ini bibit di dapat dari sisa panen yang terbaik dan dirasakan kurang berkualitas.

Lahan Tomat dan Cabe Bapa Arnoldus Naiusu di desa Kenebibi, Kaluluk Mesak, Belu0

Modal penanaman khusus sebelum kenal Panah Merah maka mereka harus siapkan modal sekitar Rp.500 – 1.000.000. Walaupun modal tanam setelah pakai metode tanam dari Panah Merah, memang agak meningkat namun hasil juga meningkat. Misalnya dari modal Rp.5 juta, hasilnya bisa sampai Rp.30 juta diareal hanya 50 are. Arnoldus nyatakan jika luasan lahan ditambah maka hasilnya makin besa.

Anggota kelompok tani Manebala menurut Arnoldus semuanya ikut menanam di areal masing-masing dengan gunakan bibit Panah Merah, pupuk dan pestisida Nufarm. Dan setelah dirinya ikut Expo yang diadakan oleh Panah Merah di Jakarta, maka anggota kelompok tani lain mulai berminat. “Setelah pulang dari lomba Panah Merah, maka saya berusaha memberi motivasi yang mampu mempengaruhi anggota kelompok lain untuk ikut menanam dengan teknologi budi daya pertanian dari Panah Merah, Nufarm dan Roda Tani agar peroleh hasil yang lebih berkualitas dan banyak. Dan ajakannya  berhasil mempengaruhi beberapa anggota walau tidak semuanya yang akhirnya ikut bercocok tanam hortikultura jenis tomat, cabe, kol bunga.

Arnoldus dengan bangga menyatakan bahwa teknik budi daya pertanian yang diajarkan Panah Merah dan Nufarm serta motivasi dari Roda Tani diakuinya mampu merubah pola pikirnya dan teman-teman bahwa pola konvesional yang selama ini dijalankan petani adalah kunci ketidakberhasilan mereka dalam meningkatkan kuantintas dan kualitas hasil panen. Dan setelah mereka mengenal teknik budi daya baru, dengan gunakan sistem penyiapan lahan, penanaman bibit, pemberian pupuk pestisida dan perawatan tanaman serta mengenal penyakit dan hama tanaman serta penanganannya, maka hasil panen lebih meningkat baik dari aspek jumlah maupun kualitas yang otomatis berpengaruh pada jumlah uang yang dihasilkan.

Bapa Arnoldus berharap pola pendampingan dari Panah Merah, Nufarm dan Roda Tani bisa tetap berlanjut. Bahkan berharap pemerintah lewat pendampingan dengan teknologi pertanian tepat guna budi daya hortikultura. Dan juga ketersediaan pupuk bersubsidi,  pestisida, bibit dan sumber air. Dan mungkin bantuan alat kerja traktor, pompa air dan fiber agar mempermudah petani dalam mengolah pertanian. Arnoldus akui kecewa terhadap pemerintah kabupaten Belu karena sangat tidak respon terhadap permintaan petani. Bahkan walaupun di lagannya ini sudah pernah laksanakan panen raya bawang merah sampai tiga kali namun sama saja. Hanya janji saja diata dikertas dan kepada media. Sehingga dirinya memotivasi dirinya dan anggota kelompok taninya agar tetap saja berusaha tanpa harapkan pemerintah. Agar jangan hidup tergantung kepada mereka. Hidup tetap dijalani dengan kerja keras. Tanpa berharap pada pemerintah. Bahkan Bapa Arnoldus sudab rencanakan akan perluas lahan tanam dan perbanyak junlah tanaman dan jenis hortikultura yang akan ditanam agat bisa peroleh hasil yang banyak dan sisipkan untuk beli beberapa peralatan seperti hand tractor, instalansi irigasi tetes, dan pompa air agar mempermudah usaha pertanian dan bahkan memperbanyak hasil. Bapa Arnoldus berniat menjalani usaha pertanian dengan lebih modern sehingga mengurangi penggunaan tanaga manual karena disadarinya usia makin tua maka aka makin lemah kemampuan fisik. Dan usaha pertanian ini direncanakan agar bisa diteruskan kepada anak-anaknya kelak setelah mereka wisuda.

Bapa Arnoldus memiliki 4 putera yang diharapkan bisa mengambil jurusan pertanian sehingga jadi penerusnya. Sehingga ia menggenjot dirinya untuk bekerja keras demi membiayai pendidikan anak-anaknya.. ia ingin agar anak-anaknya menjadi petani modern dan intelektual. Pertanian ini menurut Bapa Arnoldus bisa menjadi bisnis pertanian.

Sejak 2015 akhir sejak ketemu Panah Merah, Nufarm dan Roda Tani kisah Bapa Arnoldus hingga November 2018 ini setahun bisa hasilkan 3 kali panen dan setiap panen bisa terkumpul 20-an juta sehingga  sudah hasilkan Rp.60 juta. Sebelum dengan teknologi baru setahun 2 kali panen dan sekali panen hasilkan Rp.12 juta sehingga dua kali panen Rp. 24 juta. Setelah kenal Panah Merah dkk maka panen bisa tiga kali dan sekaki panen bisa hasilkan Rp. 20 juta. Sehingga setahun bisa hasilkan Rp.60 juta. Peningkatan ini menurut Bapa Arnoldus membuatnya makin bersemangat. Bahkan dari hasil panen sudah bisa beli motor honda seharga Rp.18 juta yang sebelumnya tidak bisa dibayangkan mampu di belinya.

Apresiasi lain kepada Panah Merah dan Nufarm serta Roda Tani, Bapa Arnoldus bahwa mereka selalu hadir saat dibutuhkan. **)) juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *